Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
MENYENANGKAN HATI TUHAN
Ruang Remaja
"Berbahagialah orang yang tahan
karena apabila ia tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan
yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mengasihi Dia."
Yakobus 1:12 (TB)
Kisah Adoniram Judson: Misionaris yang Tak Pernah Menyerah
Adoniram Judson adalah seorang misionaris asal Amerika yang hidup di abad ke-19. Pada usia muda, ia merasa dipanggil untuk menjadi misionaris dan menyebarkan Injil ke negara-negara Asia. Setelah menikah dengan Ann Hasseltine, ia berangkat ke Burma (sekarang Myanmar) pada tahun 1813 untuk menyebarkan firman Tuhan kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.
Perjalanan hidup Adoniram Judson di Burma penuh dengan tantangan yang luar biasa. Ketika ia pertama kali tiba, ia dan istrinya harus berjuang dengan bahasa yang sulit dan budaya yang asing. Meskipun begitu, mereka tetap tekun dan terus melayani. Namun, penderitaan yang lebih besar datang setelahnya. Pada tahun 1824, perang antara Inggris dan Burma meletus, dan Adoniram ditangkap oleh pemerintah Burma sebagai tawanan perang.
Selama 17 bulan di penjara, Adoniram mengalami siksaan yang tidak terbayangkan. Ia dirantai, dipaksa tidur di lantai yang keras, dan sering dipukul. Makanan yang diberikan pun sangat sedikit, dan ia hampir mati akibat penyakit yang dideritanya. Istrinya, Ann, yang mengandung saat itu, juga sangat menderita karena tidak bisa menemui suaminya dan harus hidup dalam ketidakpastian.
Namun, dalam semua penderitaan tersebut, Adoniram tidak pernah kehilangan keyakinannya. Bahkan, ia terus berdoa dan berharap kepada Tuhan untuk membebaskannya. Setelah dibebaskan, ia kembali ke rumah dan mendapati bahwa istrinya telah meninggal akibat penyakit yang parah. Adoniram merasa sangat kehilangan, tetapi ia tetap melanjutkan pelayanannya tanpa menyerah.
Selama bertahun-tahun berikutnya, Adoniram mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Burma. Setelah 12 tahun yang penuh kesulitan, ia berhasil menyelesaikan penerjemahan Perjanjian Baru. Kesetiaannya kepada Tuhan tidak hanya menghasilkan penerjemahan Kitab Suci, tetapi juga banyak jiwa yang datang kepada Kristus.
Pada akhir hidupnya, Adoniram telah menyaksikan banyak orang Burma yang menerima Injil dan menjadi pengikut Kristus. Meskipun ia mengalami banyak kehilangan, penderitaan, dan kesulitan, ia tetap teguh dalam imannya dan setia melayani Tuhan sepanjang hidupnya.
Apa kata Alkitab tentang Kesetiaan dalam Penderitaan
Yakobus 1:12 mengingatkan kita bahwa dalam setiap ujian dan penderitaan, ada berkat dan kemuliaan yang Tuhan janjikan kepada mereka yang tetap setia. Seperti Adoniram Judson, yang menghadapi penganiayaan, kehilangan, dan kesulitan, kita pun diajak untuk tetap bertahan dalam iman. Penderitaan kita mungkin terasa berat, tetapi Tuhan menjanjikan mahkota kehidupan bagi mereka yang tidak pernah menyerah dalam mengikuti-Nya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sobat Warta, kehidupan Adoniram Judson mengajarkan kita bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia di hadapan Tuhan. Dalam setiap cobaan, kita harus tetap setia dan percaya bahwa ada kemuliaan yang akan kita terima kelak. Kekuatan untuk bertahan di tengah kesulitan hanya dapat kita temukan dalam iman dan kasih kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. (MA)
"The best way to know God is to love many things."
Vincent van Gogh
Ruang Kesehatan
“Pernah nggak sih kamu merasa kaki tiba-tiba kesemutan atau mati rasa setelah duduk terlalu lama? Rasanya memang sangat mengganggu dan bisa membuat kita panik sejenak. Hal ini juga sering terjadi ketika kita bangun tidur atau saat tubuh kita tidak bergerak dalam waktu lama. Padahal, banyak yang tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, bahkan menganggapnya hanya sekadar gangguan kecil. Nah, kali ini kita akan bahas tentang apa sebenarnya yang terjadi di tubuh kita saat kaki mengalami kesemutan, atau yang dikenal dengan istilah "kaki serep".
