Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
HARVEST NOW
Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
HARVEST NOW
Ruang Remaja
"Segala perkara dapat kutanggung
di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
Filipi 4:13 (TB)
Kisah Tom Longboat: Pelari yang Tak Pernah Menyerah
Tom Longboat adalah seorang pelari maraton asal Kanada yang hidup di awal abad ke-20. Lahir pada tahun 1887 di sebuah desa kecil di Ontario, Tom tumbuh dalam kondisi yang keras dan penuh tantangan. Sebagai seorang anak asli suku Iroquois, Tom menghadapi banyak diskriminasi dan kesulitan karena latar belakang etnisnya. Namun, ia menemukan pelarian dalam olahraga, khususnya lari, yang kelak akan menjadi jalan hidupnya.
Pada tahun 1907, Tom mengikuti perlombaan maraton pertamanya. Meskipun ia tidak dilatih secara formal, ia berhasil memenangkan perlombaan tersebut dengan catatan waktu yang mengesankan. Kemenangan itu membuka jalan baginya untuk mengikuti kompetisi internasional, dan ia menjadi terkenal di dunia atletik sebagai pelari yang sangat cepat dan tangguh.
Namun, jalan hidup Tom tidak selalu mulus. Pada tahun 1912, Tom mengikuti perlombaan maraton di Boston, yang terkenal sebagai salah satu perlombaan maraton paling menantang di dunia. Meskipun ia merupakan salah satu favorit untuk menang, perlombaan itu hampir menjadi awal dari akhir kariernya.
Saat menjalani perlombaan tersebut, Tom merasa sangat kelelahan dan mengalami cedera di bagian kaki. Rasa sakit itu begitu parah hingga ia merasa hampir tak mampu melanjutkan. Dalam kondisi seperti itu, banyak pelari lain yang memilih untuk berhenti, tetapi Tom memutuskan untuk bertahan, berpegang pada tekad dan semangat juangnya. Ia terus berlari meskipun rasa sakit menguasai tubuhnya. Di tengah perlombaan, ia hampir pingsan, namun dengan tekad yang kuat, ia berhasil menyelesaikan maraton itu dan meraih juara pertama, mengalahkan para pesaingnya yang lebih terlatih dan berpengalaman.
Kemenangan itu tidak hanya menunjukkan keberhasilan fisik, tetapi juga kekuatan mental yang luar biasa. Tom menunjukkan bahwa ketika seseorang bertahan dan tidak menyerah, bahkan di tengah-tengah kesulitan terbesar sekalipun, ia bisa mengatasi segala hal. Tom Longboat tetap menjadi simbol ketahanan, dan ia menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah dalam menghadapi tantangan hidup, apapun bentuknya.
Setelah kemenangan tersebut, meskipun ia mengalami lebih banyak cedera dan kesulitan fisik, Tom tetap mempertahankan kariernya sebagai pelari profesional. Ia melanjutkan untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi maraton internasional hingga akhirnya pensiun pada tahun 1920.
Apa kata Alkitab tentang Kekuatan dalam Kristus?
Filipi 4:13 mengingatkan kita bahwa dalam setiap cobaan hidup, kita memiliki kekuatan untuk menghadapinya karena Kristus yang memberikan kita kekuatan. Tom Longboat adalah contoh nyata bahwa dengan ketekunan, keberanian, dan iman pada diri sendiri, kita dapat melewati segala rintangan yang ada. Kemenangan terbesar bukan hanya dalam perlombaan fisik, tetapi dalam mengatasi kesulitan hidup dengan tekad yang tidak tergoyahkan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kisah Tom Longboat mengajarkan kita bahwa tidak ada tantangan yang terlalu besar jika kita terus berjuang dan percaya bahwa kita mampu menghadapinya. Ketahanan dan kesetiaan adalah kunci untuk mengatasi segala kesulitan, baik di arena olahraga maupun kehidupan sehari-hari. Dalam Kristus, kita memiliki kekuatan untuk bertahan dan mengatasi semua hal yang datang. (MA).
"With God’s strength,
perseverance turns struggles into victories."
