TUHAN, BAGAIMANA HIDUPKU KALAU TANPA IBU?

Posted by Admin 2026-09-24

blog-post-image

Pernah nggak, di tengah malam, tiba-tiba kepikiran satu hal yang paling kita takutkan?

 

“Tuhan… bagaimana hidupku kalau suatu hari aku harus tanpa Ibu?”

 

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi buat sebagian dari kita, pertanyaan itu bisa bikin dada sesak.

 

Karena Ibu bukan cuma seseorang yang melahirkan kita.

 

Ibu adalah rumah.

 

Tempat kita pulang ketika dunia terasa terlalu berisik.
Tempat kita cerita meskipun ceritanya kadang nggak penting.
Orang yang mungkin paling sering kita abaikan, tapi diam-diam paling sering mendoakan kita.

 

Dan semakin dewasa, kita mulai sadar…

 

Waktu bersama Ibu ternyata nggak sebanyak yang kita kira.

 

Dulu kita mungkin berpikir, “Nanti aja teleponnya.”
“Nanti aja pulangnya.”
“Nanti kalau sudah punya uang, aku bahagiain Ibu.”

 

Tapi hidup nggak pernah menjanjikan kata nanti.

 

Itulah kenapa terkadang Tuhan mengizinkan kita berhenti sejenak dan menyadari: orang yang selama ini kita anggap akan selalu ada, ternyata juga manusia yang punya batas waktu.

 

Dan jujur, itu menakutkan. Kita bisa kehilangan banyak hal dalam hidup. Pekerjaan bisa dicari lagi. Uang bisa dicari lagi. Rumah bisa dibangun lagi.

 

Tapi kalau kehilangan Ibu?

 

Rasanya seperti kehilangan bagian dari diri sendiri.

 

Lalu kita bertanya kepada Tuhan,

 

“Kalau nanti aku benar-benar harus berjalan tanpa Ibu, siapa yang akan menguatkanku?”

 

Mungkin jawabannya bukan bahwa Tuhan akan membuat kita tidak pernah kehilangan.

 

Tapi Tuhan berjanji bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.

 

Dalam Mazmur 23:4 tertulis:

 

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

 

Mungkin hari ini kita belum siap membayangkan hidup tanpa Ibu.

 

Dan nggak apa-apa.

 

Kita nggak harus memikirkan seluruh masa depan hari ini.

 

Kalau hari ini Ibu masih bisa kita peluk, peluklah.

 

Kalau masih bisa ditelepon, teleponlah.

 

Kalau masih bisa mendengar suaranya, dengarkanlah lebih lama.

 

Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang.

 

Dan kalau hari ini Ibu sedang sakit, sedang lemah, atau sedang berjuang melawan sesuatu yang bahkan tidak bisa kita kendalikan…

 

Mari belajar menyerahkan ketakutan itu kepada Tuhan. Bukan karena kita yakin semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. Tetapi karena kita percaya,

 

Tuhan tetap baik bahkan ketika kita tidak mengerti jalan-Nya.

 

Tuhan, kalau boleh jujur…

Aku belum siap kehilangan Ibu.

Aku masih ingin melihat senyumnya.
Masih ingin mendengar cerewetnya.
Masih ingin membuatnya bangga.
Masih ingin punya lebih banyak waktu bersamanya.

Jadi, Tuhan…

Kalau hari ini aku masih diberi kesempatan, ajari aku untuk tidak menyia-nyiakannya.

Ajari aku mencintai Ibu bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat waktu, perhatian, dan kehadiranku.

Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar harus berjalan tanpa Ibu…

Tolong, Tuhan, pegang tanganku lebih erat.

Karena mungkin aku akan kehilangan tempat pulang di dunia ini.

Tapi aku percaya…

aku tidak pernah kehilangan tempat pulang di dalam-Mu.

Amin.

 

(MA).