Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
BAHWASANYA UNTUK SELAMA-LAMANYA KASIH SETIA-NYA
Ruang Remaja

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus,
ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu,
sesungguhnya yang baru sudah datang."
2 Korintus 5:17 TB
Kisah Ole Kirk Christiansen: Dari Kerugian Total Menjadi Warisan Abadi
Akhir tahun adalah saat yang tepat untuk melihat ke belakang, menghitung apa yang berhasil dan apa yang gagal, lalu merencanakan masa depan. Perjalanan ini pernah dialami oleh Ole Kirk Christiansen, seorang tukang kayu di Denmark yang kemudian mendirikan LEGO.
Christiansen memulai usahanya di tahun 1920-an, membuat perabotan kayu untuk mencari nafkah. Namun, di tahun 1930-an, Depresi Besar melanda, dan bisnis perabotannya bangkrut total. Tak lama setelah itu, bencana lain datang: kebakaran besar melahap habis bengkelnya, menghancurkan semua persediaan kayu dan peralatan miliknya. Christiansen kehilangan segalanya, secara finansial dan fisik.
Kisah ini bisa saja berakhir di sana—kisah seorang pria yang menyerah setelah dua kali dihantam kegagalan besar. Namun, Christiansen memilih untuk melihat kehancuran itu sebagai titik awal yang memungkinkannya membangun sesuatu yang benar-benar baru.
Dengan sumber daya yang tersisa, ia mulai membuat mainan kayu kecil-kecilan. Ia fokus pada apa yang anak-anak butuhkan: sesuatu yang bisa dimainkan, dibongkar, dan disusun kembali. Setelah bertahun-tahun bereksperimen, ia menciptakan balok plastik saling mengunci yang kita kenal sebagai LEGO (singkatan dari frasa Denmark leg godt, yang berarti "bermain dengan baik").
Christiansen membuktikan bahwa akhir dari satu fase (kebangkrutan, kebakaran) bukanlah akhir dari hidup, melainkan kesempatan untuk merancang ulang dan membangun fondasi yang lebih kuat untuk masa depan.
Relevansi dengan Alkitab: Ciptaan Baru di Akhir Tahun
Momen tutup tahun, ditambah dengan Natal yang merayakan awal yang baru melalui kelahiran Kristus, sangat relevan dengan pesan dalam 2 Korintus 5:17. Ayat ini adalah janji Natal dan janji Tahun Baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Sama seperti Christiansen yang kehilangan bengkel lamanya tetapi kemudian membangun LEGO yang baru dan lebih sukses, kita diajak untuk melihat kegagalan, penyesalan, atau kesalahan kita di tahun yang berlalu sebagai hal yang sudah berlalu di dalam Kristus. Kita tidak perlu membawa beban kegagalan itu ke tahun yang baru.
Sebagai "ciptaan baru," kita memiliki izin untuk mengevaluasi tahun lalu dengan jujur (melihat kebakaran dan kerugian), tetapi kemudian kita harus fokus pada membangun yang baru—mengambil sisa "balok" yang kita miliki (bakat, pelajaran, dukungan) dan menyusunnya menjadi visi yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kehendak Tuhan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Lakukan Inventaris Diri (The "Fire" Check)
Akhir tahun adalah waktu untuk jujur. Identifikasi "kebakaran" (kesalahan, kebiasaan buruk, hubungan toxic) yang menghambatmu. Setelah diidentifikasi, tinggalkanlah di tahun yang lama.
2. Hargai Titik Nol
Jangan takut memulai dari awal atau mengubah arah. Terkadang, kehilangan sesuatu yang lama adalah prasyarat untuk mengalami sesuatu yang baru dan lebih baik.
3. Fokus pada Fondasi
LEGO sukses karena memiliki fondasi (balok yang saling mengunci) yang kuat. Di tahun baru, fokuslah pada fondasi rohani dan kebiasaan baikmu (doa, studi firman, integritas). Fondasi yang kuat akan membuatmu tahan banting.
4. Mainkan Permainan dengan Baik (Leg Godt)
Hidup adalah kesempatan. Gunakan bakat dan waktumu untuk "bermain dengan baik"—berarti hidup dengan penuh semangat, integritas, dan sukacita dalam tujuan yang Tuhan berikan.
Sebagai remaja, gunakan akhir tahun ini bukan hanya untuk liburan, tetapi untuk meletakkan fondasi bagi dirimu yang baru. Tinggalkan yang lama, terima anugerah yang baru, dan sambut tahun depan sebagai kanvas kosongmu. (MA)
"To get the right answer, you need the right question.
