Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
DOSA MASA DEPAN SUDAH DIAMPUNI?
Ruang Remaja

"Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau,
dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua."
Amsal 23:22 (TB)
Kisah Mark Zuckerberg: Komunikasi dan Nasihat yang Menyelamatkan Facebook
Di usia remaja dan awal dua puluhan, kita sering merasa bahwa kita tahu segalanya, terutama tentang teknologi dan tren saat ini. Ada godaan besar untuk mengabaikan nasihat dari orang tua atau mentor yang dianggap "ketinggalan zaman."
Namun, kisah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook (sekarang Meta), membuktikan bahwa bahkan seorang genius muda yang merevolusi teknologi pun membutuhkan hikmat dari generasi yang lebih tua.
Pada masa-masa awal yang kacau di Facebook, Zuckerberg dan tim mudanya sering membuat keputusan yang sangat berisiko. Salah satu momen krusial adalah ketika para investor mendesak Zuckerberg untuk menjual Facebook seharga $1 miliar. Angka itu sangat menggiurkan bagi perusahaan startup muda saat itu.
Zuckerberg sangat tergoda untuk menjual, tetapi ia mendapat nasihat penting dari mentor bisnis yang lebih tua, termasuk dari board member yang ia hormati. Nasihat mereka tidak hanya dari sudut pandang finansial, tetapi dari sudut pandang visi dan dampak jangka panjang. Mereka mendesak Zuckerberg untuk melihat potensi jangka panjang Facebook sebagai sebuah platform yang akan menghubungkan dunia, bukan sekadar sebagai transaksi uang cepat.
Karena mendengarkan dan menghormati perspektif yang lebih matang—sebuah perspektif yang ia dan teman-temannya yang sebaya tidak miliki—Zuckerberg menolak penjualan tersebut dan memilih untuk terus membangun. Keputusan ini, yang dipicu oleh nasihat yang berhikmat, mengubah nasib Facebook dan membawanya pada nilai yang tak terhingga.
Relevansi dengan Alkitab: Menghormati Sumber Hikmat
Kisah Zuckerberg yang bersedia menundukkan egonya dan mendengarkan nasihat selaras dengan ajaran fundamental dalam Amsal 23:22 dan kitab Hikmat lainnya. Tuhan sering menempatkan hikmat yang kita butuhkan pada orang-orang yang sudah melalui pengalaman hidup yang lebih panjang—terutama orang tua dan mentor kita.
Di tengah keputusan-keputusan penting (memilih jurusan kuliah, memilih pasangan, atau menghadapi konflik), remaja sering melihat masalah dari sudut pandang emosi atau tren sesaat. Orang tua atau mentor, karena pengalaman mereka, mampu memberikan perspektif yang lebih tenang dan jangka panjang.
Menghormati orang tua atau mentor bukan berarti selalu setuju secara membabi buta, tetapi berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan mempertimbangkan nasihat mereka dengan kerendahan hati. Mereka telah melihat skenario buruk yang belum pernah kita lihat. Hikmat mereka adalah perlindungan dari Tuhan untuk kita.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Dengarkan Pengalaman, Bukan Hanya Pendapat
Orang tua mungkin tidak tahu cara kerja TikTok, tetapi mereka tahu cara kerja hubungan manusia dan integritas. Hargai pengalaman hidup mereka.
2. Minta Nasihat di Area Kekuatan Mereka
Jika kamu punya masalah keuangan, tanyakan pada orang tuamu bagaimana mereka mengelola uang. Jika sedang dalam masalah hubungan, tanyakan bagaimana mereka membangun pernikahan atau persahabatan jangka panjang.
3. Hormat Adalah Kunci
Tunjukkan rasa hormat dalam cara kamu berbicara dan mendengarkan mereka. Sikap terbuka akan membuat mereka lebih mudah membagikan hikmat berharga.
4. Hikmat Adalah Perlindungan
Pandangan dari orang yang lebih tua seringkali adalah safety net yang Tuhan pasang untuk mencegahmu jatuh ke dalam kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.
