RUMAH TANGGA YANG DIKUASAI ROH KUDUS
Posted by Admin 2026-02-06
Sharing Supplemen COOL Februari 1 2026
Rumah Tangga yang Dikuasai Roh Kudus
Kisah Para Rasul 10:44-48 ; Mazmur 128
Salah satu peristiwa terindah dan berpengaruh besar yang dicatat oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul adalah pencurahan Roh Kudus atas Kornelius dan keluarganya, dalam pasal 10. Mengapa peristiwa ini indah dan penting? Karena melalui peristiwa ini dan beberapa kesaksian yang serupa di waktu dan tempat yang berbeda, Roh Kudus memberi pengertian kepada Gereja mula-mula, bahwa kasih karunia Kristus dan pencurahan Roh Kudus terbuka dan tersedia bagi semua bangsa-bangsa yang mau datang kepada Kristus. Pemahaman para Rasul dan jemaat pada waktu itu, bahwa kasih karunia dan pencurahan Roh Kudus hanya tersedia bagi bangsa Yahudi, dan apabila ada bangsa lain yang juga ingin mendapatkannya maka mereka harus di konversi terlebih dahulu menjadi pengikut Yudaisme.
Namun bahwa Kornelius dan keluarganya juga menerima pencurahan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh/lidah (ayat 44-47) menunjukkan bahwa kasih karunia Kristus dan pencurahan Roh Kudus bukan hanya untuk orang-orang Yahudi yang percaya kepada Kristus, tetapi untuk semua orang dari berbagai suku dan bangsa yang mau datang kepada-Nya. Peristiwa Kornelius menjadi pemicu penting terjadi perubahan pandangan akan hal ini (Kis. 11:16-17), yang nantinya akan berpuncak pada Sidang di Yerusalem pada pasal 15 (Kis. 15:6-9). Namun hari ini kita akan membahas satu hal kunci yang mungkin kerap kita lewatkan saat kita membaca kisah Kornelius ini, yaitu bahwa rumah tangga (keluarga) yang percaya kepada Kristus perlu dipenuhi oleh Roh Kudus. Mengapa?
1. Roh Kudus memberikan kejelasan (clarity) terhadap pemahaman Alkitabiah yang seringkali justru kita pahami dengan bias.
Karena kita dibesarkan dengan cara, sudut pandang dan bahasa tertentu, serta memiliki pengalaman perjalanan hidup yang berbeda-beda, seringkali hal-hal tersebut membentuk bias dalam cara kita berpikir dan memandang segala sesuatu, yang akhirnya mempengaruhi tindakan kita. Contoh: kita mungkin bias terhadap suku atau keluarga tertentu karena apa yang kita pernah dengar tentang suku/keluarga tersebut dari orang lain, atau pengalaman kita berinteraksi dengan suku/keluarga tersebut. Hal itu juga yang terjadi kepada orang-orang Yahudi pada zaman rasul-rasul.
Perlakukan dan tindak laku orang-orang Romawi/Italia (Kis. 10:1) membuat banyak orang Yahudi, termasuk Yahudi Kristen pada waktu itu, akan selalu dicap negatif, tidak peduli bahwa tidak semua orang Romawi/Italia berkelakuan negatif. Kornelius, yang sudah jelas dikatakan bahwa ia dan keluarganya takut/hormat dan menyembah Allah Israel, masih dicap sebagai ‘orang tidak bersunat’ yang pada masa itu adalah kata penghinaan yang ditujukan spesifik untuk orang-orang Romawi/Italia (lihat Kis. 10:28 dan 11:3). Kepada semua orang Yahudi diancam untuk tidak pernah melakukan kontak sosial dengan orang-orang Romawi, dan jika berani maka konsekuensi sosialnya amat berat: disisihkan dari masyarakat.
Namun Roh Kudus dengan lembut tapi tegas mengajar Petrus bahwa dia tidak boleh membeda- bedakan dan mengkotak-kotakan orang-orang berdasarkan kesukuan dan kebangsaan mereka. Roh Kudus memberi pengertian kuat tentang hal ini ketika Kornelius dan rumah tangganya pun mendapatkan pengalaman pencurahan Roh Kudus, persis seperti yang Petrus dan keenam orang yang bersamanya juga dapatkan saat mereka di loteng atas di Yerusalem (Kis. 2:1-4; 11:12). Bahasa lidah/bahasa Roh menjadi verifikasi yang jelas bahwa Roh Kudus yang sama ada pada Kornelius dan seisi rumah tangganya, sehingga tidak ada alasan bagi Petrus untuk tidak melakukan baptisan dan menyambut mereka dalam bilangan jemaat orang percaya.
Perhatikan hal ini: ada dua rumah tangga dalam kisah ini. Pertama, rumah tangga besar jemaat mula-mula yang amat bias pada orang-orang non-Yahudi, dan kedua, rumah tangga Kornelius yang adalah non-Yahudi, yang walaupun percaya kepada Allah Israel, tetapi bias rendah diri; sering merasa tidak layak menerima orang Yahudi di rumah mereka (bandingkan Lukas 7:6-7 dan Kisah 10:25). Kedua rumah tangga ini terbatasi dengan pemahaman mereka. Kehadiran Roh Kudus membebaskan pemahaman mereka yang sempit itu. Dan karena kedua keluarga ini diperbaharui pemahamannya oleh Roh Kudus, sekarang disatukan menjadi satu rumah tangga besar dengan Kristus sebagai kepala (baca Galatia 3:26-28 dan Kisah 11:17-18).
