HIDUP S'BAGAI PENYEMBAH

Posted by Admin 2026-07-10

blog-post-image

Hidup sebagai Penyembah

 

Minggu lalu kita sempat belajar bahwa mengenai penyembahan dapat kita mengerti ada dalam dua bentuk, yaitu penyembahan dalam pengertian besar, yaitu mempersembahkan hidup kita sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, dan penyembahan dalam pengertian spesifik yaitu ekspresi doa, pujian, penyembahan dan juga persembahan. Minggu ini kita akan belajar bagaimana kita menjalan hidup kita sebagai seorang penyembah.

 

1. Cara hidup penyembah sejalan dengan penyembahannya (baca Yohanes 4:23-24)

Kehidupan sebagai seorang penyembah tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup yang dijalaninya. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Allah, namun cara dia menjalani hidupnya sehari-hari tidak sejalan dengan sosok Allah yang ia sembah. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Tuhan Yesus, tetapi gaya hidupnya tidak mencerminkan Tuhan Yesus yang ia sembah.

Tuhan Yesus dengan tegas berkata di ayat 24, “Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Kata “dalam roh” menunjukkan bahwa seorang yang mengklaim dirinya penyembah haruslah sungguh-sungguh hidup, hatinya dan rohnya diarahkan oleh Roh Kudus.

Seorang penyembah yang memilih mengindahkan arahan atau nasihat Roh Kudus, harus berhati- hati jangan sampai akhirnya hal itu semakin banyak dan mengeraskan hatinya sehingga tidak lagi mau diarahkan oleh Roh Kudus. Kata “dalam kebenaran” merujuk bahwa seorang penyembah haruslah sungguh-sungguh menuruti firman Tuhan, yaitu menuruti dan meneladani Yesus Kristus. Yesus adalah Sang Firman itu sendiri (baca Yohanes 1:1, 14).

Jadi menuruti firman Tuhan sama dengan meneladani Tuhan Yesus. Hal ini mungkin saudara sering dengar, tetapi sebenarnya ini artinya sangat dalam, karena meminta kita untuk meninggalkan gaya hidup kita yang lama dan menjalani hidup kita sekarang sebagaimana yang Tuhan Yesus ajarkan dan tunjukkan.

Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan baik dalam Efesus 4:20-23, “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,”

Menjadi seorang penyembah bukan sekedar menjadi seorang yang lebih “baik”, tetapi menjadi pribadi yang mau meninggalkan kehidupan lamanya yang telah ditebus dari dosa oleh Kristus, menjadi pribadi yang mau diperbaharui roh dan pikirannya oleh Roh Kudus, sesuai dengan kebenaran firman, yaitu ajaran dan teladan Yesus. Jadi, sekali lagi, menjadi seorang yang mengklaim penyembah dan di dalam Yesus, bukanlah sekedar menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi menjadi lebih baik sesuai tuntunan Roh dan kebenaran.

 

2. Hidupnya mengarah pada satu target: perkenanan Tuhan (baca Roma 12:1)

Rasul Paulus mengajarkan dengan presisi dan tepat bagaimana seorang penyembah menjalankan hidupnya. Roma 12:1 dimulai dengan kata: “Karena itu”. Apa yang ia maksudkan dengan dua kata ini? Dua kata ini menunjukkan pada perihal anugrah keselamatan yang Allah berikan, yang dibahas Paulus secara panjang lebar di kesebelas pasal sebelumnya.

Karena kita sudah menerima anugrah keselamatan, kita dinasihatkan untuk mempersembahkan diri kita (dari pengertian kata “tubuh”) kepada Allah, itulah penyembahan (dari pengertian kata “ibadah”) kita yang sejati. Persembahan diri macam apa yang kita persembahan kepada Allah? Cara hidup yang bagaimana yang hendaknya kita jalankan sehingga itu menjadi cerminan seorang penyembah/penerima anugrah keselamatan? Ada 3 (tiga) kata kunci yang Paulus ajarakan: hidup, kudus dan berkenan kepada Allah.