To get the right building, you need the right brick."
Ole Kirk Christiansen
Dunia Kita

KEHIJAUAN DI TENGAH SALJU
Tahukah kamu bahwa pohon-pohon yang digunakan sebagai Pohon Natal, seperti pohon Fir atau Spruce, termasuk dalam kategori pohon evergreen (hijau sepanjang tahun)? Ketika tanaman lain di belahan bumi utara merontokkan daunnya, layu, atau tertidur selama musim dingin, pohon Fir tetap tegak, hijau, dan penuh kehidupan. Ketahanan luar biasa ini membuat pohon evergreen secara historis menjadi simbol kuno dari kehidupan abadi dan harapan di tengah masa-masa paling gelap dan dingin dalam setahun. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah "musim dingin" kehidupan, kita dapat menemukan sumber kehidupan dan harapan yang tidak pernah layu.
PROSES KEBERTAHANAN
POHON EVERGREEN: KETAHANAN YANG DISELIMUTI SALJU
Pohon evergreen bertahan di musim dingin berkat adaptasi unik pada daunnya yang berbentuk jarum. Permukaan daun jarum yang kecil dan berlapis lilin mengurangi kehilangan air (transpirasi) dan memungkinkan salju meluncur ke bawah dengan mudah tanpa merusak cabang. Selain itu, bentuknya yang kerucut membantu pohon menahan beban berat salju. Proses adaptasi ini mengajarkan kita tentang kebijaksanaan dalam mendesain ketahanan melalui kesederhanaan. Ketika tantangan hidup datang (salju), kita tidak perlu terlalu "berdaun lebar" dan rapuh, tetapi harus berfokus pada hal-hal yang paling esensial dan membangun struktur yang kuat dan tangguh untuk bertahan.
APA KATA ALKITAB?
POHON SEBAGAI SIMBOL KEHIDUPAN DAN DAMAI SEJAHTERA
Meskipun pohon Fir tidak disebutkan secara langsung sebagai Pohon Natal dalam Alkitab, pohon evergreen yang membawa konsep kehidupan di tengah ketiadaan sejalan dengan nubuatan Alkitab tentang kedamaian dan kehidupan baru yang dibawa oleh Mesias. Kitab Yesaya sering menggunakan pohon sebagai simbol restorasi dan damai sejahtera. Dalam Yesaya 41:19, Tuhan berjanji:
“Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya,”
Ayat ini menggambarkan bahwa Allah akan menghadirkan kehidupan dan keindahan di tempat yang tandus. Hal itu selaras dengan makna yang terkandung dalam Pohon Natal, yang tegak dan hijau di musim dingin, menjadi pengingat visual akan janji Natal: bahwa Tuhan membawa kehidupan baru dan damai sejahtera di tengah keputusasaan atau kegelapan dunia.
KESIMPULAN
Fakta unik tentang Pohon Natal ini memberikan pelajaran yang sempurna untuk musim ini: Harapan sejati tidak pernah layu. Sama seperti pohon evergreen yang tetap hijau di tengah salju, kita harus memegang teguh iman dan harapan kita, terutama saat menghadapi tantangan (musim dingin).
Pohon yang kita hiasi dengan lampu dan pernak-pernik adalah pengingat bahwa Terang Kristus telah datang untuk membawa kehidupan abadi ke dalam kegelapan dunia kita. Marilah kita berdiri tegak dan menjadi simbol harapan yang hijau bagi orang lain. (MA)
Ruang Kesaksian
"Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,
dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;
tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."
1 Korintus 15:10 9:5 TB
Perkenalkan nama saya Ariel Anugrahani, anak bungsu dari 4 bersaudara dan saya lahir dari keluarga Kristen. Saat ini saya sudah menikah, memiliki dua orang anak laki-laki dan saya berprofesi sebagai konsultan onkologi bedah kepala dan leher dokter spesialis THT.
Saya ingin menyaksikan penyertaan Tuhan Yesus di dalam perjalanan kehidupan saya. Dari kecil saya sudah dididik takut akan Tuhan oleh kedua orang tua saya yang pada waktu itu adalah penatua dari salah satu gereja lokal. Saat duduk di bangku SMP, bapak saya pernah bertanya apa cita-cita saya dan tanpa berpikir panjang saya langsung menjawab bahwa saya ingin menjadi seorang pendeta.
