Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
KHOTBAH GEMBALA: KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA
Ruang Remaja

"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."
Lukas 22:42 (TB)
Kisah Nyata: Dietrich Bonhoeffer dan Ketaatan kepada Tuhan
Pada masa kekuasaan Nazi di Jerman, seorang pendeta muda bernama Dietrich Bonhoeffer dikenal karena keberaniannya mempertahankan iman dan kebenaran.
Bonhoeffer lahir di Breslau pada tahun 1906 dalam keluarga yang terpelajar. Ia memiliki masa depan yang cerah sebagai seorang teolog dan pengajar. Bahkan pada usia yang masih muda, ia sudah menjadi dosen teologi dan dikenal sebagai pemikir yang sangat cerdas.
Namun keadaan di Jerman berubah drastis ketika Adolf Hitler dan rezim Nazi mulai berkuasa. Pemerintah mulai mengontrol gereja dan memaksa gereja untuk mengikuti ideologi Nazi. Banyak pemimpin gereja memilih diam karena takut kehilangan posisi atau bahkan nyawa mereka.
Bonhoeffer menghadapi pilihan sulit: tetap diam dan hidup aman, atau berdiri menentang ketidakadilan. Sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, Bonhoeffer merasa bahwa iman tidak boleh dipisahkan dari tindakan nyata. Ia percaya bahwa mengikuti Kristus berarti juga berani membela kebenaran, meskipun itu berisiko besar.
Ia kemudian bergabung dengan kelompok gereja yang menolak pengaruh Nazi dan terus mengajarkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Kepala Gereja. Karena sikapnya itu, Bonhoeffer diawasi oleh pemerintah dan dilarang berkhotbah di banyak tempat.
Pada suatu waktu, Bonhoeffer sempat pergi ke New York City untuk mengajar di sebuah seminari. Di sana ia sebenarnya bisa hidup dengan aman, jauh dari tekanan rezim Nazi.
Namun setelah beberapa minggu, ia merasa hatinya tidak tenang. Ia menyadari bahwa Tuhan memanggilnya kembali ke Jerman untuk bersama dengan jemaat dan bangsanya yang sedang mengalami penderitaan.
Keputusan itu sangat berat. Banyak temannya mencoba meyakinkan dia untuk tetap tinggal di Amerika demi keselamatannya. Tetapi Bonhoeffer berkata bahwa ia tidak bisa ikut membangun kembali gereja di Jerman setelah perang jika ia tidak mau berbagi penderitaan dengan mereka sekarang.
Ia akhirnya kembali ke Jerman, meskipun tahu bahwa langkah itu bisa membahayakan hidupnya.
Beberapa tahun kemudian, Bonhoeffer ditangkap oleh pemerintah Nazi dan dipenjarakan. Bahkan di dalam penjara, ia tetap menulis surat dan refleksi rohani yang menguatkan banyak orang percaya.
Pada tahun 1945, hanya beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir, Bonhoeffer dihukum mati oleh rezim Nazi karena imannya dan keberaniannya berdiri untuk kebenaran.
Relevansi dengan Alkitab: Taat pada Kehendak Tuhan
Dalam Lukas 22:42, Yesus sendiri berdoa agar kehendak Bapa yang terjadi, bukan kehendak-Nya sendiri. Ketaatan kepada Tuhan sering kali tidak mudah dan bahkan bisa menuntut pengorbanan besar.
Kisah Dietrich Bonhoeffer menunjukkan bahwa mengikuti kehendak Tuhan bukan selalu jalan yang paling aman atau paling nyaman. Namun itu adalah jalan yang benar.
Ketaatan kepada Tuhan berarti mempercayai bahwa rencana-Nya lebih baik daripada rencana kita sendiri.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sebagai remaja, kita sering menghadapi pilihan yang tidak mudah: mengikuti arus atau melakukan yang benar. Kisah Bonhoeffer mengingatkan bahwa iman bukan hanya soal percaya di dalam hati, tetapi juga berani hidup sesuai kehendak Tuhan.
Kita bisa belajar untuk:
1. Mendengarkan Tuhan melalui Firman dan doa.
2. Berani melakukan yang benar meskipun tidak populer.
3. Percaya bahwa Tuhan menyertai setiap langkah ketaatan kita.
Ketika kita belajar menuruti kehendak Tuhan sejak muda, hidup kita akan memiliki arah yang jelas dan tujuan yang kekal. (MA).
