PERJALANAN PEMENANG: KESELAMATAN
Posted by Admin 2026-09-22
Ibrani 2:3 TB2 berkata,
“bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan ditegaskan kepada kita oleh mereka yang telah mendengarnya?”
Kata “keselamatan yang sebesar itu” (Inggris: ‘Great Salvation’) dalam bahasa aslinya adalah: Teleikoutos Soteria (Strong’s G5082). Teleos mengandung arti ‘kedewasaan, kesempurnaan, penyelesaian, progress of time’.
Ibrani 5:9 TB2 berkata,
“dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,”
Kata “sumber keselamatan yang abadi (Inggris: ‘Eternal Salvation”) dalam bahasa aslinya adalah Aeonous Soteria (Strong’s G166). Aeonous mengandung arti: ‘Kekal, sudah dari jaman dahulu, dunia yang akan datang’.
Ibrani 7:25 TB2 berkata,
“Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Kata “menyelamatkan dengan sempurna” (Inggris: “save to the uttermost”) dalam bahasa aslinya adalah Panteles (G3838) yang artinya; Pan (all) Teleos (G5082). Kembali lagi mengandung unsur kesempurnaan, keutuhan, finalitas.
Para penerjemah Alkitab King James 1611 dapat merasakan progresi pengajaran Rasul Paulus tentang karya Kristus didalam menyelamatkan manusia adalah suatu hal yang multi fase, itulah sebabnya mereka memilih menerjemahkan Teleikoutos Soteria sebagai KESELAMATAN YANG BESAR, yang juga diikuti oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Keselamatan adalah sebuah karya yang multi fase dan multi dimensi.
I. JUSTIFICATION
Sering kali terutama di Indonesia, orang hanya mengenal keselamatan didalam satu atau dua aspek saja, yaitu aspek legal dan eskatologikal. Hal ini tercermin dalam pertanyaan-pertanyaan seperti:
“Kalo saya buat ini, dosa atau tidak ya…?”
“Kalo saya buat ini, nanti saya masuk neraka atau tidak ya…?”
Hal ini memang wajar karena budaya Indonesia yang secara umum masih termasuk budaya yang teistik (cara pandang spiritualitas/keagamaan termasuk tinggi) dan percaya kepada ‘Last Judgement’ sebagai lembaga peradilan terakhir yang menjadi dasar dari tindakan moral didalam masyarakat. Bahkan didalam masyarakat sekuler sekalipun, ketika seorang manusia menghadapi ujung dari perjalanan hidupnya di dunia, ia tidak dapat dengan jujur menampik bayang bayang kekekalan yang menghantuinya.
Seperti yang sering kita lihat di media, atau yang kita baca didalam buku buku, pada kenyataannya banyak orang takut untuk berhadapan langsung dengan kematian, apalagi menghadapinya sendirian. Mereka membutuhkan sesuatu, entahkah itu seseorang, ataupun suatu ideologi yang bisa memberikan kepada mereka JUSTIFICATION (pembenaran) dan ASSURANCE (kepastian) bahwa sehabis kematian, ada keberadaan yang lebih baik yang menanti mereka, atau paling tidak, hidup mereka telah memberikan arti/nilai sesuatu dan mereka tidak mati sia-sia.
A. Manusia Berdosa Tidak Dapat Menghapuskan Kebutuhannya Akan Pengampunan
Kitab Ibrani mengambarkan Tuhan Yesus sebagai penggenapan dari ritual ritual korban Perjanjian Lama dengan meng ‘superimpose’ kan semua gambaran itu kedalam diri Tuhan Yesus.
- Dialah Imam Besar yang lebih baik dari Imam Besar di Perjanjian Lama.
- Dialah Korban yang lebih baik dari korban darah anak domba di Perjanjian Lama.
- Dialah Bait (tubuh-Nya) yang lebih baik daripada Bait di Perjanjian Lama.
- Darah-Nya berbicara lebih baik (meminta pengampunan) daripada darah Habel (menuntut balas).
