SELAMAT SAMPAI AKHIR

Posted by Admin 2026-06-02

blog-post-image

"Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."
Matius 24:13 (TB)

Kisah Nyata: Eric Liddell – Setia Sampai Akhir

Pada awal abad ke-20, seorang atlet muda dari Skotlandia menjadi terkenal karena kecepatannya di lintasan lari. Namanya adalah Eric Liddell. Eric dikenal sebagai pelari yang sangat berbakat. Ia bahkan dipersiapkan untuk menjadi salah satu harapan besar Inggris dalam ajang 1924 Summer Olympics di Paris.

Namun sebelum pertandingan dimulai, Eric menghadapi dilema besar. Salah satu nomor lomba favoritnya dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu. Bagi Eric, hari Minggu adalah hari untuk beribadah kepada Tuhan.

Banyak orang mendesaknya untuk tetap bertanding. Mereka mengatakan bahwa ini adalah kesempatan besar untuk memenangkan medali emas dan mengharumkan nama negaranya. Namun Eric memiliki keyakinan yang kuat. Ia percaya bahwa menghormati Tuhan lebih penting daripada memenangkan perlombaan.

Akhirnya ia mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang: ia menolak mengikuti lomba tersebut karena tidak ingin melanggar keyakinan imannya.

Keputusan itu membuat banyak orang kecewa. Namun Eric tetap tenang. Ia percaya bahwa jika ia menghormati Tuhan, Tuhan juga akan memimpin hidupnya.

Beberapa hari kemudian, Eric mengikuti nomor lomba lain yang sebenarnya bukan spesialisasinya. Banyak orang tidak menyangka bahwa ia bisa menang. Tetapi sesuatu yang luar biasa terjadi. Eric berlari dengan penuh semangat dan berhasil memenangkan medali emas. Bagi Eric, kemenangan itu bukan hanya tentang olahraga, tetapi tentang kesetiaan kepada Tuhan.

Namun kisah hidupnya tidak berhenti di sana. Setelah Olimpiade, Eric memilih meninggalkan ketenaran sebagai atlet dan menjadi misionaris di China. Ia melayani masyarakat selama bertahun-tahun, mengajar, membantu orang miskin, dan memberitakan Injil.

Ketika Perang Dunia II terjadi, situasi di China menjadi sangat berbahaya. Banyak orang asing memilih meninggalkan negara itu demi keselamatan.

Namun Eric memutuskan tetap tinggal untuk melayani. Akhirnya ia ditangkap oleh tentara Jepang dan dimasukkan ke dalam kamp interniran. Hidup di kamp sangat sulit: makanan terbatas, kondisi kesehatan buruk, dan tekanan mental yang besar.

Namun bahkan di dalam kamp, Eric tetap menjadi sumber pengharapan bagi banyak orang. Ia mengajar anak-anak, menguatkan orang-orang yang putus asa, dan terus menunjukkan kasih Kristus.

Pada tahun 1945, Eric Liddell meninggal di kamp tersebut karena penyakit dan kelelahan. Meskipun hidupnya berakhir di tempat yang sederhana, kesaksiannya tentang iman dan kesetiaan terus dikenang sampai hari ini.

Relevansi dengan Alkitab: Bertahan Sampai Akhir

Dalam Matius 24:13, Yesus berkata bahwa orang yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Iman Kristen bukan hanya tentang memulai dengan semangat, tetapi juga tentang tetap setia sampai akhir perjalanan.

Eric Liddell menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan harus dijalani sepanjang hidup, bukan hanya ketika keadaan mudah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sebagai remaja, kita sering memulai sesuatu dengan semangat besar: pelayanan, komitmen rohani, atau tujuan hidup.

Namun tantangan, kesibukan, dan tekanan sering membuat kita mudah menyerah.

Kisah Eric Liddell mengingatkan kita bahwa hidup bersama Tuhan adalah sebuah perjalanan panjang.

Kita bisa belajar untuk:

1. Tetap setia kepada Tuhan dalam keputusan sehari-hari.

2. Mengutamakan Tuhan di atas popularitas atau kesuksesan.

3. Tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Ketika kita terus berjalan bersama Tuhan dan bertahan dalam iman, kita tidak hanya memulai dengan baik, tetapi juga akan selamat sampai akhir. (MA). 

"Circumstances may appear to wreck our lives and God’s plans,
but God is not helpless among the ruins.”

Eric Liddell