Kerendahan Hati Membuka Jalan bagi Hadirat Tuhan

Posted by Admin 2025-11-03

blog-post-image

 Kerendahan Hati Membuka Jalan bagi Hadirat Tuhan

“Namun, anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu, Kitab Suci berkata, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6 TB2)

 

Setiap orang percaya yang mengasihi Tuhan Yesus pasti rindu mengalami hadirat-Nya, ingin merasakan damai, sukacita, dan kuasa-Nya yang nyata dalam hidup. Namun kadang, hadirat itu terasa jauh. Hal ini dirasakan bukan karena Tuhan menjauh, melainkan karena hati kita belum siap. Firman Tuhan berkata, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Artinya, hati yang sombong membuat kita berjarak dari Tuhan, sedangkan hati yang rendah menarik kehadiran-Nya.

Kerendahan hati itu bukan soal penampilan, melainkan sikap hati kita di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati tidak merasa lebih baik, lebih benar, atau lebih rohani dari orang lain. Ia menyadari bahwa semua yang dimilikinya: kemampuan, jabatan, pelayanan, bahkan napas hidup, berasal dari Tuhan. Kesadaran ini membuatnya tidak meninggikan diri, tetapi selalu bersyukur dan bergantung kepada-Nya.

Dalam bahasa Yunani, kata “rendah hati” berasal dari tapeinos, yang berarti “rendah di hadapan Tuhan”, bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar siapa dirinya. Sedangkan kata “menentang” berasal dari antitassō, artinya “berbaris melawan.” Jadi, kesombongan menempatkan seseorang dalam posisi berhadapan langsung dengan Allah. Tentunya ini adalah sebuah posisi yang berbahaya. Sebaliknya, orang yang rendah hati menerima anugerah Tuhan, berupa kekuatan, pertolongan, dan kehadiran-Nya yang nyata.

Yakobus menulis ayat ini setelah menegur jemaat yang sibuk bertengkar dan membandingkan diri. Mereka berlomba menjadi yang paling berpengaruh dan mengabaikan esensi kasih. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Kadang tanpa sadar kita juga terjebak dalam persaingan rohani, ingin diakui, atau merasa pelayanan kita lebih penting. Padahal hadirat Tuhan tidak dapat kita rasakan dan alami di tengah keangkuhan, tetapi di tengah hati yang mau dibentuk dan disembuhkan.

 

Kesombongan membawa dampak besar, baik secara rohani maupun dalam relasi. Orang yang sombong menolak ketergantungan kepada Tuhan, merasa mampu mengatur hidup sendiri, sulit menerima arahan, dan enggan dikoreksi. Dalam komunitas, kesombongan menimbulkan iri hati, perpecahan, dan saling menjatuhkan. Orang yang tinggi hati pun sulit mendengar suara Roh Kudus karena lebih sibuk dengan pikirannya sendiri. Kesombongan menutup pintu anugerah dan membuat seseorang kehilangan damai, sebab ia berjuang mempertahankan pengakuan manusia, bukan perkenanan Tuhan (Gal. 1:10; Yoh. 12:43).

Sebaliknya, kerendahan hati bisa dimulai dari hal sederhana. Dalam doa, mintalah bukan hanya pemenuhan keinginan, tetapi hati yang lembut untuk mengikuti kehendak Tuhan. Dalam pelayanan, jangan mencari pujian; jika orang lain lebih dipakai, belajar bersyukur dan mendukung. Dalam keluarga atau pekerjaan, ketika berbeda pendapat, tahan diri untuk tidak ingin menang sendiri. Pilih mendengar lebih banyak daripada berbicara. Yang terpenting, setiap hari akui bahwa tanpa Tuhan, kita tidak bisa apa-apa.

Kerendahan hati bukan sekadar kesopanan, tapi salah satu kunci membuka pintu hadirat Tuhan. Tuhan tidak mencari yang paling pintar atau berbakat, melainkan hati yang mau tunduk dan taat. Mari kita ambil waktu menundukkan hati di hadapan Tuhan, mengakui ketergantungan kita pada-Nya. Sebab di mana ada kerendahan hati, di situlah Tuhan berdiam, dan di sanalah kasih karunia-Nya mengalir tanpa batas. Amin! (DL)