Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
SYARAT UNTUK MENUAI
Ruang Remaja
"Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang lain,
Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
Tetapi jika kamu tidak mengampuni orang lain,
Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
Matius 6:14-15(TB)
Kisah Corrie ten Boom: Dari Trauma Menuju Pemulihan
Corrie ten Boom adalah seorang wanita Belanda yang terkenal karena keberaniannya menyelamatkan orang-orang Yahudi selama Perang Dunia II. Bersama keluarganya, ia menyembunyikan banyak orang Yahudi di rumahnya untuk melindungi mereka dari penangkapan oleh Nazi. Namun, mereka akhirnya ditangkap dan Corrie serta saudarinya, Betsie, dipenjara di kamp konsentrasi.
Selama di kamp, Corrie dan Betsie mengalami penderitaan yang luar biasa. Betsie meninggal di kamp, meninggalkan Corrie dengan rasa kehilangan yang dalam. Setelah perang berakhir, Corrie bertekad untuk menyebarkan pesan pengampunan. Dia mengunjungi berbagai tempat untuk berbagi kisahnya dan mengajarkan pentingnya mengampuni, bahkan kepada mereka yang telah menyakiti kita.
Suatu ketika, saat berbicara di sebuah acara, Corrie bertemu dengan seorang mantan penjaga kamp yang meminta pengampunan. Meskipun hatinya dipenuhi dengan rasa sakit dan kemarahan, ia memutuskan untuk menaklukkan perasaan-perasaan tersebut, dan memilih untuk mengampuni. Apa yang terjadi kemudian? Dia merasakan beban yang sangat berat terangkat dari bahunya dan menemukan kedamaian yang dalam.
Apa kata Alkitab?
Matius 6:14-15 mengajarkan kita bahwa pengampunan adalah bagian penting dari iman kita. Kisah Corrie ten Boom menunjukkan bagaimana pengampunan dapat membawa pemulihan, tidak hanya bagi orang yang kita ampuni, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Meskipun Corrie mengalami trauma yang berat, dia memilih untuk mengampuni dan menemukan kekuatan rohani dalam tindakan tersebut.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sobat Warta, pengampunan adalah kunci untuk membebaskan diri dari beban emosional dan menemukan kedamaian. Jangan biarkan rasa sakit masa lalu menghalangi kita untuk melangkah maju. Dengan mengampuni, kita tidak hanya mengikuti ajaran Tuhan, tetapi juga membuka pintu untuk pemulihan dan kebahagiaan dalam hidup kita.(MA).
"Pengampunan adalah jembatan menuju kedamaian dan pemulihan."
Corrie ten Boom
Dunia Kita
Mutiara adalah salah satu permata alam yang paling berharga dan memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan batu permata lain yang harus ditambang dari dalam bumi, mutiara adalah satu-satunya permata yang dihasilkan oleh makhluk hidup, yaitu tiram dan kerang tertentu. Keindahan dan keunikannya telah menjadikan mutiara simbol kemurnian, kebijaksanaan, dan kekayaan sejak zaman kuno. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang mutiara yang mungkin belum banyak diketahui:
1. Satu-Satunya Permata yang Berasal dari Makhluk Hidup
Tidak seperti berlian, zamrud, atau batu permata lainnya yang berasal dari dalam bumi dan membutuhkan proses pemotongan serta pemolesan, mutiara terbentuk secara alami di dalam tubuh tiram atau kerang. Ketika benda asing, seperti pasir atau parasit, masuk ke dalam cangkangnya, kerang akan menghasilkan lapisan nacre (zat mengilap yang membentuk mutiara) untuk melindungi dirinya. Proses ini berlangsung selama bertahun-tahun hingga terbentuk mutiara yang indah.
2. Butuh Bertahun-Tahun untuk Membentuk Satu Mutiara
Pembentukan mutiara bukanlah proses yang instan. Untuk menghasilkan mutiara berkualitas tinggi, seekor tiram bisa memerlukan waktu 2 hingga 5 tahun. Semakin lama proses ini berlangsung, semakin besar dan semakin tinggi kualitas mutiara yang dihasilkan. Oleh karena itu, mutiara yang terbentuk secara alami sangat langka dan berharga tinggi.