Bapak bertanya apa alasannya? Saya menjawab karena ingin melayani Tuhan. Bapak mengatakan bahwa melayani Tuhan tidak hanya dengan menjadi seorang pendeta saja, namun dapat dengan bidang pekerjaan lain seperti perawat, dokter atau tenaga medis lainnya, dan waktu itu saya hanya menyimpannya di dalam hati.
Sampai setelah lulus SMA, saya mencoba untuk mengambil tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan mengambil jurusan yang saya sukai. Namun Tuhan berkehendak lain, saya dinyatakan tidak lulus. Pada saat itu perasaan saya begitu kecewa kemudian bapak saya berkata kenapa kamu tidak mencoba mengambil kedokteran saja? Jujur saya begitu bingung karena pada saat itu pendaftaran sudah di tutup dan memang saya juga tidak tertarik sama sekali dengan bidang kedokteran.
Karena tidak ada pilihan lain saya terpaksa mendaftar di fakultas kedokteran pada salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Bandung. Setelah mengikuti tes seleksi dan hasil pengumuman keluar, ternyata saya diterima. Namun karena saya tidak berminat dengan ilmu kedokteran dan adanya shock culture karena saya berasal dari kota kecil, nilai saya pada semester 1 dan 2 begitu rendah bahkan sudah terancam drop out apabila IPK saya tidak mencapai batas minimal. Saya begitu sangat tertekan karena harus remedial terakhir yaitu kegiatan yang diberikan kepada siswa yang belum menguasai bahan pelajaran yang telah diberikan guru dengan maksud mempertinggi penguasaan bahan ajar, sehingga siswa diharapkan mampu mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan untuk mencapai ketuntasan belajar yang nantinya berdampak baik.
Saya teringat ketika malam Tahun Baru di Bandung, ibu mengajak saya untuk berdoa bersama, saya katakan kepada Tuhan: “Tuhan, kalau Tuhan memang ingin menjadikan saya dokter, Tuhan pakai hidup saya untuk melayani-Mu sebagai seorang dokter.” Dan doa saya pun didengar Tuhan, saya akhirnya dapat lulus dalam remedial terakhir.
Sejak saat itu saya merasakan bahwa Tuhan memberikan hikmat dan menuntun saya untuk mencapai percepatan yang luar biasa. Tuhan Yesus menyatakan kebesaran-Nya, saya dapat menyelesaikan studi sampai lulus menjadi seorang dokter umum tanpa suatu hambatan. Ajaibnya sebelum lulus, saya sudah mendapat tawaran kerja di rumah sakit swasta yang terkenal di kota Pekanbaru.
Tuhan membuka jalan buat saya untuk terus dapat melanjutkan pendidikan spesialis yang di luar pikiran saya sendiri. Awalnya saya tidak berencana untuk melanjutkan ke spesialis THT, namun Tuhan menuntun dan membuka jalan hingga sampai ke sana. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu, demikianlah firman Tuhan. (Yesaya 55:8-9)
Bahkan dari sembilan peserta yang mendaftar hanya dua peserta yang diterima dan salah satunya adalah saya. Saya tidak mampu berbuat apapun tanpa Tuhan, saya percaya bahwa semua karena kasih karunia Tuhan Yesus buat saya. Tuhan terus beracara, Dia tidak pernah bekerja setengah-setengah, saat di semester terakhir Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) saya ditawarkan oleh konsulen untuk langsung mengambil pendidikan konsultan.
Selama dua tahun pendidikan konsultan mengharuskan saya untuk pulang-pergi meninggalkan suami dan anak. Hal ini bukan perkara yang mudah bagi saya. Saat itu saya berfokus untuk dapat menyelesaikan pendidikan saya dengan sebaik mungkin.
Saat yudisium, dari 15 orang yang akan dilantik, ada 3 orang yang dinyatakan belum layak di yudisium dengan alasan masih terlalu muda dari segi pengalaman kerja dan usia, dan saya adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Saya merasa tidak terima dan sempat protes kepada Tuhan serta berkata: “Bagaimana ini, saya sudah menyelesaikan semua persyaratan studi dangan baik, namun mengapa baru saat kelulusan saya baru tahu ada persyaratan seperti ini?”
Mujizat Tuhan terjadi. Ketika selesai melantik 12 orang tersebut, salah satu guru besar kami naik ke atas podium dan memanggil nama kami bertiga untuk di yudisium pada saat itu juga. Semua orang begitu kaget dengan keputusan profesor ini, namun saya percaya itu semua terjadi karena Tuhan, sungguh dahsyat.