Anonymous
Ruang Keluarga
Dalam kehidupan, ada prinsip yang tidak dapat diabaikan, yaitu hukum tabur tuai. Prinsip ini berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam keluarga. Apa yang ditaburkan seseorang hari ini, akan menentukan hasil yang dituainya di masa depan. Hukum tabur tuai ini sangat relevan bagi orangtua dalam mendidik dan membimbing anak-anak mereka. Keluarga bukanlah tempat di mana anak-anak secara otomatis menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya, mereka membutuhkan bimbingan, perhatian, dan teladan yang baik agar bertumbuh menjadi generasi yang cinta Tuhan dan tidak kompromi terhadap dosa.
Keluarga sebagai Ladang
Keluarga adalah tempat pertama di mana anak-anak menerima nilai-nilai kehidupan. Orangtua adalah penabur utama dalam keluarga, dan apa yang mereka tanam dalam kehidupan anak-anak akan menentukan bagaimana masa depan anak-anak tersebut. Sebagaimana firman Tuhan dalam Galatia 6:7 mengatakan,
"Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."
Artinya, apa pun yang ditanamkan orangtua dalam kehidupan anak-anak—baik atau buruk—akan menghasilkan buah yang sesuai.
Seorang petani yang ingin mendapatkan hasil panen yang baik tidak akan sembarangan dalam menanam benih. Ia akan memastikan bahwa tanahnya subur, benihnya berkualitas, dan perawatannya dilakukan dengan baik. Demikian pula dalam keluarga, orangtua yang menginginkan anak-anak yang takut akan Tuhan harus dengan sengaja menanamkan nilai-nilai yang benar sejak dini.
Menabur yang Baik untuk Menuai Generasi Yang Takut Akan Tuhan
Menjadikan keluarga sebagai ladang penaburan yang baik membutuhkan usaha dan komitmen dari orangtua. Ada beberapa hal yang perlu ditaburkan dalam kehidupan anak-anak agar mereka bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan:
1. Menabur Kasih, Menuai Keharmonisan
Kasih adalah dasar utama dalam keluarga Kristen. Yesus mengajarkan dalam Yohanes 13:34,
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”
Setiap anggota keluarga menunjukkan kasih yang nyata dalam perkataan dan Tindakan sehari-hari. Bahkan orang tua menjadi teladan kasih karena anak-anak belajar kasih bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat.
Salah satu bentuk dari kasih adalah pengampunan. Setiap anggota keluarga saling mengampuni ketika terjadi kesalahan. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang anggotanya dapat meminta dan memberi pengampunan.
Jika kasih ditabur dengan konsisten dalam keluarga, hasilnya adalah hubungan yang kuat, harmonis, dan penuh sukacita.
2. Menabur Waktu dan Perhatian, Menuai Keintiman
Kehadiran orangtua dalam kehidupan anak-anak sangatlah penting. Anak-anak yang merasa diperhatikan dan dicintai akan lebih mudah menerima nilai-nilai yang diajarkan. Menghabiskan waktu bersama, mendengarkan mereka, dan memberikan perhatian yang tulus akan membentuk sebuah hubungan yang lebih dekat dan bermakna. Waktu yang berkualitas harus dipersiapkan, bukan hanya menunggu kalau ada waktu.
3. Menabur Firman Tuhan, Menuai Generasi yang Takut Akan Tuhan
Salah satu tanggung jawab terbesar orang tua dalam keluarga Kristen adalah menanamkan nilai-nilai ilahi kepada anak-anak mereka. Amsal 22:6 mengatakan,
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Menabur Firman Tuhan dalam keluarga dapat dilakukan dengan:
Memperkenalkan dan mengajarkan anak-anak tentang Tuhan sejak dini. Orang tua harus menjadi teladan dalam doa, membaca Alkitab, dan menerapkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan mezbah keluarga, berdoa bersama, membaca Firman, dan berdiskusi tentang kehidupan rohani akan memperkuat iman setiap anggota keluarga. Mendorong anak-anak untuk hidup dalam ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan harus diajarkan dengan kasih dan disiplin yang seimbang.
Jika orang tua rajin menabur Firman Tuhan dalam kehidupan anak-anak mereka, maka mereka akan bertumbuh menjadi generasi yang takut akan Tuhan dan hidup dalam kebenaran.