3. Tidak Semua Tiram Menghasilkan Mutiara
Meskipun tiram dikenal sebagai penghasil mutiara, tidak semua spesies tiram dapat menghasilkan permata ini. Dari ribuan tiram di lautan, hanya beberapa spesies yang memiliki kemampuan untuk membentuk mutiara yang bernilai. Bahkan, di alam liar, hanya sekitar satu dari 10.000 tiram yang bisa menghasilkan mutiara berkualitas tinggi.
4. Mutiara Alami Lebih Langka Dibandingkan yang Dibudidayakan
Saat ini, sebagian besar mutiara yang beredar di pasaran adalah mutiara hasil budidaya. Proses budidaya dilakukan dengan memasukkan inti kecil ke dalam tubuh tiram untuk merangsang pembentukan mutiara. Meskipun hasilnya tetap indah, mutiara alami yang terbentuk tanpa campur tangan manusia jauh lebih langka dan bernilai tinggi.
5. Ada Berbagai Warna Mutiara
Banyak orang mengira bahwa mutiara hanya berwarna putih atau krem, padahal ada berbagai variasi warna alami, seperti hitam, emas, biru, hingga ungu. Warna mutiara dipengaruhi oleh jenis tiram, kondisi lingkungan, serta kandungan mineral dalam air tempat mereka hidup. Salah satu jenis mutiara paling langka dan mahal adalah mutiara hitam Tahiti yang memiliki warna unik dan eksotis.
APA KATA ALKITAB TENTANG MUTIARA?
Mutiara sering digunakan dalam Alkitab sebagai simbol sesuatu yang sangat berharga dan bernilai tinggi, terutama dalam kaitannya dengan kerajaan surga. Salah satu perumpamaan terkenal yang menyebut mutiara adalah:
"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga,
ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Matius 13:45-46 (TB)
Ayat ini mengajarkan bahwa kerajaan surga adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan lebih berharga daripada harta duniawi. Seperti seorang pedagang yang rela menjual semua miliknya demi mendapatkan mutiara terbaik, demikian pula kita seharusnya mengutamakan Tuhan di atas segalanya dalam hidup kita.
Mutiara mengajarkan kita bahwa keindahan bisa muncul dari proses yang sulit dan menyakitkan, seperti bagaimana benda asing yang masuk ke dalam tubuh tiram akhirnya menjadi sesuatu yang berharga. Hal ini dapat menjadi pengingat bahwa Tuhan dapat mengubah penderitaan dan tantangan dalam hidup kita menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.(MA).
Ruang Kesaksian
“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Sebab, Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan mencambuk orang yang diterima-Nya sebagai anak."
Ibrani 12:6(TB)
Perkenalkan nama saya Lince, pernikahan saya dengan King King Candra telah dikarunia dengan dua orang anak; putra dan putri. Dalam kesempatan ini saya ingin bersaksi akan kebaikan Tuhan yang telah Tuhan kerjakan bagi suami saya.
Pada tanggal 20 Desember 2022 saat berada di kantor, tiba tiba perut bagian kanan suami saya terasa sakit. Segera dia ke toilet, karena pikirnya akan membaik setelah buang air besar. Namun rasa sakit perutnya semakin menjadi, tubuhnya menjadi lemas bahkan dia sampai berjalan membungkuk menahan sakitnya. Sampai-sampai teman kantornya harus membantunya keluar dari kamar mandi dengan memapahnya. Akhirnya suami saya diijinkan pulang oleh atasannya untuk dapat beristirahat dan pergi berobat.
Karena jarak rumah kami di Tangerang jauh dari tempat kerja suami yang di Bekasi, maka dia pulang ke kostnya. Sesampai di kost, suami saya sempat berpikir bagaimana cara dia harus berobat, sedangkan di BPJS masih terdapat tunggakan 12 juta. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman dari kantor.