Bagaimana dengan rumah tangga kita sendiri? Apakah ada bias atau pemahaman yang selama ini keluarga kita pegang dengan kuat? Kita perlu Roh Kudus untuk mengajar kita dan menguji apakah yang kita pegang dan pahami selama ini adalah seperti yang Allah ajarkan dan kehendaki. Pemahaman dan bias yang tidak dalam terang Roh Kudus, justru akan membatasi dan menghambat untuk Allah memperluas cakrawala pemahaman, kehidupan sehari-hari dan pelayanan kita. Untuk rumah tangga kita bisa bergerak naik maju dan bertumbuh secara dewasa, rumah tangga kita butuh Roh Kudus mengajar dan memberi kejelasan pemahaman.
2. Roh Kudus menuntun rumah tangga sejauh penghormatan yang diberikan kepada-Nya oleh pemimpin/pemegang otoritas dalam rumah tangga tersebut.
Satu hal menarik yang mungkin terlewatkan oleh kita dalam kisah ini adalah peran besar dari dua orang kepala rumah tangga yang berbeda. Petrus, kepala rumah tangga de-facto dari jemaat mula-mula, dan Kornelius, kepala rumah tangganya. Berbeda secara suku bangsa dan bahasa. Namun keduanya memiliki kesamaan yang kuat: penghormatan dan penyembahan kepada Allah Israel. Penghormatan dan pengagungan yang tinggi itulah yang membuka jalan bagi Roh Kudus untuk membimbing dan menuntun kedua kepala keluarga ini bertemu dan Roh Kudus bergerak kepada masing-masing rumah tangga.
Walaupun secara perkataan (konotasi) dalam Alkitab, seorang kepala rumah tangga kerap disebutkan sebagai seorang pria atau suami, namun secara fungsional dan aktual maka kepala rumah tangga dalam Alkitab adalah mereka yang memiliki otoritas rohani dalam keluarga mereka. Itu artinya bisa saja seorang laki-laki atau perempuan, seorang suami atau istri. Jika otoritas rohani dalam sebuah keluarga ternyata seorang perempuan atau istri/ibu, bukan artinya mengambil alih apa yang sudah menjadi tugas seorang pria atau suami/ayah dalam keluarga. Alkitab mencatat dalam banyak hal, perempuan menjadi “kepala rumah tangga rohani” dalam keluarga mereka, misal: Naomi, Hana ibu Samuel, Ratu Ester, dll., tanpa mengambil alih tugas seorang ayah/suami mereka.
Yang kita pelajari dalam kisah ini, bahwa ketika seorang kepala rumah tangga memimpin rumah tangganya untuk takut dan hormat akan Tuhan, maka berkat, tuntunan dan kejelasan dari Allah akan ada pada mereka. Perjanjian Lama, seperti tertulis pada Mazmur 128, sudah menegaskan hal ini. Petrus dan Kornelius memberi penempatan penghormatan yang luar biasa kepada Allah Israel, yang Petrus jelaskan kepada Kornelius bahwa Allah itu telah datang dalam Kristus Yesus. Kornelius dan rumah tangga yang dipimpinnya mengalami Mazmur 128:5 (“kebahagiaan Yerusalem”) yaitu sebagaimana Roh Kudus dicurahkan di Yerusalem, maka terjadi pula di rumahnya di Kaisarea.
Keluarga kita perlu menempatkan Yesus Kristus pada penghormatan dan penyembahan tertinggi dan satu-satunya dalam rumah tangga kita. Pencurahan Roh Kudus yang terjadi di Yerusalem dan Kaisarea, juga bisa terjadi dimanapun rumah tangga kita berada. Allah mau dan rindu untuk hal ini terjadi, asalkan hati kita pun menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam rumah tangga kita. Sebagaimana pemazmur katakan dalam Mazmur 128, maka Tuhan memberkati dan melimpahi rumah tangga kita dan damai sejahtera ada dalam keluarga kita. Berkat pada zaman Perjanjian Baru ini adalah Bapa dan Kristus mengutus Roh Kudus kepada kita dan rumah tangga kita (Yoh. 16:7). Kasih karunia Allah-lah yang memungkinkan semua hal tersebut terjadi.
Penutup
Memahami akan kedua hal diatas, mari kita berjanji kepada Tuhan bahwa rumah tangga kita akan selalu dikuasai dan bimbing oleh Roh Kudus. Bagian kita adalah tetap setia berdoa-memuji-menyembah Dia dalam Roh, termasuk banyak berdoa dalam bahasa Roh, tetap setia membaca dan mempelajari firman Tuhan dalam terang dan tuntunan Roh Kudus, dan tetap setia dituntun dalam segala hal oleh Roh Kudus. Amin. (CS)
Pertanyaan Diskusi:
• Apakah dalam segala, rumah tangga kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang utama satu-satunya dalam keluarga kita?
• Jika ayah/suami dalam keluarga seperti “adem-adem” secara rohani, apa yang seorang ibu/istri perlu lakukan dari sisi rohani? Alternatif situasi: bagaimana ayah dan ibu sama-sama “adem-adem” secara rohani, apa yang perlu seorang anak lakukan dari sisi rohani?