Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
MEMBERI YANG TERBAIK
Ruang Remaja

"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."
Roma 12:11 (TB)
Kisah Carol Dweck: Kekuatan 'Belum'
Di dunia pendidikan dan psikologi, ada seorang profesor bernama Carol Dweck. Selama puluhan tahun, ia meneliti mengapa beberapa siswa berhasil bangkit dari kegagalan sementara yang lain menyerah. Kesimpulan Dweck mempopulerkan konsep yang kini dikenal sebagai "Growth Mindset" (Pola Pikir Bertumbuh).
Dweck menemukan bahwa perbedaan terbesar antara orang yang sukses dan yang menyerah bukanlah pada IQ atau bakat bawaan mereka, melainkan pada cara mereka merespons kegagalan.
Orang dengan Fixed Mindset (Pola Pikir Tetap) percaya bahwa bakat dan kecerdasan mereka adalah sifat tetap—jika mereka gagal, itu berarti mereka bodoh dan tidak bisa berubah. Akibatnya, mereka menghindari tantangan.
Sebaliknya, orang dengan Growth Mindset percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan mereka dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Ketika mereka gagal, mereka tidak berkata, "Aku tidak bisa," tetapi, "Aku belum bisa."
Dweck mencontohkan kisah siswa yang awalnya memiliki nilai buruk. Ketika diajari untuk menggunakan kata "belum" setelah kegagalan, mereka mulai melihat nilai buruk itu bukan sebagai akhir, tetapi sebagai umpan balik yang memberi tahu mereka bahwa mereka perlu mencoba strategi belajar yang berbeda. Dengan mengubah pola pikir kecil ini, para siswa tersebut menunjukkan peningkatan akademik yang drastis.
Kisah Dweck mengajarkan kita bahwa kekalahan bukanlah vonis akhir, melainkan adalah bagian penting dari proses belajar yang harus kita layani dengan semangat menyala-nyala.
Relevansi dengan Alkitab: Roh yang Menyala-Nyala
Konsep Growth Mindset sangat selaras dengan ajakan Rasul Paulus dalam Roma 12:11. Paulus tidak hanya meminta kita untuk rajin, tetapi juga memastikan roh kita menyala-nyala saat melayani.
Ketika kita memiliki Fixed Mindset, roh kita cenderung "padam" saat kita gagal. Kita menjadi kendor dan kehilangan semangat karena kita percaya kegagalan itu permanen.
Sebaliknya, Growth Mindset adalah cara pandang yang penuh iman:
1. Kerajinan tidak kendor
Kita terus mencoba dan bereksperimen dengan cara baru.
2. Roh menyala-nyala
Kita melihat setiap kegagalan sebagai kesempatan Tuhan untuk mengajar kita, yang membuat semangat kita terus menyala untuk melayani dan berproses.
Tuhan tidak pernah menjanjikan perjalanan yang mulus, tetapi Dia menjanjikan bahwa roh yang ada di dalam kita akan selalu lebih kuat daripada tantangan di luar kita. Dengan memeluk kata "belum", kita membuka diri terhadap intervensi Roh Kudus yang akan memberikan kita energi dan strategi baru untuk mencoba lagi.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Gunakan Kata Ajaib "Belum"
Ganti pernyataan negatif seperti "Aku tidak pandai matematika" menjadi "Aku belum pandai matematika, tapi aku akan belajar strateginya."
2. Rayakan Proses, Bukan Hanya Hasil
Alihkan fokus dari nilai akhir ke usaha yang sudah kamu berikan. Beri penghargaan pada dirimu karena sudah berani mencoba, bukan karena sudah berhasil sempurna.
3. Cari Umpan Balik, Bukan Penghakiman
Lihat guru, orang tua, atau mentor sebagai sumber umpan balik (strategi perbaikan), bukan sebagai hakim atas kemampuanmu.