Namun kantor tidak langsung memberikan pinjaman tersebut, bahkan diarahkan untuk menggunakan JKS saja. Jujur saat itu, suami saya merasa hampir putus asa. Untuk menahan rasa sakitnya, dia sampai harus meminum obat warung. Keadaannya semakin tidak membaik, bahkan malam itu ketika sedang buang air kecil dia mengeluarkan darah.
Dengan paniknya suami langsung menghubungi saya dan menceritakan keadaannya. Mendengar hal itu sebagai seorang istri saya sangat sedih dan takut. Kami juga tidak ada biaya untuk berobat ke dokter. Segera saya menghubungi mama mertua dan sambil menangis saya menceritakan keadaan suami kepada mama. Puji Tuhan, beliau bersedia membantu biayanya.
Keesokan paginya, mama mertua meminta adik ipar untuk mengantar saya ke kost suami di Bekasi, untuk menjemputnya berobat ke dokter. Saya melihat keadaannya sudah sangat lemah, tubuhnya keluar keringat dingin dengan wajah yang pucat dan jalannya juga sudah membungkuk. Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah terlambat menolong kami, akhirnya kami tidak jadi dibantu oleh mama karena kantor akhirnya memberikan pinjaman, sehingga kami dapat membayar tunggakan BPJS.
Setibanya kami di RS, dokter jaga mengatakan bahwa ruangan IGD sudah penuh. Saya sempat berpikir bagaimana bila waktu menunggunya lama, saya khawatir dan takut akan keselamatan suami saya yang kelihatan kondisinya sudah kritis. Saya berdoa dalam hati memohon pertolongan Tuhan agar ia dapat segera ditangani. Saya kembali ke ruangan IGD dan menanyakan apakah sudah ada ruangan yang kosong, atau paling tidak dapat segera diperiksa dahulu karena saya sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya suami saya dapat ditangani dokter. Saya langsung mengurus surat administrasi. Dokter jaga mengatakan bahwa leukosit suami saya sangat tinggi mencapai 44 ribu, sedangkan normalnya 12 ribu. Dokter sampai terheran-heran, harusnya suami saya sudah tidak sadarkan diri.
Saya percaya bahwa ini semua karena campur tangan Tuhan. Dialah yang menyertai suami saya hingga saat ini. Sesaat itu saya dapat menyaksikan suami saya begitu kesakitan ketika selang di masukan ke dalam hidungnya. Saya tidak tega melihatnya dan kasihan karena selama ini dia belum pernah mengalami seperti ini, paling hanya sakit masuk angin biasa, tidak enak badan dan maag yang kambuh.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan, rontgen, cek darah dan rekam jantung, akhirnya dokter mengatakan harus rawat inap. Karena hasil diagnosanya, suani mengalami usus buntu kritis maka tindakan operasi akan dilakukan pada esok harinya.
Tanggal 21 Desember 2022, dokter bedah datang dan melihat hasil rontgennya. Dokter mengatakan harus segera dilakukan operasi. Kami berdoa memohon pengampunan Tuhan, agar Tuhan ambil alih dan meminta penyertaan campur tangan Tuhan agar yang terbaik dapat terjadi.
Selesai berdoa, suami masuk ke ruang operasi, saya menunggu dengan cemas selama beberapa jam. Sebagai manusia saya mulai merasa khawatir, kenapa belum selesai operasinya? Setelah menunggu hingga 3 jam, akhirnya saya mendengar panggilan untuk keluarga suami. Dokter yang memanggil mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang operasi dan menjelaskan bahwa usus buntu suami saya sudah pecah, pihak dokter sudah melakukan semaksimal mungkin, kondisinya sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Bagian usus sudah ada abses (banyak nanah diusus kecilnya), namun tidak sampai dipotong. Diperkirakan sudah pecah selama 5 hari.
