KOMITMEN MURID KRISTUS (2)

Posted by Admin 2026-09-07

blog-post-image

Kelahiran baru setiap orang percaya ketika menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, membawa kita pada suatu kehidupan yang berbeda di hadapan Tuhan. Pada saat itu kita disebut sebagai ciptaan yang baru, karena kehidupan yang lama sudah berlalu dan kehidupan yang baru telah dimulai bersama Tuhan (2 Korintus 5:17). Dalam menjalani kehidupan yang baru ini maka ada beberapa predikat, status dan panggilan yang serta-merta melekat dalam diri orang percaya sebagai umat yang telah menerima penebusan dan anugerah keselamatan dalam Kristus. Antara lain kita sekarang disebut sebagai anak-anak Allah, hamba Tuhan, mempelai Kristus, dan yang tidak kalah penting, kita dipanggil sebagai MURID KRISTUS.

Suka tidak suka, sadar atau tidak, semua orang percaya harus menjadi murid Kristus, yaitu orang-orang yang berkomitmen untuk mengikut Dia dan mau diajar oleh-Nya untuk mengalami perubahan hidup agar kita menjadi dewasa dan menjadi semakin serupa dengan Guru Agung kita yaitu Tuhan Yesus sendiri. Nah, sebagai murid tentu kita harus tahu komitmen apa yang harus dipenuhi agar dapat menjadi murid yang baik. Untuk itu mari kita belajar dari Firman Tuhan berikut ini.

Lukas 14:26,27,33

(26) "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

(27) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

(33) Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Dalam ketiga ayat di atas, ada 1 kalimat yang diulang 3 kali berturut-turut yakni “ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.  Artinya untuk menjadi murid-Ku, kata Tuhan Yesus, dari ketiga ayat tersebut kita menemukan ada 3 (tiga) komitmen yang harus dimiliki seorang murid.

1. Menomor-satukan Tuhan diatas Segala-galanya (ayat 26)

Tuhan Yesus berkata bahwa kalau ingin menjadi murid-Nya maka kita harus membenci keluarga kita bahkan diri kita sendiri. Tentu ini sebuah perkataan yang sangat paradoks dengan banyak ayat lain di Alkitab dimana Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama bahkan mengasihi musuh, terlebih lagi dengan keluarga kita sendiri. Di sini kita menemukan satu gaya bahasa yang lazim digunakan pada waktu itu bahkan sampai sekarang yakni gaya bahasa hiperbola. Satu gaya berbicara yang kelihatannya melebih-lebihkan sesuatu namun maksud sesungguhnya adalah untuk menekankan suatu makna tertentu. Tentu sama sekali Tuhan tidak menyuruh kita benar-benar membenci diri kita dan keluarga yang kita kasihi tapi makna yang ditekankan disini adalah bahwa di atas semuanya, kasih dan sayang kita kepada Tuhan harus melebihi apapun juga.

Tuhan harus menjadi yang paling pertama dan terutama dalam hidup dan ketaatan kalau kita ingin menjadi murid-Nya. Sering kali orang Kristen sulit untuk bertumbuh dewasa, sulit untuk berjalan dalam kehendak Allah yang sempurna karena Tuhan tidak pernah menjadi nomor satu dalam hidupnya. Tuhan hanya dicari ketika segala yang dilakukan tidak berhasil; Dia bukan yang pertama tapi malah yang terakhir. Padahal Dia-lah fondasi hidup kita, Dia-lah pusat kehidupan setiap orang percaya. Ketika diperhadapkan pada pilihan apakah kita harus mengutamakan keluarga, pekerjaan, hobi, dengan kepentingan dan hubungan pribadi dengan Tuhan, maka kita harus berkata bahwa Tuhanlah yang terutama. Justru dalam hal ini setiap anggota keluarga haruslah saling mendorong dan mendukung untuk mencintai Tuhan lebih dari apapun.

Pertanyaannya sekarang bagaimana supaya bisa hidup selalu menomor-satukan Tuhan? Jawabannya adalah dengan senantiasa memiliki kasih yang mula-mula kepada Tuhan, yaitu kasih yang terbaik, kasih yang selalu bernyala-nyala untuk Tuhan. Ketika kita menempatkan Kristus sebagai “center of our life” maka sesungguhnya kita akan memiliki keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan ini karena kita akan selalu dituntun oleh Roh-Nya yang tinggal dalam kita.