B. Manusia Berdosa Membutuhkan Pembenaran dari Tuhan
HANYA YESUS yang sungguh sungguh bisa menawarkan pengampunan yang sejati, yang bukan hanya memberikan perasaan kelegaan didalam hati kita secara subyektif, tetapi memulihkan status kita secara obyektif menjadi orang yang dibenarkan dihadapan Allah, karena darah-Nya menutupi dan membatalkan dakwaan si Iblis kepada kita dihadapan Allah. (Kolose 2:14; Ibrani 9:15)
Yesus sanggup memberi pengampunan karena Ia telah memenuhi seluruh standar kebenaran Allah dan Dia menjadi korban substitusi bagi kita. Karena kita percaya kepada pribadi dan karya-Nya, maka pengampunan itu tersedia bagi kita. Inilah yang disebut JUSTIFICATION (Dikaioma, Strong’s G1345)
Diluar hal ini, maka pengampunan dosa menjadi sesuatu yang tidak jelas, dan berandai-andai.
a. Di dunia Sekuler
Hal ini dilalukan baik dengan cara menghilangkan/menurunkan standard dosa/pelanggaran itu sendiri (mentalitas “Itu dulu emang dosa, bro. Cuma sekarang kan jaman dah berubah.”) atau dengan cara pseudo psychology yang berkata bahwa dosa itu adalah ‘negative self image’ / ‘self reject”.
b. Di dunia Spiritualitas Timur
Hal ini dilakukan dengan memenuhi tuntutan ritual ritual agama, yang kita lihat dari eksposisi kitab Ibrani diatas, tidak mungkin menyucikan hati nurani yang terus menerus mengingatkan akan dosa. (bdk. Ibrani 9:14)
Pada fase JUSTIFICATION ini tekanannya adalah: MANUSIA DIAMPUNI DARI DOSANYA.
Sebuah kata-kata dalam lagu hymne Kristen lama: “On Christ the solid rock I stand, all other ground is sinking sand” (Indonesia: Pada Kristus sang batu karang yang teguh aku berdiri, yang lainnya hanya pasir yang menenggelamkan). Betapa ajaibnya, dahsyatnya, dan kokohnya Keselamatan Sejati yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus bagi kita umat-Nya. Pada dasarnya kita semua tidak layak untuk menerima kasih karunia yang begitu besar ini. Itulah yang selalu menjadi kekuatan kasih karunia (“grace”), yaitu diberikan kepada mereka yang tidak layak (“undeserving”) menerimanya.
“Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,”
Efesus 2:8 TB2
Anugerah (by grace) atau kasih karunia adalah tindakan berdaulat Allah berbelaskasihan kepada kita manusia berdosa. Oleh iman (through faith) adalah respons kita yang diberdayakan oleh Roh Kudus untuk percaya dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk mengikuti-Nya seumur hidup kita.
Kita sudah melihat, bahwa keselamatan adalah multi fase dan multi dimensi. Kitab Ibrani juga mengajak kita untuk maju terus didalah perjalanan keselamatan itu.
Ibrani 6:1 TB2,
“Sebab itu, marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dasar kepercayaan kepada Allah.”
Ternyata ada suatu dimensi baru setelah JUSTIFICATION, yaitu SANCTIFICATION.
II. SANCTIFICATION
Ibrani 10:29 TB2 berkata,
“Bayangkan betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah dan menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah!”
Anugerah atau kasih karunia yang telah membenarkan kita, adalah juga kasih karunia yang sama yang memanggil kita kearah kehidupan yang kudus. Kitab Ibrani pasal 10 menggambarkan sejarah bangsa Israel sebagai sebuah pattern/template bagi kehidupan orang percaya.
a. Di dalam Perjanjian Lama, kekudusan memang dilambangkan dengan pemisahan secara fisik (‘physical separation’) sebagai ciri utama yang membedakan bangsa Israel dengan bangsa bangsa lain disekitarnya.
b. Di dalam Perjanjian Baru, kesucian hati nurani lah yang menjadi fokus utama didalam proses penyucian.
Sekali lagi, ada beberapa aspek yang kita dapat lihat didalam proses SANCTIFICATION ini.