Saya hanya dapat menahan air mata dan berseru kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya. Kemudian saya bertanya, “Sekarang bagaimana dok, apakah setelah operasi keadaan suami saya akan membaik?” Dokter tidak menjawab, hanya merekomendasikan agar dapat di rawat di ICU, karena napasnya agak tersengal sedikit, jadi harus dirawat dengan lebih intensif. Kondisnya belum siuman, saya begitu takut.
Begitu banyak kekhawatiran serta bayangan ketakutan yang terlintas. Apabila sampai terjadi sesuatu yang membahayakan suami, bagaimana dengan kehidupan saya dan anak-anak.Tetapi Roh Kudus mengingatkan saya untuk tetap berdoa dan berkata suami saya dalam keadaan baik-baik saja.
Keesokan harinya, saya melihat dia sudah siuman dan dapat mengenali saya, hanya karena mulutnya terdapat selang sehingga suaranya tidak jelas. Saya bisikan ke telinganya: “Papi pasti sembuh, ada anak-anak papi yang sedang menunggu dan Tuhan pasti tolong.” Ia mengangguk sambil mengeluarkan air mata. Setelah dua hari kemudian, akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Puji Tuhan, Tuhan sungguh baik. Selesai operasi dia hanya diijinkan minum 1 sendok setiap 1 jam sekali.
Karena saya mengikuti saran dari dokter untuk tidak memberikanya minum, kami sempat bersitegang karena ia sempat marah karena permintaannya tidak dituruti. Setelah satu hari, akhirnya diperbolehkan untuk minum setengah gelas, dan setiap harinya dapat lebih banyak lagi. Untuk ke kamar kecil juga dia dapat sendiri, tetapi untuk buang air besar masih takut sampai menangis.
Kami masuk ke dalam kamar kecil bersama-sama dan berdoa, bila Tuhan sudah menolong menyertai saat operasi, kami percaya Tuhan juga pasti menolong untuk dapat buang air besar. Puji Tuhan, Tuhan menjawab doa kami akhirnya suami dapat buang air besar.
Setelah 5 hari di RS, dia diijinkan pulang, namun selang dua hari napasnya kembali sesak, dan harus kembali di rawat selama satu minggu untuk terapi uap sampai kondisinya baik. Kemudian saya melihat perut suami saya timbul abses (nanah). Saya pun segera membawa suami berobat ke RS, tetapi karena kami menggunakan BPJS, antriannya sangat lama. Saya melihat nanah yang keluar semakin banyak. Saya sangat takut, ketika dokter mengatakan harus kembali di operasi. Padahal sebelumnya suami saya sudah dinyatakan baik.
Di sini suami saya mulai merasa kecewa, mengapa harus terulang lagi. Ia merasakan takut dan khawatir. Saat dokter mengambil sample darah, suami menanyakan apakah dia harus melakukan operasi kembali? Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa dokter hanya akan melakukan operasi kecil saja untuk nanah yang keluar, padahal dalam hati sayapun merasa takut. Namun sebagai seorang istri saya harus terus menguatkan sekalipun sebagai manusia saya sering khawatir.
Saya hanya dapat berserah dan berdoa kepada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang menolong. Dialah Allah yang menyembuhkan dengan sempurna, sekalipun ini adalah operasi yang ke dua.
Saat malam sebelum operasi tiba-tiba nanah yang ada diperutnya muncrat seperti air mancur. Saya terkejut, sampai bertanya: ‘Apa lagi ini Tuhan?’ Saya minta bantuan perawat, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya mereka menghubungi dokter bedah.
Saya terus berdoa kepada Tuhan, sambil terus menguatkan suami: “Kamu akan baik-baik saja, pasti sembuh.” Tindakan operasi akan dilakukan pada pukul 10 pagi. Setelah abses (nanah) selesai dibersihkan, lalu dipasang selang dibagian kanan dan kiri perut agar abses dapat keluar melalui kantong stoma.