4. Tantangan = Pertumbuhan
Sadari bahwa otakmu tumbuh dan membentuk koneksi baru setiap kali kamu mencoba hal yang sulit atau membuat kesalahan. Tantangan hari ini adalah latihan otakmu untuk kesuksesan di masa depan.
Sebagai remaja, jangan biarkan rasa takut gagal menghambatmu. Biarkan rohmu menyala-nyala, peluk prosesnya, dan ingatlah bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh. (MA)
""In the growth mindset,
failure is not a permanent condition,
it is a problem to be solved."
Carol S. Dweck
Ruang Kesehatan

”Waktu muda dulu rasanya makan apapun ga ada masalah kesehatan ya dok, tapi sekarang masuk usia 30 tahun-an kok mulai banyak masalah ini itu, nyeri sendi, encok pegel linu, baru makan emping melinjo sedikit kok saya nyeri sendi?” ,Ujar pasien.
Nah kali ini kita akan sama-sama belajar tentang ASAM URAT
ASAM URAT
Penyakit asam urat merupakan kondisi yang dapat menyebabkan gejala nyeri yang tak tertahankan, pembengkakan, serta adanya rasa panas di area persendian, sendi yang paling sering terserang adalah jari tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari kaki.
Umumnya, penyakit ini dapat lebih mudah menyerang pria, khususnya mereka yang berusia di atas 30 tahun. Pada wanita, penyakit asam urat ini dapat muncul setelah memasuki masa menopause.
Rasa sakit yang dialami pengidap asam urat dapat berlangsung selama rentang waktu 3-10 hari, dengan perkembangan gejala yang begitu cepat dalam beberapa jam pertama.
GEJALA
1. Nyeri Sendi yang Terus Menerus
Penyakit asam urat biasanya mempengaruhi jempol kaki, tapi bisa terjadi di bagian sendi manapun.
Sendi lain yang sering terkena yaitu pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, dan jari.
Rasa sakit yang paling parah terjadi dalam empat hingga 12 jam pertama serangan penyakit asam urat.
2. Rasa Tidak Nyaman dalam Jangka Panjang
Setelah rasa sakit yang paling parah mereda, rasa tidak nyaman pada sendi dapat terjadi lagi dalam beberapa hari hingga beberapa minggu kemudian.
Serangan selanjutnya cenderung bertahan lebih lama dan memengaruhi lebih banyak persendian.
3. Peradangan dan Kemerahan
Sendi yang terkena bisa membengkak, terasa lunak, hangat, dan tampak merah.
4. Range of Movement Terbatas
Ketika asam urat sedang kumat, beberapa pasien tidak dapat menggerakkan sendi secara bebas.
PENYEBAB
Secara alamiah, asam urat merupakan senyawa yang diproduksi oleh tubuh untuk mengurai purin. Purin merupakan zat alami yang memiliki beberapa fungsi penting bagi tubuh. Mulai dari mengatur pertumbuhan sel hingga menyediakan energi.
Nantinya, ketika sudah selesai digunakan tubuh, asam urat akan dibuang melalui urine. Namun, terkadang tubuh dapat menghasilkan terlalu banyak asam urat atau ginjal mengalami gangguan sehingga mengeluarkan terlalu sedikit asam urat.
Ketika ini terjadi, asam urat dapat menumpuk, membentuk kristal urat tajam seperti jarum di sendi atau jaringan di sekitarnya yang menyebabkan rasa sakit, peradangan, dan pembengkakan.
FAKTOR RESIKO
1. Pola Makan
Konsumsi daging merah dan seafood secara berlebihan, sumber makanan yang mengandung banyak purin, dapat memicu penyakit asam urat. Selain itu, minum minuman manis dengan fruktosa juga dapat meningkatkan kadar asam urat, termasuk alkohol.
2. Berat Badan Berlebih
Orang yang kelebihan berat badan, tubuhnya memproduksi lebih banyak asam urat. Sementara itu, ginjal menjadi lebih sulit menghilangkan asam urat dari tubuh.