Pada tahun 2019 setelah yudisium saya ditawarkan untuk bekerja kembali di RS Swasta di kota Pekanbaru dan dipercayakan memegang 3 grup RS secara bersamaan. Saat itu terjadi gesekan dalam rumah tangga saya, karena kesibukan, long distance marriage, komunikasi yang tidak baik, ego yang tinggi dari masing-masing kami sehingga membawa rumah tangga di ujung tanduk kehancuran hingga saya berpikir untuk mengakhirinya.
Dalam kondisi itu Tuhan Yesus mulai menegur dan menuntun saya. Saat sedang mengendarai mobil, saya melihat papan nama gereja di jalan. Saya ingat dulu sebelum menikah saya pernah beribadah di sana. Seolah Tuhan mengarahkan kepada saya untuk melihat ke gereja itu dan entah mengapa saya akhirnya mengajak suami untuk dapat beribadah bersama-sama di sana.
Suami saya biasanya selalu tertidur di gereja, namun untuk kali ini saya melihat dia dapat mengikuti ibadah dengan khusuk dari awal sampai akhirnya. Suatu hari ada pengumuman di gereja bahwa akan ada acara sepuluh hari malam pencurahan Roh Kudus untuk menyambut hari Pentakosta. Ada dorongan yang kuat dan kerinduan saya untuk dapat ikut pada acara itu sehingga kembali saya mengajak suami untuk hadir bersama.
Akhirnya saya bersama suami hadir dan duduk di atas balkon, saya tidak tahu kenapa pada saat firman Tuhan disampaikan dan saat doa pengurapan saya terus menangis tidak henti-hentinya. Saya baru mengerti sekarang bahwa saat itu saya sedang dilawat Tuhan dengan luar biasa, saya bahkan mendengar suara Tuhan yang mengatakan bahwa hati dan pikiran saya harus dapat berubah. Malam itu, saya bertobat dan merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk beribadah di BICC rayon 11, sekalipun kami belum mengenal siapa pun di sana.
Pada tahun 2020 saat pandemi kami juga mengikuti kembali malam pencurahan Roh Kudus onsite di gereja. Saat itulah kami dihampiri oleh salah satu pengerja di gereja dan memperkenalkan kami dengan bapak gembala, Ps. Ricky Nelson Tampubolon. Saya percaya ini adalah khairosnya Tuhan, kami dilayani dan merasa sangat diberkati.
Pada suatu malam jam 2 dini hari, saya terbangun dan mendengar seperti ada yang berkata ditelinga saya “Baptis“. Keesokan harinya saya berbicara kepada Ibu gembala, Ibu Maya Irana Pohe bahwa saya ingin dibaptis dan beliau langsung menyampaikan, bahwa hari Rabu, 15 Juli 2020 ada baptisan. Saya sungguh bersukacita, saya tidak takut sekalipun waktu itu masih pandemi, karena saya percaya ini adalah panggilan Tuhan atas hidup saya.
Sekalipun pada saat itu suami saya belum mau di baptis, namun dia sangat mendukung saya. Saya mengalami lahir baru dan memiliki hati yang haus dan lapar akan Firman Tuhan. Saya mengikuti talitakum tiap pagi, KOM 100, KOM 200 dan tergabung dalam COOL.
Puji Tuhan, Agustus 2021 suami saya mengalami kelahiran baru dan memberi diri untuk di baptis. Tuhan Yesus baik, rumah tangga kami terjadi rekonsiliasi ketika kami sama-sama fokus kepada Kristus, Tuhan Yesus memulihkan pernikahan kami. Saya percaya akan janji Tuhan dalam hidup saya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Saya tidak layak tetapi Tuhan Yesus yang melayakkan. Saya bersyukur diberikan otoritas sebagai anak Allah dan rekan sekerja-Nya. Melalui pekerjaan saya dapat menjadi seorang dokter yang melayani dan membawa jiwa-jiwa untuk dapat mengenal kasih Kristus. Saya semakin dibukakan bahwa inilah panggilan pelayanan saya. Tuhan Yesus baik buat saya, dalam setiap perjalanan hidup saya Dia setia, tidak pernah meninggalkan saya sampai detik ini.
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 11:36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya, Haleluya, Amin.
Minggu, 28 Desember 2025
Penanggung Jawab :
Pdm. Robbyanto Tenggala
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