KAKI SEREP: BUKAN HANYA KARENA TIDUR TIDAK NYENYAK
Kesemutan atau mati rasa pada kaki merupakan sensasi yang cukup umum dialami banyak orang. Sensasi ini sering digambarkan seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk atau rasa kebas di bagian kaki. Fenomena ini sebenarnya dapat terjadi karena adanya gangguan pada aliran darah atau saraf di tubuh. Meski sering dianggap hal sepele, kesemutan yang terjadi secara berulang atau berlangsung lama bisa jadi merupakan gejala dari kondisi medis tertentu.
PENYEBAB KAKI SEREP
Kesemutan atau mati rasa pada kaki biasanya terjadi ketika ada tekanan pada saraf atau pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah terganggu. Beberapa penyebab umum terjadinya kesemutan pada kaki antara lain:
BILA KAKI SEREP TERUS MENERUS
Kesemutan yang terjadi sekali-sekali mungkin tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika gejala ini muncul secara terus-menerus atau berlangsung dalam waktu yang lama, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab kesemutan yang berulang, antara lain:
CARA MENGATASI KAKI SEREP
Untuk mengatasi kaki serep, pertama-tama adalah dengan memperbaiki posisi tubuh. Jika kamu merasa kesemutan akibat posisi duduk yang terlalu lama, coba untuk mengubah posisi atau berdiri untuk merilekskan tubuh.
Selain itu, menjaga sirkulasi darah tetap lancar dengan berolahraga ringan, menghindari merokok, serta mengatur pola makan yang sehat. Pastikan juga tubuh mendapat cukup cairan dan nutrisi, terutama vitamin B12 untuk mendukung kesehatan saraf.
PENCEGAHAN KAKI SEREP
Untuk mencegah kesemutan pada kaki, kamu bisa melakukan beberapa hal seperti:
KESIMPULAN
Dalam kehidupan kita, kita seringkali mengalami gangguan atau masalah fisik, seperti kaki serep, yang membuat kita merasa tidak nyaman. Namun, seperti halnya dengan kondisi tubuh yang bisa diatasi melalui perubahan gaya hidup dan perawatan.
Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjaga tubuh kita dengan baik. Dalam 1 Korintus 6:19-20, kita diingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, dan kita harus menghargainya dengan menjaga kesehatan fisik, mental, dan rohani. Seperti yang ditulis dalam ayat ini:
"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dengan harga yang sangat mahal. Karena itu, glorifikasilah Allah dengan tubuhmu!"
1 Korintus 6:19-20
Melalui prinsip ini, kita diingatkan untuk memperhatikan kesehatan tubuh kita, bukan hanya secara fisik tetapi juga rohani, dengan cara menjaga dan merawatnya dengan baik sesuai dengan kehendak Allah.(MA)
Ruang Kesaksian
"Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,
dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;
tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."
1 Korintus 15:10
Perkenalkan nama saya Ariel Anugrahani, anak bungsu dari 4 bersaudara dan saya lahir dari keluarga Kristen. Saat ini saya sudah menikah, memiliki dua orang anak laki-laki dan saya berprofesi sebagai konsultan onkologi bedah kepala dan leher dokter spesialis THT.
Saya ingin menyaksikan penyertaan Tuhan Yesus di dalam perjalanan kehidupan saya. Dari kecil saya sudah dididik takut akan Tuhan oleh kedua orang tua saya yang pada waktu itu adalah penatua dari salah satu gereja lokal. Saat duduk di bangku SMP, bapak saya pernah bertanya apa cita-cita saya dan tanpa berpikir panjang saya langsung menjawab bahwa saya ingin menjadi seorang pendeta.
Bapak bertanya apa alasannya? Saya menjawab karena ingin melayani Tuhan. Bapak mengatakan bahwa melayani Tuhan tidak hanya dengan menjadi seorang pendeta saja, namun dapat dengan bidang pekerjaan lain seperti perawat, dokter atau tenaga medis lainnya, dan waktu itu saya hanya menyimpannya di dalam hati.