3. Riwayat Medis
Penyakit dan kondisi medis tertentu dapat meningkatkan risiko asam urat, seperti tekanan darah tinggi yang tidak diobati, diabetes, obesitas, sindrom metabolik, dan penyakit jantung dan ginjal.
4. Konsumsi Obat Tertentu
Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya obat-obatan yang bersifat diuretik atau imunosupresan.
5. Riwayat Keluarga
Orang yang memiliki anggota keluarga yang mengidap penyakit asam urat, kemungkinan besar juga akan terkena.
6. Usia dan Jenis Kelamin
Penyakit asam urat lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Namun, setelah menopause, kadar asam urat pada wanita bisa mendekati pria. Sementara itu, pria juga lebih mungkin terkena asam urat lebih awal, yaitu antara usia 30 hingga 50 tahun. Wanita lebih sering menderita asam urat setelah menopause.
DIAGNOSA
Dokter mungkin akan melakukan beberapa hal, seperti menanyakan riwayat penyakit pasien, seberapa sering gejala muncul, dan memeriksa lokasi sendi yang sakit.
1. Cek darah
Tes ini ditujukan untuk mengukur kadar asam urat dan kreatinin dalam darah. Orang yang mengidap asam urat memiliki kreatinin hingga 7 mg/dL. Namun, tes ini tidak selalu memastikan penyakit asam urat, karena beberapa orang diketahui memiliki kadar asam urat tinggi, tetapi tidak mengidap penyakitnya.
2. Tes Urin 24 Jam
Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat dalam urine yang dikeluarkan pasien selama 24 jam terakhir.
3. Pemeriksaan Cairan Sendi
Prosedur ini akan mengambil cairan sinovial pada sendi yang terasa sakit, kemudian akan diperiksa di bawah mikroskop.
4. Tes Pencitraan
Pemeriksaan foto rontgen akan dilakukan guna mengetahui penyebab radang pada sendi. Sementara itu, USG juga bisa dilakukan untuk mendeteksi kristal asam urat pada sendi.
PENCEGAHAN
Beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risiko terkena asam urat:
1. Minum banyak air untuk membantu ginjal berfungsi lebih baik dan menghindari dehidrasi.
2. Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol
3. Berolahraga secara teratur untuk menjaga berat badan yang sehat. Sebab, berat badan ekstra meningkatkan asam urat dalam tubuh dan memberi lebih banyak tekanan pada persendian.
4. Membatasi konsumsi makanan dan minuman yang memiliki kandungan zat purin tinggi. Misalnya seperti daging merah, minuman beralkohol, hingga makanan dan minuman tinggi fruktosa.
5. Konsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah yang memiliki antioksidan tinggi. (HW)
Ruang Kesaksian

"Kita tahu sekarang,
bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan
bagi mereka yang mengasihi Dia."
Roma 8-28 (TB)
Shalom, perkenalkan nama saya Yosia Nitiatmadja atau dikenal dengan panggilan Yosi. Saya sudah berkeluarga dan dikarunia dengan dua orang putri. Saya melayani sebagai worship leader di GBI Tampak Siring, Rayon 1D. Saya dibesarkan di Cirebon hingga lulus SMA. Kehidupan keluarga yang serba berkecukupan, membuat saya tumbuh menjadi remaja yang nakal sejak SMP dan bergabung dalam komunitas geng motor.
Saat duduk dibangku SMA, saya mengikuti jambore rohani di Malang. Saya mengalami lawatan Tuhan dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Puji Tuhan, sejak itu saya merasakan perubahan dalam hidup saya. Namun beberapa lama setelah pertobatan, usaha orang tua bangkrut. Papa saya yang gemar bermain judi bahkan sampai ke orang pintar membuat perekonomian keluarga semakin sulit.