A. Dipenuhi Roh Kudus Setiap Waktu
Kitab Ibrani dipenuhi dengan referensi mengenai karya Roh Kudus; Ibrani 6: 4, 9:8, 9:14, 10:15 dst. Juga di surat surat yang lain Paulus menekankan pentingnya dipenuhkan dengan Roh Kudus, supaya kita mengalahkan/mematikan keinginan daging.
Roma 8:6 TB2,
“Sebab, keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”
Galatia 5:16-17 TB2,
“16Maksudku, hiduplah oleh Roh, dan kamu tidaak akan menuruti keingin-an daging. 17Sebab, keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawan-an dengan keinginan daging…”
Selain itu, salah satu fungsi utama kepenuhan Roh Kudus, adalah membangkitkan talenta dan karunia yang akan menjadi indicator kuat kearah panggilan dan tujuan hidup kita.
Sebagai Insan Pentakosta, kita tahu bahwa meterai kepenuhan Roh Kudus dalam kehidupan kita adalah Bahasa doa yang diberikan kepada kita (Glossolalia). Dengan melatih/mengobarkan Roh Kudus didalam kehidupan kita dengan mempraktekkan Glossolalia, kita sedang membangun manusia rohani kita untuk menjadi sehat, kuat, dan mampu mengalahkan kelemahan daging kita, dan daya tarik dunia ini.
B. Mengalahkan Kelemahan dan Kedagingan Kita
Ibrani 10:26 TB2,
“Sebab, jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapuskan dosa itu.”
Kata ‘sengaja’ disini diambil dari Bahasa Yunani ‘Hekousios’ yang berarti kemauan sendiri. Hal ini dibandingkan/dikontraskan dengan dosa yang dilakukan karena ketidaktahuan dan/atau kelemahan.
Dari penjelasan ini dapat kita lihat bahwa banyak orang percaya masih ada dalam posisi terbelenggu dalam kelemahan mereka. Dalam hati mereka, mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan salah, tetapi mereka belum cukup melatih otot-otot rohani mereka untuk melawan keinginan daging mereka.
Posisi ‘stalemate’ alias gencatan senjata antara sifat manusia baru dengan keinginan daging manusia lama adalah posisi yang amat berbahaya, karena mata hati manusia baru tersebut dapat menjadi buram, dan akhirnya lama-kelamaan mereka kembali lagi kedalam posisi menyerah, menerima, dan menikmati dosa yang dilakukan oleh manusia lama mereka.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah kata ‘Hekousios’ juga dipakai secara positif didalam 1 Petrus 5:2 TB2 yang berkata,
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan SUKARELA sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”
Ternyata kehendak kita sangat menentukan factor kemenangan kita atas dosa dan keinginan daging. Peranan Roh Kudus ialah memberikan kepada kita keinginan/kerinduan/kesenangan yang baru yaitu Melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Peranan kita adalah menundukkan keinginan kita kepada kendali Roh Kudus.
C. Setia kepada Panggilan dan Tujuan Hidup kita
Di dalam kitab Ibrani juga dijelaskan bahwa mereka yang murtad/meninggalkan Tuhan dan meninggalkan panggilan mereka adalah mereka yang tidak tahan terhadap proses pembentukan sebelum pada akhirnya mereka mencapai Tujuan Hidup (‘Destiny’) yang Allah siapkan untuk mereka.
Dalam Ibrani 10:35-39 kita melihat dengan jelas bahwa ada kemungkinan orang orang percaya sekalipun akan kehilangan ‘Destiny’ yang Allah sediakan bagi mereka, dan hal ini memiliki konsekwensi yang serius, bukan hanya hidup kita jadi kurang bahagia dan kurang diberkati, tapi kita beresiko kehilangan perkenanan Allah atas hidup kita.
a. Esau adalah salah satu contoh orang yang rela menukarkan ‘Destiny’-nya/hak kesulungannya karena keinginan daging yang tidak sanggup dikuasainya (Ibrani 12:16-17).
b. Samson adalah salah satu contoh kasus yang menarik yang menunjukkan korelasi antara ketidakmampuan mengendalikan kelemahan daging dan kehilangan tujuan kehidupannya.
