Keluarga dalam Rencana Allah
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa keluarga bukanlah hasil perkembangan budaya atau sekadar konstruksi sosial, melainkan ide dan rancangan Allah sendiri sejak awal penciptaan. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Ia menempatkan manusia dalam relasi pernikahan dan keluarga (Kejadian 2:18–24). Keluarga menjadi ruang pertama di mana manusia belajar tentang kasih, keintiman, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah.
Namun Alkitab juga jujur menyatakan bahwa sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3), relasi-relasi tersebut mengalami kerusakan. Dosa tidak hanya memutus relasi manusia dengan Allah, tetapi juga merusak relasi antar manusia—termasuk di dalam keluarga. Konflik, ketidaksetiaan, dan kekerasan menjadi realitas yang terus berulang dari generasi ke generasi.
Meski demikian, kisah Alkitab tidak berhenti pada kerusakan. Allah adalah Allah penebusan, dan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam rencana keselamatan-Nya.
Pemilihan Keluarga: Anugerah, Bukan Kelayakan
Sejak Kejadian hingga Perjanjian Baru, kita melihat pola yang konsisten: Allah memilih dan bekerja melalui keluarga-keluarga yang jauh dari kata ideal. Pemilihan ini tidak didasarkan pada moralitas yang sempurna, kestabilan relasi, atau reputasi sosial, melainkan pada anugerah dan kedaulatan Allah.
Kisah Rahab dan Rut menjadi contoh yang sangat kuat. Rahab adalah seorang perempuan dengan masa lalu yang rusak secara moral dan sosial (Yosua 2), sementara Rut adalah perempuan asing dari bangsa Moab—bangsa yang dipandang rendah dalam sejarah Israel (Rut 1). Namun iman mereka kepada TUHAN membawa mereka masuk ke dalam umat perjanjian Allah dan bahkan ke dalam silsilah Mesias. (Matius 1:5)
Melalui kisah-kisah ini, Alkitab menegaskan bahwa Allah tidak menunggu keluarga menjadi baik untuk memilihnya; Ia memilih, lalu memulihkan. Hal ini menjadi pengharapan besar bagi keluarga masa kini yang bergumul dengan luka, kegagalan, dan masa lalu yang kelam.
Keluarga Sebagai Wadah, Bukan Sumber Keselamatan
Alkitab menegaskan dengan jelas bahwa hanya Kristus yang menyelamatkan (Kisah Para Rasul 4:12). Keluarga tidak pernah menjadi sumber keselamatan, tetapi Allah dengan sengaja memilih keluarga sebagai wadah di mana keselamatan itu dihadirkan, dialami, dan disaksikan.
Puncak dari pola ini terlihat dalam peristiwa inkarnasi. Dalam kepenuhan waktu, Allah mengutus Anak-Nya, bukan melalui istana atau pusat kekuasaan dunia, melainkan melalui kelahiran dalam sebuah keluarga sederhana—Yusuf dan Maria (Galatia 4:4). Palungan menjadi bukti sejarah bahwa Allah setia menepati janji-Nya, dan bahwa kasih-Nya dinyatakan melalui sebuah keluarga.
Kelahiran Yesus melalui keluarga yang sederhana tersebut menegaskan bahwa Allah tidak menjauh dari realitas keluarga manusia yang rapuh, melainkan masuk ke dalamnya untuk menebus dan memulihkannya dari dalam.
Penebusan yang Memullihkan Keluarga
Dosa membawa dampak yang nyata dalam keluarga: relasi yang renggang, komunikasi yang rusak, peran yang tidak sehat, dan luka lintas generasi. Namun penebusan di dalam Kristus tidak hanya memulihkan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga memperbarui relasi antar manusia. (Efesus 2:14–16)
Karena itu, keluarga yang disentuh oleh Injil dipanggil untuk mengalami pembaruan yang nyata: kasih yang rela berkorban, pengampunan yang terus dihidupi, tanggung jawab yang dijalankan dengan setia, serta komitmen yang bertahan di tengah ketidaksempurnaan. Penebusan tidak membuat keluarga langsung sempurna, tetapi memberikan arah dan kuasa baru untuk hidup dalam kehendak Allah.
Keluarga yang Diutus dalam Misi Allah
Keselamatan yang diterima keluarga tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sejak panggilan Abraham—“olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3)—Allah memanggil umat-Nya, termasuk keluarga, untuk menjadi saluran berkat bagi dunia.
Dalam Perjanjian Baru, keluarga-keluarga percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari (Yosua 24:15; Kisah Para Rasul 16:31–34). Melalui kehidupan keluarga yang ditebus—meski tidak sempurna—Allah menyatakan kasih, kebenaran, dan pengharapan-Nya kepada lingkungan sekitar.
Keluarga Kristen dipanggil untuk menghadirkan nilai Kerajaan Allah di tengah dunia: di meja makan, dalam cara menyelesaikan konflik, dalam mendidik anak, dan dalam relasi dengan masyarakat.
Beberapa aplikasi praktis yang bisa diterapkan dalam keluarga:
1. Melihat keluarga sebagai panggilan rohani
Bukan sekadar status sosial. Menghidupi iman dimulai dari rumah.
2. Mengakui realitas dosa dan luka dalam keluarga
Bukan menyangkalnya, tetapi membawanya kepada Kristus untuk dipulihkan.
3. Membangun disiplin rohani keluarga
Gaya hidup yang meliputi doa bersama, membaca firman Tuhan, dan percakapan iman yang jujur.
4. Menghidupi pengampunan dan rekonsiliasi
Menyadari bahwa keluarga adalah tempat utama mempraktikkan Injil.
5. Menjadikan keluarga sebagai kesaksian
Bukan melalui kesempurnaan, tetapi melalui ketekunan berjalan bersama Kristus.
Kiranya renungan ini menolong kita melihat bahwa keluarga tidak pernah menjadi tujuan akhir, melainkan bagian dari karya Allah yang lebih besar. Allah adalah pencipta keluarga, dosa memang merusaknya, tetapi Kristus telah menebus dan memulihkannya. Melalui keluarga-keluarga yang ditebus—meski tidak ideal—Allah terus mengerjakan misi keselamatan-Nya di dunia: menuntaskan amanat agung!!!
Tahun boleh berganti tetapi panggilan atas keluarga tidak boleh berubah : keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi juga untuk hidup sebagai saksi penebusan Kristus, hingga kemuliaan Allah dinyatakan dari generasi ke generasi. (TB)