Sebagai orang yang telah mengenal Tuhan, saya sempat protes. Mengapa keadaan ini harus terjadi?. Pertanyaan itu terus timbul dalam hati, sampai Tuhan bebicara kepada saya secara audible: “saya itu ada untuk keluarga saya“. Tuhan telah menetapkan saya untuk menjadi tiang doa bagi keluarga.
Penyertaan Tuhan sungguh nyata, kerinduan saya untuk dapat membawa mereka dalam pengenalan akan Tuhan dan selalu menyenangkan hati Tuhan serta bergaul intim dengan-Nya.
Setelah lulus SMA, saya merantau ke Jakarta dan tinggal di Bekasi. Saya diterima bekerja di daerah Pluit sebagai seorang akuntan sambil kuliah malam di Salemba. Kegiatan sehari-hari tersebut benar-benar sudah menghabiskan waktu saya. Karena saya harus bangun subuh untuk berangkat ke kantor dan tiba di rumah pada larut malam.
Pada tahun 1999, dengan jelas saya mendengar suara Tuhan ketika sedang membaca flier sekolah thelogia. Tuhan ingin saya untuk masuk ke sekolah theologia tersebut. Saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana saya mengatur waktunya? Karena seharian telah habis waktunya dengan bekerja dan kuliah. Tuhan katakan agar saya berhenti dari pekerjaan.
Keputusan tersebut sungguh tidak mudah. Bagaimana saya dapat memenuhi kebutuhan hidup apabila saya tidak bekerja. Namun saya mau dengar-dengaran akan Tuhan dan saya taat kepada tuntunan Tuhan. Sungguh ajaib, Tuhan dapat memelihara dan memenuhi segala kebutuhan hidup saya.
Kesaksian ini bermula di tahun 2000, pada pukul 6 pagi saya berangkat kuliah. Situasi jalanan pada saat itu nampak begitu sepi. Seperti biasa saya mengendarai motor dengan kecepatan sekitar 70-80 km. Saya melihat mobil berhenti di lajur sebelah kiri tetapi tiba-tiba memutar balik tepat di depan saya. Sontak saya terkejut hingga tidak dapat mengendalikan kendaraan dan akhirnya tabrakan pun terjadi.
Motor yang saya kendarai menabrak sisi bagian kanan pintu depan mobil. Saya terpelanting terbentur kap mobil bagian depan dengan masih menggunakan helm. Tubuh dan kepala saya terbentur beberapa kali di atas aspal hingga helm lepas dari kepala.
Saya sempat berdiri dan akhirnya terjatuh lemas. Kepala saya sudah berdarah. Saya melihat orang-orang datang menolong dan membawa saya ke Puskesmas terdekat.
Saya mendengar sopir yang menabrak saya meminta maaf karena telah memasang musik dengan keras dan tidak memperhatikan jalan. Pihak Puskesmas tidak berani menangani lebih lanjut. Saya pun segera dilarikan ke rumah sakit lain. Tiba di rumah sakit, saya tidak sadarkan diri selama 7 hari. Setelah sadar setiap kali buka mata saya mengalami seperti vertigo berat, kepala saya sangat pusing dan terasa mual.
Saya merenungkan kejadian yang menimpa diri saya. Saya sempat menyalahkan keadaan,
1. Apa salah saya?
2. Mengapa ini harus terjadi?
3. Mengapa Tuhan tidak menjaga diri saya?
Rasa sakit yang saya rasakan dikepala membuat saya terus menutup mata dan tidak berani bergerak dari tempat tidur. Keadaan kepala saya sungguh sangat mengerikan karena bengkak yang sangat luar biasa besar dari ukuran biasanya.
Hampir tiga bulan dirawat di rumah saki, ditangani oleh tim dokter bedah. Mereka mengatakan bahwa pembengkakan dikepala saya sudah mencapai titik kritis, jika batok kepala saya tidak dibedah maka kepala saya tidak akan kembali menjadi normal.