Samson adalah seorang Nazir Allah yang sangat diurapi, dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Namun Samson jelas-jelas memiliki kelemahan daging yang sangat kentara (pesta pora, masuk, main wanita, semua bentuk nafsu kedagingan dan omongan kasar).
Para sarjana Alkitab mencari cari jawaban, mengapa Roh Allah belum meninggalkan Samson, dan tetap memakai Samson menjadi alat yang perkasa ditangan Tuhan, sampai pada titik dimana ia rela mengkhianati sumpah nazir-nya dengan membiarkan Delilah mencukur ketujuh kepang rambutnya. Pada titik itulah Roh Allah meninggalkan dia. Hanya karena kemurahan Tuhan lah pada akhir hidup nya, Samson teringat kembali kepada ‘Destiny’ Allah dalam hidupnya, dan ditengah tengah kebutaan matanya, ia memohon untuk dipulihkan kembali kepada ‘Destiny’ aslinya.
Ibrani 10:38, 39 TB2 berkata,
“38Namun, orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, Aku tidak berkenan kepadanya. 39Namun, kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup.”
D. Menunjukkan Karakter Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Kitab Ibrani menunjukkan struktur Pauline (gaya penulisan Rasul Paulus) yang amat jelas, yaitu nasihat-nasihat praktis sesudah paparan kebenaran doktrinal. Ibrani 13:1-6, 16 dengan indahnya menggambarkan karakter Kristus yang ditampilkan dengan hal hal seperti:
- Menjaga kasih persaudaraan
- Keramah-tamahan
- Keprihatinan tulus atas mereka yang membutuhkan dan menderita
- Penggunaan otoritas yang tepat (ingatlah akan orang orang hukuman, jangan sewenang wenang)
- Moralitas seksual dan keluarga
- Integritas ekonomi (jangan rakus/jangan jadi hamba uang)
- Berbuat baik kepada komunitas
Seseorang Kristen yang menunjukkan karakteristik seperti ini disebut orang Kristen yang DEWASA, BERTUMBUH KEARAH KESERUPAAN DENGAN KRISTUS. Kekudusan bukan hanya mengenai tindakan dalam penyembahan (walaupun hal itu juga bagian dari kekudusan), tapi juga mengenai karakter yang tulus, murni, baik, dan berguna bagi sesama.
KEKUDUSAN berbicara mengenai UNDEFILED/UNDIVIDED HEART DEVOTION TO GOD (hati yang terpaut sepenuhnya dan seutuhnya kepada Tuhan). Kedewasaan juga berbicara mengenai kebijaksanaan/kebaikan hati terhadap sesama.
E. Hormat dan Setia kepada Persekutuan/Tubuh Kristus
Dalam Ibrani 13:7-9, 17 penulis kitab Ibrani mengajarkan kita untuk mengingat, taat, dan mendukung para pemipin rohani yang berjaga jaga atas kehidupan kita. Proses pembentukan dan pertumbuhan rohani tidak dapat dipisahkan dari melaksanakan disiplin-disiplin rohani yang diterapkan oleh para pemimpin rohani di dalam komunitas/gereja dimana orang Kristen tertanam. Ini termasuk dalam ekspresi-ekspresi rohani yang dipraktekkan di dalam gereja, sebagaimana yang pemimpin rohani dapatkan berdasarkan hikmat dan tuntunan Roh Kudus, seperti misalnya: doa puasa, menara doa, doa keliling, kelompok sel, kelas pemuridan, bimbingan pra-nikah dan lain-lainnya. Faktanya bahwa pertumbuhan orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan sesama orang Kristen lainnya dan kepemimpinan para pemimpin rohani (bdk. Kisah Para Rasul 2:42,47 ; 4:33 ; Ibrani 13:7,17,24 ; bdk. Filipi 2:1-2)
Pada fase SANCTIFICATION ini tekanannya adalah: MANUSIA MENANG ATAS DOSANYA.
