VALIDASI DARI LIKES ATAU DARI TUHAN?

Posted by Admin 2026-09-04

blog-post-image

“Postinganku sudah sejam, kok baru dapat 5 likes?”

Pernah nggak sih kamu menghapus postingan karena likes-nya sedikit? Atau merasa senang banget ketika sebuah foto tiba-tiba ramai, banyak yang komentar, banyak yang bilang kamu keren? Tanpa sadar, angka di media sosial bisa memengaruhi cara kita melihat diri sendiri.

Hari ini kita hidup di zaman ketika validasi bisa datang dalam hitungan detik. Satu foto bisa mendapat ratusan likes, satu video bisa viral, dan satu komentar positif bisa bikin mood seharian bagus. Tapi sebaliknya, ketika responsnya sepi, kita mulai bertanya, “Aku kurang menarik, ya?” “Aku nggak cukup keren?” “Kenapa orang lain bisa, tapi aku nggak?”

Ketika Likes Menjadi Ukuran Harga Diri

Masalahnya bukan pada likes itu sendiri. Mendapat apresiasi tentu menyenangkan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika likes mulai menentukan nilai diri kita.

Kalau banyak likes, kita merasa berharga. Kalau sedikit, kita merasa gagal. Kalau dipuji, kita percaya diri. Kalau dikritik, kita langsung merasa tidak berarti. Akhirnya kita bukan lagi sekadar menggunakan media sosial, tetapi mulai hidup untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Padahal, jumlah likes tidak pernah bisa menentukan siapa diri kita sebenarnya.

Tuhan Melihat Lebih Dalam dari Apa yang Dilihat Orang

Alkitab mengingatkan dalam 1 Samuel 16:7 bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Ini berarti nilai kita tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain merespons kita. Tuhan tidak melihat kita berdasarkan jumlah followers, views, likes, pencapaian, penampilan, atau seberapa terkenal kita. Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memberikan apresiasi, Tuhan tetap melihat dan mengenal kita.

Identitas kita tidak perlu dibangun dari komentar manusia karena kita sudah memiliki nilai di hadapan Tuhan.

Jadi, Untuk Siapa Kita Hidup?

Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku tetap mau melakukan ini?”

Kalau kita hanya merasa berharga ketika mendapatkan perhatian, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan memeriksa hati.

Gunakan media sosial untuk berbagi, berkarya, menginspirasi, dan menjadi berkat. Tetapi jangan biarkan media sosial menjadi tempat kita mencari identitas.

Likes bisa naik dan turun. Followers bisa bertambah atau berkurang. Tapi kasih Tuhan tidak berubah. Kalau akhir-akhir ini kamu merasa harus terus mendapatkan pengakuan dari orang lain supaya merasa cukup, kamu nggak harus menghadapinya sendirian. HMChats adalah platform curhat online dari GBI Gatsu tempat kamu bisa membagikan cerita dan pergumulanmu. Kamu tidak akan dihakimi, tetapi ditemani dan diarahkan untuk mengambil langkah yang bijaksana berdasarkan kasih dan kebenaran Firman Tuhan. (MA)