Sebagai remaja, jangan biarkan ego usia mudamu menghalangimu dari hikmat berharga. Carilah nasihat, dengarkanlah, dan gunakanlah itu untuk membuat keputusan yang bijak. (MA)
"Running a company is about building an organization,
not just building a product."
Mark Zuckerberg
Dunia Kita

Penguin dikenal sebagai burung laut yang lucu dan berjalan dengan cara yang unik. Namun di balik kelucuannya, penguin memiliki kebiasaan romantis yang tidak banyak orang tahu. Saat musim kawin tiba, penguin jantan akan mencari batu kecil yang paling bagus untuk diberikan kepada penguin betina yang ia sukai.
Batu kecil ini bukan sekadar benda biasa. Bagi penguin, batu tersebut adalah simbol perhatian dan keseriusan untuk membangun sarang bersama pasangannya.
BATU SEBAGAI TANDA KESERIUSAN
Di wilayah dingin seperti Antartika, bahan untuk membuat sarang sangat terbatas. Karena itulah batu kecil menjadi bahan yang sangat berharga. Penguin jantan akan mencari batu terbaik, lalu membawanya dengan hati-hati dan meletakkannya di depan penguin betina.
Jika betina menerima batu tersebut, itu berarti ia menerima penguin jantan sebagai pasangannya. Setelah itu, mereka akan bekerja sama mengumpulkan lebih banyak batu untuk membangun sarang tempat mereka bertelur.
KESETIAAN YANG MENGAGUMKAN
Banyak spesies penguin dikenal sebagai hewan yang setia pada satu pasangan dalam satu musim kawin. Bahkan ada yang kembali mencari pasangan yang sama setiap tahun. Mereka juga bergantian menjaga telur dan mencari makanan di laut. Ketika salah satu pergi berburu makanan, pasangannya tetap tinggal untuk menjaga telur agar tetap hangat di tengah suhu yang sangat dingin.
APA KATA ALKITAB?
Kejadian 2:24 berkata:
"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."
Kesetiaan yang terlihat dalam kehidupan penguin mengingatkan kita bahwa Tuhan juga merancang hubungan yang didasarkan pada komitmen, kerja sama, dan kesetiaan.
KESIMPULAN
Penguin menunjukkan bahwa perhatian kecil dapat memiliki arti yang besar. Sebuah batu sederhana bisa menjadi simbol kasih, komitmen, dan kerja sama dalam membangun kehidupan bersama.
Fakta unik ini mengingatkan kita bahwa dalam hubungan, bukan hadiah besar yang paling penting, tetapi ketulusan hati, kesetiaan, dan kemauan untuk berjalan bersama menghadapi kehidupan. (MA)
Ruang Kesaksian

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,
yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air,
yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,
dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau,
yang tidak kuatir dalam tahun kering,
dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."
Yeremia 17:7-8(TB)
Perkenalkan nama saya Lisyanti dan suami saya Jacob Suantono. Pernikahan kami dikaruniai dengan empat orang anak. Kami melayani di GBI HOG, Rayon 3 Gading Serpong-Tangerang. Dalam kesempatan ini saya ingin menyaksikan kebaikan Tuhan yang telah kami alami.
Pada tahun 1998, lahir anak kedua kami sepasang bayi kembar laki-laki secara premature, sehingga harus dirawat di ruang NICU dengan pengawasan dokter. Saat itu, Indonesia sedang menghadapi krisis moneter, dampaknya begitu besar sehingga banyak perusahaan yang bangkrut dan karyawannya di PHK, salah satunya termasuk suami saya.
Saat itu, suami saya diberhentikan dari tempat kerjanya dan hanya diberikan setengah gaji. Tiga minggu setelah anak kami dirawat, kami harus memutar otak, kami bingung untuk menyelesaikan biaya rumah sakit yang cukup tinggi dengan keuangan kami yang sangat pas-pasan.
Setelah lima hari, saya diijinkan pulang ke rumah. Namun baru satu hari di rumah saya terpaksa harus kembali dirawat di rumah sakit karena terjadi pembengkakan pada rahim. Saya merasakan begitu sangat kesakitan sampai tidak dapat berjalan. Kembali masuk rumah sakit tentunya membutuhkan biaya tambahan lagi.