"When Christ calls a man,
He bids him come and die."
Dietrich Bonhoeffer
Dunia Kita

Setiap hari kita melihat tubuh manusia dengan mata telanjang dan berpikir bahwa kita hanya memantulkan cahaya dari luar. Tapi tahukah kamu bahwa tubuh manusia sebenarnya memancarkan cahaya sendiri?
Ya, kamu tidak salah dengar. Tubuh manusia bersinar dalam artian harfiah meskipun cahayanya terlalu lemah untuk dilihat dengan mata telanjang.
Cahaya Bioluminescence dari Tubuh
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Jepang menggunakan kamera ultra-sensitif berhasil menangkap gambar cahaya yang dipancarkan oleh tubuh manusia. Fenomena ini dikenal sebagai biophoton emission—yaitu cahaya yang dipancarkan oleh reaksi kimia dalam tubuh.
Cahaya ini bukan berasal dari panas tubuh (seperti inframerah), tetapi dari reaksi oksidatif antara molekul dan radikal bebas di dalam sel tubuh manusia. Biasanya, cahaya ini paling kuat dipancarkan dari wajah, leher, dan tangan—terutama pada sore hari saat metabolisme tubuh sedang tinggi.
Mengapa Kita Tidak Melihatnya?
Intensitas cahaya ini sekitar 1.000 kali lebih lemah dari apa yang dapat ditangkap oleh mata manusia, itulah sebabnya kita tidak bisa melihatnya begitu saja. Tapi dengan alat khusus, cahaya ini bisa ditangkap, dan hasilnya cukup mengejutkan: tubuh manusia benar-benar memancarkan cahaya dengan ritme tertentu sepanjang hari.
Hal ini juga membuka kemungkinan bahwa kondisi kesehatan seseorang dapat dilihat melalui tingkat cahaya yang dipancarkan tubuhnya. Beberapa ilmuwan bahkan memimpikan masa depan di mana alat pemindai cahaya tubuh bisa mendeteksi penyakit lebih awal, bahkan sebelum gejala muncul.
Cahaya dan Tubuh: Simbol Rohani
Menariknya, konsep manusia memancarkan cahaya bukan hal yang asing dalam keyakinan dan tradisi rohani. Dalam Alkitab, kita menemukan bahwa manusia juga digambarkan sebagai terang dunia. Dalam Matius 5:14-16 dikatakan:
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Ayat ini secara rohani mengajarkan bahwa setiap orang yang hidup dalam kebenaran memancarkan terang ilahi yang dapat berdampak pada orang lain. Fakta ilmiah bahwa tubuh manusia benar-benar memancarkan cahaya secara biologis menjadi ilustrasi luar biasa betapa besar dan ajaibnya desain ciptaan Tuhan.
Jadi, lain kali saat kamu melihat tanganmu sendiri atau wajahmu di cermin, ingatlah bahwa di balik yang terlihat, tubuhmu sedang bersinar. Bahkan jika dunia tidak melihatnya, Tuhan menciptakan tubuhmu dengan begitu sempurna hingga mampu memancarkan cahaya dalam diam.
Terang itu bukan hanya simbol. Itu nyata dan kamu memilikinya! Amin (MA)
Ruang Kesaksian

"Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Ia takkan membiarkan kakimu goyah,
Penjagamu tidak akan terlelap.
Sesungguhnya tidak terlelap dan tigak tertidur Penjaga Israel.
Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”
Mazmur 121:1-5 TB
Perkenalkan nama saya Aeshely, saya tinggal di Bekasi dan saat ini melayani di GBI Rayon 5. Saya ingin berbagi cerita betapa baiknya Tuhan yang telah memberikan anugerah dalam hidup ini.
Semua bermula pada bulan Januari 2021 saya merasakan sakit di telinga kiri dan 4 bulan kemudian merambat sakitnya ke telinga kanan. Lalu saya berobat ke Dokter THT, dari hasil pemeriksaan ditemukan benjolan di leher sebesar telur puyuh. Menurut diagnosa sementara adalah tumor ganas. Saya pun dirujuk ke rumah sakit di daerah Bekasi untuk melakukan biopsi.