4. Menabur Hormat, Menuai Hubungan yang Sehat
Dalam Efesus 6:1-3, Rasul Paulus menulis,
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi."
Hormat dalam keluarga bukan hanya tugas anak kepada orang tua, tetapi juga sikap yang harus dipelihara oleh setiap anggota keluarga:
a. Suami dan istri harus saling menghormati.
Perkataan dan sikap yang penuh respek akan membangun hubungan yang kuat.
b. Orang tua harus menghormati anak sebagai pribadi yang berharga.
Ini berarti mendengarkan mereka, menghargai pendapat mereka, dan mendidik mereka dengan penuh kasih.
c. Anak-anak harus diajarkan untuk menghormati orang tua sejak dini.
Jika anak dibiasakan untuk menghargai orang tua dan sesama, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan menghormati Tuhan.
5. Menabur Disiplin, Menuai Karakter yang Kuat
Disiplin yang benar bukanlah bentuk hukuman, tetapi cara membentuk karakter yang kuat dalam kehidupan anak-anak. Ibrani 12:11 mengatakan,
"Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita, tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya."
Menabur disiplin yang sehat dalam keluarga berarti:
a. Menetapkan aturan yang jelas dan adil.
Anak-anak perlu memahami batasan dan konsekuensi dari tindakan mereka.
b. Mendisiplin dengan kasih, bukan kemarahan.
Hukuman yang diberikan harus bertujuan mendidik, bukan melampiaskan emosi dan menghancurkan.
c. Menjadi teladan dalam kedisiplinan.
Anak-anak belajar lebih banyak dari tindakan orang tua daripada dari kata-kata mereka.
Jika disiplin diterapkan dengan baik, anak-anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan memiliki integritas.
Hukum tabur tuai dalam keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak mereka. Generasi yang takut akan Tuhan tidak muncul secara otomatis, tetapi merupakan hasil dari penaburan yang disengaja dan konsisten.
Dengan menabur kasih, keteladanan, pengajaran firman Tuhan, disiplin yang benar, dan doa, orangtua akan menuai generasi yang hidup dalam kebenaran dan takut akan Tuhan. Oleh karena itu, mari menjadi penabur yang bijaksana, agar kita dapat menuai hasil yang berkenan di hadapan Tuhan dan menjadi berkat bagi dunia. Amin! (TB)
Ruang Kesaksian
"Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya,
ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."
Amsal 11:24
Perkenalkan nama saya Tuti. Saya ingin menyaksikan tentang kebaikan Tuhan dan bagaimana Tuhan memberkati saya dengan cara-Nya Tuhan.
Saya melayani sebagai pendoa di GBI ICON, Rayon 1F di bawah penggembalaan Bapak Pdt. Budi Satradiputra. Namun saat ini saya menetap di Balikpapan, Kalimantan Timur. Puji Tuhan, hampir semua kegiatan dapat diikuti melalui zoom, sehingga saya tetap bisa bersekutu dan mengikuti kegiatan yang ada.
Pada suatu ibadah Minggu, tiba-tiba dalam hati timbul keinginan untuk memberi persembahan sebesar Rp. 500.000. Dalam hati saya meresponi, "Tuhan bercanda ya", karena di rekening saya hanya ada sekitar Rp. 600.000 itupun untuk membayar asuransi dan untuk kebutuhan lain-lain saja belum cukup. Karena saat ini saya part time dan belum memiliki pekerjaan tetap. Tetapi saya tetap mau taat dan menstransfer sejumlah Rp.500.000 ke rekening GBI Icon sesuai perintah-Nya.
Sore harinya, seorang sahabat yang tinggal di Singapura menghubungi saya, kami memang telah bersahabat sejak tahun 2004. Pertemanan kami berawal saat saya bekerja di Shanghai, ia juga yang selalu mengajak saya ke gereja karena pada waktu itu saya belum lahir baru.
Beliau mengatakan "Tuti, Tuhan bekerja melalui saya untuk memberkatimu" dalam hati saya berkata, "wah, Tuhan dahsyat" persembahannya saja belum dipikirkan, namun sudah ada yang mau memberkati. Sahabat saya juga mengatakan "kamu doa ya dan tanya Tuhan berapa jumlah yang harus dikirim".