Dalam keadaan itu, Tuhan ijinkan kami untuk bertemu dengan anak Tuhan yang kebetulan juga di rawat satu ruangan dengan suami. Kami memuji dan menyembah Tuhan dengan sungguh. Tanpa sengaja ia memutar firman Tuhan dari Youtube dan hamba Tuhan nya sedang mengatakan: “Saya merasakan ada seseorang yang sakit dibagian perutnya, Tuhan ingin jamah, Tuhan pasti sembuhkan.” Kata-kata itu telah membangkitkan iman kami dan apa yang dikatakan hamba Tuhan itu sama persis dengan apa yang suami saya alami. Saya percaya ini bukan suatu kebetulan. Hamba Tuhan tersebut selanjutnya berkata: "Setiap rasa kecewa, kesal, dari semuanya ini Tuhan ingin membentuk Anda dan ingin memperbaharui."
Mendengar kata-kata itu saya dan suami menangis sejadi-jadinya, memohon pengampunan kepada Tuhan dan memohon kesembuhan terjadi dengan sempurna. Saya berdoa agar Tuhan dapat menyembuhkan suami saya agar Tuhan boleh pakai suami saya bagi kemuliaan-Nya.
Malam itu ketika kami sharing, kami kembali digerakan untuk menyembah Tuhan bersama-sama dalam ruangan itu. Kami memohon pengampunan dari Tuhan, sungguh kami rasakan hadirat-Nya yang begitu indah, sampai tidak ingin berhenti rasanya.
Tuhan Yesus baik, mujizat-Nya pasti terjadi orang-orang yang mengandalkan Dia, yang percaya dan berserah kepada-Nya. Tidak terasa 9 hari berlalu, akhirnya suami diperbolehkan pulang. Pesan dari dokter setiap hari kantung stoma harus dibersihkan.
Saya mengantar suami untuk kontrol setiap minggunya, sampai abses mengering. Kantong stoma boleh dilepas walau belum kering benar, karena selang stoma jika terlalu lama diperut, dikhawatirkan akan mengakibatkan infeksi, jadi terpaksa harus dilepas sekalipun masih ada sedkit cairan.
Setelah beberapa minggu suami melihat pusernya terlihat kekuningan seperti abses. Kami pun menghubungi dokter. Setelah check up dan rontgen, ternyata terdapat abses kembali. Akan tetapi kali ini hanya di luar perut, bukan di bagian dalam, sehingga hanya dilakukan operasi kecil saja.
Kami berdoa agar operasi yang ketiga ini berjalan lancar. Kami tetap berserah dan berharap penuh kepada Tuhan memohon tuntunan Roh Kudus. Jujur saat itu saya agak sedih; kenapa Tuhan mengijinkan sampai terjadi operasi ke 3 kalinya, namun saya seperti mendengar suara yang mengatakan bahwa semua akan baik baik saja. Hati saya kembali tenang, operasi berjalan dengan lancar selama setengah jam dan suami saya dalam keadaan sehat.
Puji Tuhan, melalui situasi ini kami semakin hari semakin dekat dengan Tuhan. Setiap pagi kami mulai dengan mezbah doa, saat teduh, seperti yang kami lakukan ketika waktu di RS. Kami selalu berdoa bersama-sama setiap pagi. Saya percaya Tuhan ijinkan melalui penyakit suami, membuat hubungan kami dengan Tuhan diperbaiki, kami semakin dekat dan mengasihi Tuhan, hingga setelah kami pulang suami saya terus menyaksikan kebaikan Tuhan kepada setiap teman-temannya.
Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi, Tuhan pasti punya sesuatu yang baik untuk suami saya. Tuhan ubahkan dia yang tadinya suka emosi dan marah-marah kini menjadi sosok yang sabar dan lembut. Bahkan ketika perutnya saya pikir sudah baik-baik saja, masih terlihat seperti nampak ada nanah kecil. Namun kali ini respon kami berbeda, kami tidak lagi merasa takut, karena kami tahu bahwa Tuhan telah menyembuhkan. Haleluya, Amin.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.