Sekali lagi, kasih karunia (by grace) adalah tindakan Tuhan memberikan ROH KUDUS-Nya untuk memenuhi dan menguatkan kita dengan kehadiran, pengurapan, dan karunia-Nya. Melalui iman (through faith) adalah kita dengan iman/setia (‘faithfulness’; Pistis; Strong’s G4102) kita mengerjakan ketaatan dan latihan-latihan yang membangun manusia rohani kita.
Kitab Ibrani ditulis antara tahun 60-70M yang berarti bahwa meskipun penganiayaan di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi dibawah Kaisar Nero belum dimulai (ditandai dengan penulis kitab Ibrani masih mengutip ibadah-ibadah di Bait Allah yang masih berlangsung.
Bait Allah dihancurkan oleh Legio X dibawah Jendral Titus tahun 70M. Ditengah tengah suasana makro dunia yang gonjang-ganjing, masih adakah harapan untuk Gereja? Bukan hanya harapan untuk dapat bertahan, tetapi juga untuk keseluruhan rencana Allah atas seluruh dunia? Ternyata masih ada! Namanya adalah KEDATANGAN TUHAN YESUS KEDUA KALI. Di dalam doktrin keselamatan, seringkali hal ini disebut sebagai GLORIFICATION.
III. GLORIFICATION
Ibrani 10:37 TB2 berkata,
“Sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang datang, akan tiba, tidak akan menangguhkan kedatangan-Nya…”
Bagi jemaat Gereja mula-mula, doktrin mengenai Kedatangan Tuhan adalah sesuatu yang vital didalam memelihara kehidupan iman mereka. Ditengah tengah dunia yang tidak menentu, maka bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh mengikuti Tuhan, hanya tersisa sedikit ruangan untuk memiliki impian bagi masa depan mereka secara pribadi. Ini bukan berarti bahwa orang orang percaya di gereja mula-mula adalah sekelompok orang putus asa dan ingin segera meninggalkan dunia yang sudah jatuh ini, sebaliknya justru mereka berupaya keras untuk meninggalkan jemaat kaki/memberi dampak dimanapun arah kehidupan membawa mereka.
Paulus menasihatkan hal ini di dalam 1 Timotius 2:1-4 TB2:
“1Karena itu, pertama-tama aku menasihatkan: Naikanlah permohonan, doa, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, 2untuk raja- raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. 3Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, 4yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”
Tidak salah mengharapkan keadaan menjadi lebih baik, ekonomi dipulihkan, dan cita-cita pribadi kita tercapai, tetapi itu semua harus dibawa dalam keselarasan Tujuan Allah secara global, yang dicatat di ayat 4, yaitu ‘yang menghendaki semua orang diselamatkan’. Dapat kita katakan bahwa Amanat Agung-lah yang menjadi keinginan hati Allah sendiri dan alur sejarah akan mau tidak mau bermuara kepada penggenapan rencana Tuhan yang besar atas dunia ini, dimana keselamatan diberitakan ke setiap Suku, Bangsa, Kaum, dan Bahasa.
Matius 24:14 TB2 berkata,
“Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah kesudahan tiba.”
Tuhan adalah Allah atas sejarah. Dia yang memulai segala sesuatu, Dia juga yang akan mengakhiri segala sesuatu. Manusia tidak berkuasa atas jalannya sejarah, tetapi Allah-lah.
Apakah tujuan dari KEDATANGAN KRISTUS KEMBALI?
A. Menyempurnakan Keselamatan Kita dengan Cara Memberi kKta Tubuh Kemuliaan
2 Korintus 5:2 TB2,
“Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman surgawi ...”
2 Korintus 5:4 TB2,
“Sebab, selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.”
Dalam 2 Petrus 1:13, 14 Petrus menganggap bahwa tubuhnya adalah kemah selama ia berada dalam dunia ini.