Sampai setelah lulus SMA, saya mencoba untuk mengambil tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan mengambil jurusan yang saya sukai. Namun Tuhan berkehendak lain, saya dinyatakan tidak lulus. Pada saat itu perasaan saya begitu kecewa kemudian bapak saya berkata kenapa kamu tidak mencoba mengambil kedokteran saja? Jujur saya begitu bingung karena pada saat itu pendaftaran sudah di tutup dan memang saya juga tidak tertarik sama sekali dengan bidang kedokteran.
Karena tidak ada pilihan lain saya terpaksa mendaftar di fakultas kedokteran pada salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Bandung. Setelah mengikuti tes seleksi dan hasil pengumuman keluar, ternyata saya diterima. Namun karena saya tidak berminat dengan ilmu kedokteran dan adanya shock culture karena saya berasal dari kota kecil, nilai saya pada semester 1 dan 2 begitu rendah bahkan sudah terancam drop out apabila IPK saya tidak mencapai batas minimal. Saya begitu sangat tertekan karena harus remedial terakhir yaitu kegiatan yang diberikan kepada siswa yang belum menguasai bahan pelajaran yang telah diberikan guru dengan maksud mempertinggi penguasaan bahan ajar, sehingga siswa diharapkan mampu mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan untuk mencapai ketuntasan belajar yang nantinya berdampak baik.
Saya teringat ketika malam Tahun Baru di Bandung, ibu mengajak saya untuk berdoa bersama, saya katakan kepada Tuhan: “Tuhan, kalau Tuhan memang ingin menjadikan saya dokter, Tuhan pakai hidup saya untuk melayani-Mu sebagai seorang dokter.” Dan doa saya pun didengar Tuhan, saya akhirnya dapat lulus dalam remedial terakhir.
Sejak saat itu saya merasakan bahwa Tuhan memberikan hikmat dan menuntun saya untuk mencapai percepatan yang luar biasa. Tuhan Yesus menyatakan kebesaran-Nya, saya dapat menyelesaikan studi sampai lulus menjadi seorang dokter umum tanpa suatu hambatan. Ajaibnya sebelum lulus, saya sudah mendapat tawaran kerja di rumah sakit swasta yang terkenal di kota Pekanbaru.
Tuhan membuka jalan buat saya untuk terus dapat melanjutkan pendidikan spesialis yang di luar pikiran saya sendiri. Awalnya saya tidak berencana untuk melanjutkan ke spesialis THT, namun Tuhan menuntun dan membuka jalan hingga sampai ke sana. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu, demikianlah firman Tuhan. (Yesaya 55:8-9)
Bahkan dari sembilan peserta yang mendaftar hanya dua peserta yang diterima dan salah satunya adalah saya. Saya tidak mampu berbuat apapun tanpa Tuhan, saya percaya bahwa semua karena kasih karunia Tuhan Yesus buat saya. Tuhan terus beracara, Dia tidak pernah bekerja setengah-setengah, saat di semester terakhir Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) saya ditawarkan oleh konsulen untuk langsung mengambil pendidikan konsultan.
Selama dua tahun pendidikan konsultan mengharuskan saya untuk pulang-pergi meninggalkan suami dan anak. Hal ini bukan perkara yang mudah bagi saya. Saat itu saya berfokus untuk dapat menyelesaikan pendidikan saya dengan sebaik mungkin.
Saat yudisium, dari 15 orang yang akan dilantik, ada 3 orang yang dinyatakan belum layak di yudisium dengan alasan masih terlalu muda dari segi pengalaman kerja dan usia, dan saya adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Saya merasa tidak terima dan sempat protes kepada Tuhan serta berkata: “Bagaimana ini, saya sudah menyelesaikan semua persyaratan studi dangan baik, namun mengapa baru saat kelulusan saya baru tahu ada persyaratan seperti ini?”
Mujizat Tuhan terjadi. Ketika selesai melantik 12 orang tersebut, salah satu guru besar kami naik ke atas podium dan memanggil nama kami bertiga untuk di yudisium pada saat itu juga. Semua orang begitu kaget dengan keputusan profesor ini, namun saya percaya itu semua terjadi karena Tuhan, sungguh dahsyat.
