PELECEHAN SEKSUAL DARI ORANG TERDEKAT…?!
Posted by Admin 2026-10-01
Ketika orang yang kita percaya justru melakukan pelecehan seksual.
“Tapi dia kan keluarga sendiri…”
Kalimat seperti ini kadang membuat seseorang memilih diam.
Ketika pelecehan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal — anggota keluarga, teman, pasangan, guru, pembimbing, bahkan orang yang dipercaya di lingkungan gereja — situasinya bisa terasa jauh lebih rumit. Bukan cuma karena takut dengan apa yang dilakukan, tetapi juga karena muncul pertanyaan:
“Kalau aku cerita, siapa yang akan percaya?”
“Nanti keluarga jadi berantakan nggak?”
“Jangan-jangan aku yang salah?”
Kalau kamu pernah berada dalam situasi seperti ini, satu hal penting perlu kamu tahu:
Pelecehan seksual bukan salah si korban.
Dekat Bukan Berarti Berhak
Ada anggapan bahwa meskipun pelakunya orang dekat, korban seharusnya bisa “menjaga diri” atau mengatakan ‘tidak’ sejak awal.
Hubungan dekat diluar hidup nikah tidak pernah memberikan seseorang hak atas tubuh orang lain. Sentuhan yang tidak diinginkan, komentar seksual, pemaksaan, memperlihatkan konten seksual, atau tindakan seksual tanpa persetujuan tetap merupakan masalah, siapa pun pelakunya.
Bahkan kalau pelakunya adalah orang yang selama ini baik, disayang, dihormati, atau dipercaya.
Status seseorang tidak otomatis membuat tindakannya menjadi benar.
Kenapa Korban Sering Memilih Diam?
Karena pelakunya orang dekat, bisa berkembang kearah konflik yang rumit.
- Ada rasa takut kehilangan keluarga.
- Takut dianggap berbohong.
- Takut dicap merusak nama baik.
- Takut tidak dipercaya.
Bahkan ada korban yang merasa bingung karena dirinya masih menyayangi orang yang telah menyakitinya. Bukan juga berarti bahwa si korban lemah.
Respons setiap orang terhadap pengalaman seperti ini bisa berbeda. Ada yang melawan, ada yang menjauh, ada yang membeku, bahkan ada yang baru mampu bercerita setelah bertahun-tahun.
Jadi, jangan bertanya dengan nada menyalahkan, “Kenapa waktu itu kamu diam?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa aman?”
Kalau Kamu Mengalaminya, Mulai dari Mana?
Kamu nggak harus langsung menyelesaikan semuanya dalam satu hari. Yang paling penting adalah keamananmu terlebih dahulu.
- Jauhkan Diri dari Situasi yang Memberi ‘Kesempatan’ - Ada lokasi-lokasi atau saat-saat yang sedemikian rupa, sehingga ‘menyediakan’ kesempatan bagi pelaku untuk melakukan pelecehan.
- Hindari Pertemuan atau Kontak dengan Pelaku - Kalau pelaku masih berada di sekitar kamu dan kamu merasa terancam, cari tempat yang lebih aman dan usahakan tidak sendirian bersama pelaku. Dalam keadaan darurat, kamu bisa menghubungi Polisi melalui 110.
- Ceritakan Kepada Orang yang Terpercaya - Pilih seseorang yang bisa dipercaya dan tidak akan menyalahkan atau memaksa kamu. Bisa orang tua, keluarga yang aman, teman dewasa yang dipercaya, konselor, atau pendamping profesional.
- Simpan Bukti yang Ada - Jika tersedia, simpan pesan, rekaman, foto, atau dokumentasi lain yang berkaitan dengan kejadian. Tetapi jangan mengumpulkan bukti dengan cara yang membuatmu semakin berisiko. SAPA 129 juga menyarankan korban atau pelapor menyimpan bukti yang tersedia dengan baik.
- Cari Bantuan P rofesional - Kamu nggak harus menghadapi proses ini sendirian. Di Indonesia, SAPA 129 dari Kementerian PPPA menyediakan kanal pengaduan untuk kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Mereka juga menyediakan pendampingan dan informasi mengenai perlindungan yang tersedia.
- Jangan Merasa Harus Langsung Memaafkan - Sebagai orang Kristen, kita memang belajar tentang pengampunan. Tetapi pengampunan tidak berarti membiarkan pelaku terus menyakiti, mencabut hakmu untuk mencari pertolongan, atau memaksamu kembali dekat dengan orang yang membahayakanmu.
Tuhan Tidak Meminta Korban Menutupi Kejahatan
Iman kristiani bukan alasan untuk diam terhadap kekerasan.
Mencari pertolongan bukan berarti kurang percaya kepada Tuhan.
Bercerita bukan berarti sedang merancang balas dendam.
Melaporkan bukan berarti tidak punya kasih.
Kadang langkah pertama menuju pemulihan justru adalah berani mengatakan:
“Apa yang terjadi padaku itu salah, dan aku berhak mendapatkan pertolongan.”
Kalau kamu sedang mengalami pelecehan atau pernah mengalaminya, jangan hadapi semuanya sendirian. Ceritakan kepada orang yang aman dan cari bantuan yang tepat.
Dan kalau kamu ingin mulai bercerita dalam ruang yang aman, HMChats adalah platform curhat online dari GBI Gatsu yang menyediakan pendampingan berdasarkan kasih dan kebenaran Firman Tuhan. Kamu tidak perlu takut dihakimi. Ceritamu layak didengar, dan kamu berhak didampingi untuk mengambil langkah yang bijaksana.
Apa yang terjadi padamu bukan penentu nilai dirimu. Kamu tetap berharga di hadapan Tuhan.
Amin. (MA).