Saya berdoa, berapa jumlahnya? hampir 3 bulan saya berdoa, tetapi tidak ada tanda-tanda dari Tuhan berapa jumlahnya. Waktu terus berjalan dan saya pun melupakan hal tersebut.
Sampai pada suatu hari, ketika kami sedang sharing tentang kebaikan Tuhan melalui telepon, tiba-tiba sahabat saya mengingatkan kembali. "Tuti berkatmu masih ada ya, tanya Tuhan berapa jumlah yang harus saya kirim".
Beberapa waktu kemudian pada hari Sabtu, saat doa pengerja di GBI Icon diumumkan tentang perayaan ibadah Natal tgl 19 Desember 2021. Disampaikan juga tentang biaya-biaya yang diperlukan. Saya ingin ikut memberi persembahan Natal, tetapi saya tidak mempunyai dananya.
Kembali teringat akan sahabat saya yang tinggal di Singapura, "tanya Tuhan, berapa jumlah yang harus saya kirim?". Tetapi sampai di Minggu terakhir bulan November 2021, belum juga ada jawaban dari Tuhan berapa jumlah nominalnya.
Tiba-tiba timbul dalam hati, karena saya belum tahu berapa jumlahnya, anggap saja saya pinjam. Jujur saya sampaikan bahwa sampai sekarang saya belum menerima jawaban dari Tuhan, berapa jumlah yang harus saya minta. Namun karena waktu yang mendesak, saya utarakan bagaimana kalo anggap saja saya pinjam SGD $1000.
Sahabat saya meresponi "Tuti, kamu ngak usah kuatir tentang pinjamanmu itu, saya tidak meminjami dan kamu tidak perlu berhutang". Tetapi karena dia sangat sibuk pindahan, jadi baru bisa transfer di tanggal 10 Desember 2021.
Sekedar memastikan transferan tidak ada masalah maka tanggal 13 Desember 2021, SGD$10 Sin (Rp. 104.167) masuk di rekening. Setelah transferan berhasil dan tidak beberapa lama masuk lagi sejumlah SGD$1,200 Sin (Rp. 12.371.134).
Di tanggal yang sama seorang teman di Belanda memberkati sejumlah £50 Euro (Rp. 798.814), kemudian pada tanggal 22 dan 24 Desember, saya juga menerima tambahan berkat sejumlah Rp. 1.500.000 dari saudara seiman.
Saya hanya bisa menangis dan tak henti-hentinya berterima kasih kepada Tuhan. Pada tanggal 15 Desember saya pun memberikan perembahan Natal, selain itu saya juga tergerak untuk memberkati beberapa orang.
Hitungan matematika Tuhan sangat berbeda dengan hitungan matematika dunia. Firman Tuhan mengatakan dalam Lukas 6:38
"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu".
Dari kerinduan untuk memberi, Tuhan yang menyediakan berkat yang tidak terduga. Dari Rp. 600.000 – Rp. 500.000 = Rp. 13.274.115 – Rp. 1.000.000 (persembahan natal) = Rp. 12.274.115 + Rp. 1.500.000 = Rp. 13.774.115 jumlah ini yang Tuhan berikan dan dari jumlah ini saya membagi lagi sesuai yang Tuhan taruhkan untuk memberi termasuk anak-anak kecil saat natalan di rumah. Saya sengaja buat transparan angka-angkanya biarlah nama Tuhan yang semakin di tinggikan dan dimuliakan, supaya yang belum percaya bahwa Tuhan Yesus itu nyata boleh percaya.
Pada saat kita taat memberi dengan tulus apa yang kita miliki tidak akan berkurang. Tetapi justru bertambah, itulah hitungan matematikanya Tuhan. Memang benar orang percaya tidak akan pernah minta-minta. Tetapi berkat-berkat itu yang Tuhan kirim buat mereka yang setia dan taat melakukan apa Tuhan mau kita lakukan. Meskipun ada proses yang harus kita lewati. Tuhan Yesus memberkati.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.