2. Siap Sedia Memikul Salib (ayat 27)

Apa artinya pikul salib? Salib disini tentu bukanlah salib Kristus dimana hanya Dialah yang sanggup menanggungnya demi menebus dosa umat manusia. Salib yang kita pikul berbicara mengenai perjuangan, penderitaan dan tantangan yang harus dihadapi dalam mengikut Tuhan. Yesus tidak pernah berjanji bahwa kalau kita mengikut Dia maka tidak akan pernah mengalami penderitaan dan pergumulan, tapi Dia berjanji bahwa dalam setiap persoalan hidup kita, Dia selalu menyertai untuk memberikan pertolongan dan mukjizat-Nya. Pertanyaannya sekarang, untuk apa Dia mengizinkan begitu banyak ujian dan masalah dalam hidup ini? Sekurangnya karena 2 alasan ini:

a. Salib membuat kita berfokus kepada Tuhan

Masalah yang kita hadapi akan membawa kita untuk mendekat kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa hanya Dia yang sanggup menolong kita. Jadi salib membuat kita berharap dan bergantung kepada Tuhan. (Yeremia17:7-8)

b. Salib mengubahkan karakter kita

Mukjizat membuat kita bersyukur akan kebesaran Tuhan, tapi penderitaanlah yang selalu menyadarkan kita untuk berubah. Ujian dan cobaan selalu dipakai Tuhan untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahan kita supaya bertobat. Pertobatan kitalah yang senantiasa dirindukan Tuhan, supaya Kristus semakin nampak dalam hidup kita. Sebab itu ketika masalah dan pergumulan datang, jangan keraskan hati, jangan lari dari salibmu.

Tetaplah setia dan taat, jangan marah atau menyalahkan orang lain, jangan undur atau tawar hati, sebab dibalik salib selalu ada Kemuliaan Tuhan (Roma 8:17) .

3. Tidak Terikat pada Harta Duniawi (ayat 33)

Yang ketiga dikatakan kalau ingin jadi murid-Nya maka harus melepaskan diri dari semua yang kita miliki. Milik disini berbicara mengenai kepemilikan, atau harta kita. Jadi apakah artinya kita tidak boleh memiliki apapun di dunia ini? Tentu tidak demikian sebab semua yang Tuhan percayakan untuk kita miliki adalah karena kita harus jadi berkat bagi kemuliaan-Nya. Jadi apa maksud ayat ini?

Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata “melepaskan” digunakan kata “apotassomai” yang antara lain mengandung makna: “berpisah”.  Jadi,  Tuhan mau memberkati kita berlimpah dengan banyak hal, tapi Tuhan ingatkan supaya diri kita jangan sampai terikat olehnya! Sekali kita terikat, akan sulit hidup kita dipakai untuk jadi saluran berkat-Nya. Padahal kita bukan pemilik, kita cuma penilik. Pemiliknya adalah Tuhan, kita hanya pengelola (steward). Kesadaran bahwa kita hanyalah pengelola bukan pemilik akan mendorong kemurahan hati yang besar untuk selalu menjadi berkat bagi orang lain. Kita tidak pelit dan hitung-hitungan ketika diajak memberi dan menabur. Dengan sukacita kita akan selalu memberikan persembahan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan, sebab untuk itulah kita dipanggil.

Ingatlah peringatan Tuhan dalam Matius 6:21 supaya jangan sampai dimana harta kita berada, disitu hati kita juga berada. Artinya kita telah terikat dengan harta, akibatnya tidak dapat menjadi murid-Nya yang sejati. Harta haruslah menjadi alat ditangan kita untuk memuliakan Dia, sementara hati kita biarlah selalu melekat kepada Tuhan maka hidup ini akan selalu berbuah bagi kerajaan-Nya. Kita akan jadi murid yang mudah diajar untuk berubah setiap hari semakin dewasa sehingga pribadi Kristus semakin nyata dalam hidup kita.Tuhan Yesus memberkati. (MK)