KEEP THE FIRE BURNING

Posted by Admin 2025-09-15

blog-post-image

KEEP THE FIRE BURNING

 

Tiga puluh tujuh tahun perjalanan GBI Jalan Jenderal Gatot Subroto adalah bukti nyata kesetiaan Tuhan. Gereja ini bukan sekadar sebuah jemaat lokal, tetapi telah menjadi pusat gerakan rohani yang melahirkan dampak global. Dari altar inilah api doa, pujian dan penyembahan dinyalakan, lagu-lagu rohani lahir, dan atmosfer profetik dipancarkan hingga melintasi bangsa-bangsa. Mazmur 22:4 menegaskan, “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” Gereja ini dipanggil bukan hanya untuk menyembah, tetapi juga menjadi tempat kehadiran Allah yang nyata.

Namun, di tengah arus zaman, penyembahan sering direduksi hanya menjadi musik, tren, atau sekadar tontonan panggung. Banyak umat Tuhan menikmati musik, tetapi tidak semua masuk ke dalam perjumpaan pribadi dengan Allah. Indonesia, dengan ribuan gereja, masih berjuang agar doa, pujian, dan penyembahan menjadi gaya hidup, bukan sekadar liturgi. Pertanyaan yang harus kita renungkan: mampukah kita tetap menjaga api sebagai pusat restorasi penyembahan tetap menyala?

 

Yesus berkata dalam Yohanes 4:23-24, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Penyembahan sejati ditentukan oleh hati yang menyatu dengan Roh Kudus dan hidup dalam kebenaran.

GBI Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta dipanggil bukan hanya menghasilkan lagu atau pelayanan musik yang terkenal, tetapi untuk menegakkan standar ilahi penyembahan sejati—yang memulihkan bangsa, open heaven, dan membawa atmosfer hadirat Allah ke seluruh dunia.

 

Apa yang dapat kita lakukan sebagai jemaat untuk terus menjaga api ini tetap menyala?

  1. Menjadikan Doa, Pujian, dan Penyembahan sebagai Gaya Hidup Pribadi, Penyembahan tidak berhenti pada altar gereja, tetapi menjadi napas sehari-hari. Saat doa, pujian, dan penyembahan menjadi gaya hidup, hadirat Tuhan akan menyertai setiap langkah kita. “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  (1 Tesalonika 5:16-18)
  1. Menjadi Pembawa Hadirat-Nya (His Presence Carriers) Dunia haus akan kehadiran Allah. Kita dipanggil bukan hanya untuk bernyanyi, tetapi membawa hadirat-Nya sehingga ke mana pun kita pergi, atmosfer Kerajaan Allah nyata dan kuasa-Nya bekerja. (1 Sam. 16:23; Kis.5:15-16; 16:25-26) “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.” (1 Sam. 16:23)
  1. Melahirkan Generasi Pendoa, Pemuji dan Penyembah Baru, Api penyembahan harus diwariskan. Gereja ini dipanggil melahirkan generasi muda yang bukan sekadar berbakat, tetapi hidup kudus dan menyembah dalam roh. “Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.” (Mzm. 145:4)

 

Usia 37 tahun bukanlah angka kebetulan. Ini adalah tonggak gelombang baru penyembahan yang akan lebih besar daripada sebelumnya. Tuhan sedang mencari penyembah sejati, dan GBI Gatot Subroto telah dipanggil menjadi pionir restorasi ini di Indonesia bahkan ke bangsa-bangsa. Mari kita renungkan, “apakah hidupku sudah menjadi penyembahan sejati? Apakah hadirat Tuhan nyata lewat hidupku, ataukah hanya sebatas lagu di bibir?”

Hari ini, mari kita serahkan hidup kita kembali di altar-Nya. Jadikan diri kita bukan sekadar penonton penyembahan, tetapi penyembah-penyembah yang membawa hadirat Allah ke bangsa-bangsa. (DL).