Jika kita melihat kembali proses Justification, Sanctification, dan Glorification, maka di tahap kedua (Sanctification) diperlukan kerjasama keinginan manusia untuk selalu mau untuk taat dan dituntun oleh Roh Allah. Semakin dalam tingkat pengudusan kita dan semakin tinggi tingkat pemenuhan Roh Kudus atas hidup kita, semakin ’mudah’ bagi kita untuk mematikan kedagingan kita dan juga kejiwaaan kita (‘soulishness’); hidup dipimpin oleh Roh. Namun selama kita hidup di bumi ini, kedagingan kita tidak bisa 100 persen dihilangkan. Bahkan John Wesley pun tidak percaya kepada doktrin ‘Sinless Perfection’, meskipun pada masa kini ada sebagian kecil dari pengikut Wesley yang mengajarkan hal tersebut[5]. Pada waktu Tuhan kembali menjemput kita di awan-awan, maka mereka yang sudah terlebih dahulu ‘beristirahat’ didalam Tuhan, akan dibangkitkan dengan tubuh yang Mulia seperti tubuh yang dikenakan oleh Tuhan Yesus pada kebangkitan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ‘Kemah yang Baru’.
Di dalam Tubuh yang Mulia ini kita akan:
a. Terbebas dari kehadiran dosa didalam daging kita.
Kita tidak lagi mengalami ‘pergumulan’ dengan daging manusia lama yang telah dilemahkan oleh dosa. Banyak orang bertanya, apakah didalam tubuh kemuliaan kita bisa jatuh lagi dalam dosa? Jawabannya adalah tentu saja tidak.
b. Terbebas dari keterbatasan tubuh jasmani.
Di dalam keberadaan inilah, apa yang dicatat dialam Mazmur 8:6 sungguh sungguh digenapi ”Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat…”
Allah Maha Tahu — Manusia dalam tubuh kemuliaan: Ingin tahu apa saja, bisa
Allah Maha Kuasa— Manusia dalam tubuh kemuliaan: Sangat berkuasa
Allah Maha Hadir — Manusia dalam tubuh kemuliaan: Hadir dari A ke B, on the speed of light
Allah Kudus— Manusia dalam tubuh kemuliaan: Kudus
c. Hidup di alam yang Sama dengan Allah.
Tidak ada lagi apapun yang memisahkan; kita akan melihat Dia berhadapan muka (‘face to face’).
B. Memberi Upah Kepada Kita Hamba-hamba-Nya
Di dalam banyak perumpamaan Tuhan Yesus, dan juga di dalam surat Paulus, konsep mengenai MAHKOTA adalah upah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang setia. Allah adalah Raja diatas segala raja, manusia dalam tubuh kemuliaan: raja kecil yang memerintah bersama Tuhan Yesus. Di dalam perumpamaan-perumpaan akhir zaman Tuhan Yesus di dalam Matius 24 dan 25, terlihat beberapa motif yang konsisten.
a. Tuan dan Hamba
Inilah hubungan fungsional antara kita dan Tuhan selama kita berada di dalam dunia ini. Di dalam masyarakat Timur Tengah, bahkan mungkin sampai pada jaman ini, ketika anak seorang tuan tanah sedang bekerja di ladang, susah dibedakan penampilannya dengan para pengerjanya. Hanya ketika hari sudah sore dan pekerjaan selesai, barulah para hamba melayani sang tuan. Demikianlah nanti pada hari kedatangan-Nya: para malaikat akan datang dan melayani hamba-hamba-Nya. Secara relasional kita adalah anak. Secara fungsional kita adalah hamba.
b. Tuan Yang Pergi Jauh Dan Pada Akhirnya Kembali Membawa Upah
Hal ini merupakan penggambaran mengenai Hari Kedatangan Tuhan yang tidak dapat diketahui oleh siapapun.
c. Penguasaan atas Kota, Talenta dan Mina
Penggenapan final dari tujuan Allah menciptakan manusia di Kejadian 1:6,
“... beranak cucu lah dan bertambah banyak lah. Penuhilah bumi dan taklukanlah …hendaklah mereka berkuasa atas segala ciptaan Allah…”
Talenta dan Mina adalah unit ukuran finansial, yang pada jaman dahulu diukur dengan Emas dan Perak. Hal ini tentu saja diartikan secara simbolis, karena di alam keberadaan kekal, kita tidak memerlukan uang. Emas dan Perak menggambarkan tingkat tingkat kemuliaan, yang juga dijelaskan Paulus akan diterima orang percaya pada Hari Kedatangan-Nya (1 Korintus 3:10-15, 15:35-44).