Tidak mudah bagi saya untuk melewati masa-masa sulit seperti ini. Banyak air mata, tekanan dan kesedihan membuat saya merasa begitu down. Hanya kekuatan dari Tuhan Yesus yang memampukan, sehingga saya dapat melaluinya.
Setelah tiga minggu, akhirnya anak kami di perbolehkan pulang ke rumah. Rasa syukur dan sukacita memenuhi hati kami. Tetapi belum sampai satu bulan di rumah, salah satu anak kembar kami tersedak susu oleh karena kecerobohan pengasuhnya. Kami panik, langsung membawa bayi kami ke rumah sakit dengan kondisi yang sudah membiru diwajahnya.
Setibanya di rumah sakit kami ditegur dengan keras oleh dokter, karena jika telat satu jam saja bayi kami bisa meninggal. Akhirnya anak kami kembali dirawat di ruang NICU. Saya merasakan keadaan yang sangat sulit, karena begitu banyak masalah yang datang secara beruntun. Saat itu saya mulai merasa tidak kuat, timbul rasa kekhawatiran dan kesedihan serta air mata yang mengalir setiap hari.
Pada saat sedang dirawat di rumah sakit, semalaman bayi kami menangis tidak mau tidur. Keesokan paginya saya memutuskan ke rumah sakit dan minta tolong kepada dokter untuk dapat mengijinkan kami tinggal dalam satu kamar dengan bayi kami yang di rawat. Puji Tuhan, permintaan kami diijinkan oleh dokter sehingga kami sekeluarga bersama dengan anak yang paling besar dapat tidur di rumah sakit, sehingga bayi kami menjadi sehat kembali.
Kami mulai menata kembali kehidupan kami dengan mengatur keuangan rumah tangga, semua pengeluaran diatur dengan hanya mengandalkan sisa uang di tabungan saja. Kami mengutamakan kebutuhan anak-anak, namun dalam kondisi ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kami untuk dapat selalu bersyukur.
Perlahan-lahan kami mulai bangkit. Selama 8 bulan lebih suami melamar pekerjaan pada akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang baru dan mulai bekerja kembali. Puji Tuhan, setelah tiga tahun melewati masa-masa sulit akhirnya kondisi keluarga kami di pulihkan.
Saat ini anak perempuan pertama kami sudah menyelesaikan studi D4 perhotelan dan sekarang sudah menikah. Anak kedua laki-laki kembar kami sudah menyelesaikan kuliahnya. Kakaknya mengambil kedokteran dan sedang menyelesaikan KOAS terakhir di Semarang. Sedangkan adiknya sudah menjadi Sarjana ilmu komunikasi dan melanjutkan S2 management. Anak terakhir kami sudah semester 3 kuliah dibidang IT.
Bila melihat perjalanan hidup kami di tahun 1998, sekarang kami baru mengerti bahwa Tuhan ijinkan kami mengalami kondisi yang kurang baik, agar kami dapat lebih kuat untuk menghadapi masalah yang ada di depan.
“Pencobaan-pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita”
1 Korintus 10:13
Semua oleh karena kasih anugerah Tuhan Yesus bagi keluarga kami, yang terus menuntun kami untuk berjalan bersama-Nya.
Memasuki tahun 2021, pandemi melanda hampir seluruh dunia. Hal ini berdampak pula pada pekerjaan suami saya, perusahaannya banyak mengurangi karyawan yang sudah lama bekerja. Suami sayapun dipensiunkan diawal Januari 2021
Ketika mengetahui suami dipensiunkan, jujur sebagai manusia saya mulai merasa kuatir, saya terus berdoa bertanya kepada Tuhan. Namun di dalam pergumulan doa. Tuhan mengingatkan kepada situasi kami di tahun 1998, pada saat krisis moneter. Saat itu Tuhan seperti bertanya, “Pernahkah pada saat kamu mengalami krisis moneter, dalam satu hari saja kamu dan keluargamu tidak dapat makan? Mengapa sekarang kamu harus kuatir?”
Mendengar teguran dari Tuhan seperti itu saya hanya dapat menangis dan menjawab, ”Tidak pernah kelaparan, Tuhan. Dan saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sekeluarga.”