Gegar otak akan mempengaruhi saraf otak, bahkan jika operasi gagal dapat mengakibatkan saya kehilangan nyawa. Puji nama Tuhan, saya mendapat dukungan doa dari keluarga, rekan-rekan sepelayanan, gembala dan banyak orang yang mengetahui keadaan saya.
Saya sangat takut membayangkan jika terjadi sesuatu dengan saraf diotak saya, jika gagal dalam pembedahan. Esok hari adalah penentuan untuk operasi.
Malam harinya saya mendengar siaran rohani dari salah satu saluran radio. Saya mendengar kotbah dari hamba Tuhan yang berkata bahwa bagi Tuhan tdak ada yang mustahil.
Seorang wanita yang sakit pendarahan selama bertahun-tahun dapat mengalami mujizat kesembuhan; bahkan Lazarus yang sudah meninggal 3 hari pun Tuhan Yesus sanggup bangkitkan.
Mendengar Firman Tuhan tersebut, iman saya mulai bangkit. Saya mulai menyembah dan memuji Tuhan, saya menangis dihadapan Tuhan. Saya menyerahkan diri kepada Tuhan, berharap dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya berkata: “Ya Tuhan, Engkau sanggup melakukan mujizat kesembuhan dan pemulihan atas keadaan saya. Saya percaya rencana Tuhan belum selesai. Saya percaya Tuhan sanggup memakai hidup saya sampai masa tua menjadi alat Tuhan.”
Saya minta ampun kepada Tuhan dan tidak menyalahkan keadaan dan Tuhan. Saya mulai mengucap syukur dan membawa korban syukur kepada Tuhan.
Keesokan harinya asisten dokter memeriksa kondisi saya untuk pembedahan. Ia begitu terkejut melihat keadaan kepala saya sudah tidak lagi keras seperti batu.
Sampai diperiksa beberapa kali akhirnya ia memanggil dokter. Dokter pun tidak percaya sampai harus memeriksa berulang-ulang. Dokter berkata, “bagaimana mungkin dapat terjadi perubahan dalam satu malam kalau bukan karena mujizat Tuhan." Puji Tuhan, tim dokter memutuskan bahwa saya tidak perlu melakukan tindakan operasi, hanya cukup bedah kecil saja.
Tuhan Yesus baik, saya tidak dapat menahan haru. Saya berseru mengucap syukur kepada Tuhan. Tim dokter pun bersepakat bahwa ini terjadi karena mujizat dari Tuhan. Kepala saya berangsur-angsur kembali normal seperti semula setelah dirawat tiga bulan. Haleluya.
Setelah sembuh, saya harus berjuang keras untuk belajar berulang-ulang saat saya menyelesaikan kuliah dan ujian skripsi, namun Tuhan membuat semua dapat dilalui dengan ajaib, terpujilah Tuhan Yesus.
Mujizat ini membuat saya kuat bertahan menghadapi segala macam proses kehidupan bahkan fase padang gurun yang harus saya lewati. Saya percaya, tidak ada pergumulan yang lebih besar, tidak ada hal yang lebih menakutkan karena saya sudah mengenal kasih kemurahan Tuhan dalam karya-Nya menyembuhkan dan memulihkan saya.
Jika Tuhan Yesus sanggup tolong dan buat mujizat dalam hidup saya maka saya percaya apapun pergumulan, masalah, keadaan kita semua, Tuhan Yesus Kristus sanggup berkarya atas hidup kita. Dia sanggup lakukan mujizat dalam hidup kita, apapun keadaan kita. Bangkitkan iman doa, pengharapan dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadikan Tuhan Yesus segala-galanya, Tuhan sungguh amat sangat baik dan tidak ada Allah Tuhan pribadi seperti Tuhan Yesus. I Love You Jesus.
Penanggung Jawab :
Pdm. Robbyanto Tenggala
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