Uang juga berbicara mengenai kemampuan mempengaruhi, memerintah, dan menguasai; itulah yang diwujudkan di dalam pribadi Mammon (ilah atas kekayaan dan kemampuannya untuk mempengaruhi banyak orang). Pada saat itu, kita akan dianggap ‘layak’ untuk memerintah bersama Allah atas seluruh ciptaan-Nya, karena selama kita melayani Dia di bumi ini, kita telah belajar menaklukkan dan menggunakan Mammon, bukannya ditaklukkan dan diperalat oleh Mammon.
C. Memberi Upah Kepada Kita Hamba-hamba-Nya
Pada akhirnya, keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus diatas kayu salib bukan hanya bersifat individual, tetapi juga Kosmik, seperti yang ditegaskan oleh Paulus dalam surat Roma pasal 8 mulai dari ayat 19. “seluruh ciptaan menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan ...,”.
Ia akan datang kembali, ketika semua rencana-Nya telah genap. Ia akan merebut kekuasaan dari tangan si Iblis, menghancurkan tahta dan kerajaan si Iblis, dan mendirikan KerajaanNya di bumi ini.
Tanpa hal ini, maka nilai Keselamatan yang dikerjakan Kristus di kayu salib akan menjadi sangat diperkecil. Ia akan hanya menjadi juruselamat yang sanggup menolong, melepaskan, menyembuhkan kita, tetapi selama hidup di dunia ini kita berada dalam ‘rudungan’ penguasaan si jahat yang memang disebut ilah zaman ini (‘God of this Age’).
Itulah sebabnya juga Hari Kedatangan Tuhan menyongsong suatu ERA YANG BARU (A NEW AGE) dengan bergantinya penguasa yang lama dengan penguasa yang baru; yang sah, layak, dan akan memerintah dengan segala keadilan dan kebenaran.
1 Yohanes 3:2, 3 TB2 berkata,
“2Saudara saudara yang kekasih, sekarang kita adalah anak anak Allah, tetapi keadaan kita belum dinyatakan. Namun, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan MENJADI SAMA SEPERTI DIA, sebab kita akan MELIHAT DIA dalam KEADAAN-NYA yang SEBENARNYA. 3Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.”.
Pada fase GLORIFICATION ini tekanannya adalah: MANUSIA TIDAK LAGI MEMILIKI KEHADIRAN DOSA.
Sekali lagi, dengan kasih karunia (by grace) kita diwahyukan kebenaran ini oleh ilham Roh Kudus atas Firman-Nya. Melalui iman (thorugh faith) kita berpegang teguh kepada pengajaran ini melewati masa-masa baik senang maupun sulit, sambil menjaga pengharapan ini tetap terjaga di hati kita.
PENUTUP
Insan Pentakosta menganut doktrin “progressive salvation” bukan hanya karena itu adalah tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu kita, tetapi berdasarkan studi yang jujur dan komprehensif dari surat-surat Paulus, surat-surat umum, bahkan dari melihat typology Perjanjian Lama, bahwa inilah Injil yang seutuhnya.
Juruselamat kita yang mati mencurahkan darah-Nya untuk MENGAMPUNI KITA DARI DOSA dan MEMBENARKAN KITA DIHADAPAN ALLAH, adalah juga Juruselamat yang sama yang bangkit dan naik ke sorga, yang mengutus Roh Kudus-Nya untuk MENYUCIKAN dan MEMBERDAYAKAN kita menjadi alat ditangan-Nya, adalah Juruselamat yang sama yang BERJANJI untuk datang MENJEMPUT kita di dalam KEMULIAAN KEKAL bersama-Nya. Maranatha! (AL)