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Filipi 4:6-7
Sejak saat itu saya lebih tenang dalam menghadapi masalah, ada damai sejahtera dihati, saya meresponi dengan bersyukur atas setiap permasalahan yang kami hadapi, pasti Tuhan mempunyai rencana yang indah.
Suami saya suka berinvestasi dan puji Tuhan, pada akhir tahun 2018 semua cicilan untuk investasi sudah lunas, sehingga kami sudah tidak ada kewajiban untuk membayar cicilan lagi. Memasuki tahun 2019, suami berniat mengambil ruko untuk investasi. Seperti biasa dia selalu berdiskusi dengan saya dan kami sama-sama bawa di dalam doa. Tetapi pada saat itu saya merasa tidak ada damai sejahtera dan Tuhan menaruh di dalam hati saya untuk berhenti dulu berinvestasi.
Tahun 2019 kami tidak jadi mengambil ruko untuk investasi. Kami hanya mengelola investasi yang sudah ada. Kami sangat bersyukur sekali Tuhan menuntun kami dan kami belajar taat kepada tuntunan Tuhan untuk tidak mengambil ruko di tahun 2019. Kalau saja pada saat itu kami tidak mau mendengar petunjuk Tuhan, tidak dapat dibayangkan dengan kondisi sekarang, dampak dari pandemi dimana kami sudah tidak ada lagi pemasukan tetap, karena suami saya sudah pensiun.
Kami juga mengalami hal yang kurang baik diawal tahun 2020, yaitu pada awal masuknya COVID-19 ke Indonesia. Cafe yang baru kami buka 14 bulan terpaksa harus ditutup karena pandemi dan merumahkan seluruh karyawan. Ada kesedihan dihati saat cafe dengan terpaksa harus di tutup. Tetapi kembali lagi kami harus bersyukur dengan apa yang kami alami. Sekalipun terkadang kami tidak mengerti rencana Tuhan, kami tetap mau belajar bersyukur.
Bulan Pebruari 2021, suami bersama salah seorang temannya merintis sebuah usaha kontraktor, dan terus berjalan sampai hari ini. Hampir tiga tahun pandemi kita alami bersama-sama, namun Tuhan pelihara hidup kita. Tanpa Tuhan tidak mungkin kami bisa melaluinya.
Jika dahulu keadaan terberat dapat kami lalui bersama dengan Tuhan yang selalu menolong, kami mempunyai iman yang sama disaat pademi. Kami akan melewatinya berjalan bersama dengan Tuhan. Respon yang baik dan benar, adalah bersyukur dengan permasalahan yang ada, Tidak kuatir, tetap percaya dan sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Setiap kegagalan adalah pembelajaran buat kami.
Tetaplah mengandalkan Tuhan Yesus, jangan mengandalkan kekuatan sendiri, karena kta tidak akan kuat tanpa tuntunan Tuhan. Selalu melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kehidupan kita, selalu bawa di dalam doa karena Tuhan mempunyai rancangan hidup yang indah bagi setiap anak-anak-Nya yang selalu berharap kepada-Nya.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
Yeremia 17:7-8
Saya percaya di dalam pengucapan syukur ada kuasa Tuhan yang besar dinyatakan di dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mustahil yang Tuhan kerjakan, ada rahasia yang tidak kita mengerti yang Tuhan singkapkan kepada kita. Hati kita harus terus melekat kepada Tuhan Yesus dan terus mengandalkan Tuhan Yesus dalam setiap langkah kita. Karena tanpa Tuhan Yesus kita tidak akan mampu melalui semuanya.
Mempunyai hati yang ikhlas diproses oleh Tuhan, tetap kuat dan bangkit bersama Tuhan, libatkan Tuhan di dalam setiap rencana kehidupan kita. Tetap berdoa, bertekun dan tetap fokus kepada Tuhan. Terus berjalan bersama Tuhan Yesus, percayalah pandemi ini pasti berlalu, kita bersama-sama pasti bangkit kembali di dalam nama Yesus, Amin.
Penanggung Jawab :
Pdm. Robbyanto Tenggala
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