Hasil Biopsi menunjukan bahwa saya kena kanker ganas Nasoparing Neoflas dan sudah merambah ke tulang. Kebetulan saya adalah tipe orang yang ceria, sehingga ketika dokter menyampaikan hasilnya kanker ganas saya hanya bilang “ya udah gak apa-apa dok”. Melihat respon saya, dokter agak marah karena terlihat seolah-olah menyepelekan. Sambil menjelaskan bahwa yang saya alami ini adalah penyakit berbahaya dan bisa mengancam nyawa, sebab itu jangan dianggap sepele. Akhirnya saya pun di rujuk ke Dokter Ongkologi.
Saya tidak menyepelekan, namun saya lebih memikirkan kepada biaya pengobatannya. Saya tahu ini tidak mudah dan tidak murah, tetapi membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga membutuhkan proses pengobatan yang panjang. Jujur saya tidak memiliki cukup uang. Pikiran saya sudah binggung, bagaimana dengan biaya pengobatannya? Apakah saya sanggup mejalaninya?
Sebagai anak Tuhan, saya punya iman untuk sembuh, Tuhanlah yang menyembuhkan segala penyakit. Oleh sebab itu saya mengantungkan harapan saya kepada Tuhan, saya berdoa biar ada mujizat yang Tuhan kasih. Walaupun kita semua tahu, tidak sedikit orang yang luput dari penyakit kanker. Namun saya harus punya iman untuk bisa sembuh. Karena saya punya Tuhan yang besar yang berdaulat atas hidup saya.
Saya menjalani pemeriksaan Bone Scan di sebuah rumah sakit di daerah Salemba dan saya juga harus melakukan kemoterapi sebanyak 60 kali, Selain kemoterapi, saya juga melakukan radiasi sebanyak 33 kali.
Namun saat kemoterapi ke 10 saya kena stroke ringan, mulut saya mencong. Tetapi Puji Tuhan, 2 hari perawatan di rumah sakit saya pulih Kembali, sehingga dapat melanjutkan kemoterapi. Banyak proses yang harus saya jalani selama proses kemoterapi, ada rasa tidak berdaya namun saya melihat pertolongan Tuhan yang memberikan kekuatan.
Puji Tuhan, Tuhan Yesus sungguh baik, Tuhan yang memberikan kemampuan. Semua biaya dapat terpenuhi dari semua pemeriksaan, baik itu CT-Scan, Bone Scan sampai biaya kemoterapi dan obat-obatan. Semuanya tercover dengan BPJS. Dan satu hal yang saya sangat bersyukur. Tuhan utus seorang anak Tuhan Stevany Worship Leader di gereja Rayon 5, yang kurang lebih selama satu tahun membantu mengurus admin di RS, sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik. Terlebih lagi saya bersyukur ada keluarga, teman-teman sepelayanan dari GBI Rayon 5 yang terus mendukung dalam doa serta memberikan saya semangat untuk sembuh.
Dalam kemoterapi yang ke 30, selama 2 jam saya diantara hidup dan mati. Mendadak saya kesulitan untuk bernapas dan denyut nadi saya pun hilang. Saat itu keluarga saya mengira kalau saya sudah tidak ada, sudah meninggal. Namun tiba-tiba saya sadar kembali dan keadaan saya mulai membaik sehingga bisa melanjutkan kemo.
Perjalanan panjang selama 2 tahun membuktikan kalau Tuhan sayang dan masih memberikan kesempatan hidup yang kedua. Hari Selasa, tanggal 9 April 2024 setelah biopsi terakhir, hasilnya saya dinyatakan bersih dari virus kanker. Dokter menyatakan saya sudah sembuh, Haleluyaaaaa Tuhan Yesus dahsyat.
Saya bersyukur dan beterima kasih buat segala apa yang Tuhan sudah buat dalam hidup saya, saya melihat sungguh penyertaanNya sempurna, tidak sekalipun Tuhan meninggalkan saya. Terima kasih Tuhan Yesus Engkau baik dan teramat baik buat saya.
Penanggung Jawab :
Pdm. Robbyanto Tenggala
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