Pada tahun 2019 setelah yudisium saya ditawarkan untuk bekerja kembali di RS Swasta di kota Pekanbaru dan dipercayakan memegang 3 grup RS secara bersamaan. Saat itu terjadi gesekan dalam rumah tangga saya, karena kesibukan, long distance marriage, komunikasi yang tidak baik, ego yang tinggi dari masing-masing kami sehingga membawa rumah tangga di ujung tanduk kehancuran hingga saya berpikir untuk mengakhirinya.
Dalam kondisi itu Tuhan Yesus mulai menegur dan menuntun saya. Saat sedang mengendarai mobil, saya melihat papan nama gereja di jalan. Saya ingat dulu sebelum menikah saya pernah beribadah di sana. Seolah Tuhan mengarahkan kepada saya untuk melihat ke gereja itu dan entah mengapa saya akhirnya mengajak suami untuk dapat beribadah bersama-sama di sana.
Suami saya biasanya selalu tertidur di gereja, namun untuk kali ini saya melihat dia dapat mengikuti ibadah dengan khusuk dari awal sampai akhirnya. Suatu hari ada pengumuman di gereja bahwa akan ada acara sepuluh hari malam pencurahan Roh Kudus untuk menyambut hari Pentakosta. Ada dorongan yang kuat dan kerinduan saya untuk dapat ikut pada acara itu sehingga kembali saya mengajak suami untuk hadir bersama.
Akhirnya saya bersama suami hadir dan duduk di atas balkon, saya tidak tahu kenapa pada saat firman Tuhan disampaikan dan saat doa pengurapan saya terus menangis tidak henti-hentinya. Saya baru mengerti sekarang bahwa saat itu saya sedang dilawat Tuhan dengan luar biasa, saya bahkan mendengar suara Tuhan yang mengatakan bahwa hati dan pikiran saya harus dapat berubah. Malam itu, saya bertobat dan merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk beribadah di BICC rayon 11, sekalipun kami belum mengenal siapa pun di sana.
Pada tahun 2020 saat pandemi kami juga mengikuti kembali malam pencurahan Roh Kudus onsite di gereja. Saat itulah kami dihampiri oleh salah satu pengerja di gereja dan memperkenalkan kami dengan bapak gembala, Ps. Ricky Nelson Tampubolon. Saya percaya ini adalah khairosnya Tuhan, kami dilayani dan merasa sangat diberkati.
Pada suatu malam jam 2 dini hari, saya terbangun dan mendengar seperti ada yang berkata ditelinga saya “Baptis“. Keesokan harinya saya berbicara kepada Ibu gembala, Ibu Maya Irana Pohe bahwa saya ingin dibaptis dan beliau langsung menyampaikan, bahwa hari Rabu, 15 Juli 2020 ada baptisan. Saya sungguh bersukacita, saya tidak takut sekalipun waktu itu masih pandemi, karena saya percaya ini adalah panggilan Tuhan atas hidup saya.
Sekalipun pada saat itu suami saya belum mau di baptis, namun dia sangat mendukung saya. Saya mengalami lahir baru dan memiliki hati yang haus dan lapar akan Firman Tuhan. Saya mengikuti talitakum tiap pagi, KOM 100, KOM 200 dan tergabung dalam COOL.
Puji Tuhan, Agustus 2021 suami saya mengalami kelahiran baru dan memberi diri untuk di baptis. Tuhan Yesus baik, rumah tangga kami terjadi rekonsiliasi ketika kami sama-sama fokus kepada Kristus, Tuhan Yesus memulihkan pernikahan kami. Saya percaya akan janji Tuhan dalam hidup saya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Saya tidak layak tetapi Tuhan Yesus yang melayakkan. Saya bersyukur diberikan otoritas sebagai anak Allah dan rekan sekerja-Nya. Melalui pekerjaan saya dapat menjadi seorang dokter yang melayani dan membawa jiwa-jiwa untuk dapat mengenal kasih Kristus. Saya semakin dibukakan bahwa inilah panggilan pelayanan saya. Tuhan Yesus baik buat saya, dalam setiap perjalanan hidup saya Dia setia, tidak pernah meninggalkan saya sampai detik ini.
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 11:36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya, Haleluya, Amin.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.