• Hidup (Yunani: zao), yaitu menjalani keseharian hidup sebagai orang yang sudah ditebus dari kematian rohani, sebaliknya hidup dalam sukacita dan penuh pengharapan di dalam Kristus. Jangan berputus asa dan putus pengharapan, karena kita telah diselamatkan oleh Allah yang hidup, dan kini memiliki hidup yang berarti, baik di bumi maupun kelak dalam kekekalan.

• Kudus (Yunani: hagios), yaitu menjalani keseharian hidup terpisahkan dari gaya hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah dan duniawi. Hidup kudus artinya tidak kompromi terhadap cara-cara dunia yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan, yang artinya memilih untuk tetap mengikuti kebenaran firman dan teladan hidup Yesus; tidak ikut-ikutan cara dunia apapun resikonya (misal: ditolak, dicaci, dianggap sok suci dsb.).

• Berkenan (Yunani: euarestos), yaitu menjalani keseharian hidup sejalan dengan keinginan Roh Kudus. Kita mempersembahkan diri kita sebagai rumah yang telah mati kepada dosa dan kini sebagai rumah Roh Kudus. Setiap kali kita menjalankan keseharian hidup atau mengambil keputusan tertentu: apakah yang akan saya lakukan ini untuk menyenangkan diri sendiri, mencari persetujuan orang lain atau dikenan Tuhan? Ingatlah, tujuan hidup kita sebagai penyembah bukanlah mencari penerimaan dunia tetapi perkenanan Tuhan.

 

3. Hidupnya mencerminkan sifat-sifat Allah yang disembahnya (Mikha 6:8) Konteks sederhana dari ayat kita baca adalah teguran nabi Mikha kepada Israel yang hidupnya tidak sesuai dengan penyembahan yang mereka lakukan kepada Allah Israel (yang sekarang kita sembah dalam nama Yesus Kristus). Mereka mengklaim telah memberikan banyak korban bakaran, tetapi Allah tetap tidak berkenan. Mengapa? Karena kehidupan mereka tidak mencerminkan sifat-sifat Allah yang mereka klaim mereka sembah.

Dari ayat 8 yang kita baca, nabi Mikha mengingatkan bahwa Allah menuntut hidup kita mencerminkan sifat Dia yaitu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati.

• Berlaku adil (Ibrani: mishpat), yaitu tidak memihak dan jujur dalam memperlakukan sesama manusia. Sikap-sikap seperti korupsi, berbohong, manipulatif, menipu, mencuri, “amplop bawah meja”, bukanlah sikap-sikap yang mencerminkan jati diri seorang penyembah/pengikut Allah. Kita diminta untuk bersikap adil, atau dengan kata lain berintegritas.

Ingatlah, seringkali di kehidupan sehari-hari, lawan kata dari integritas adalah “jalan pintas”. Hindari itu dan jangan ikuti gaya hidup demikian. Anda adalah seorang pengikut dan penyembah Kristus!

• Mencintai kesetiaan (Ibrani. khesed), yaitu memilih untuk mengutamakan kebaikan, kemurahan hati dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari. Secara spesifik ini merujuk kepada setia kepada Tuhan, apapun yang terjadi dan apapun harga yang dibayar untuk kesetiaan ini, tetapi ini juga merujuk kepada kebaikan dan kemurahan hati kepada semua orang.

Di dalam konteks Israel pada itu, kesetiaan juga merujuk pada kesetiaan suami-istri. Sebenarnya apa yang terjadi pada zaman itu, sedang terulang kembali pada zaman ini dimana banyak orang menganggap remeh perihal kesetiaan perkawinan dan melakukan perceraian, atau setuju dengan perceraian. Itu bukanlah mencerminkan sifat Allah.

• Hidup rendah hati (Ibrani. tsana), yaitu penuh hormat kepada Allah dan sadar dengan penuh bahwa tanpa Dia, hidup kita tidak ada apa-apanya. Sikap ini juga nampak di dalam interaksi sosial, seperti tidak sombong atau sok tahu. Teladan terbaik mengenai sifat ini tampak nyata dalam kehidupan Yesus, yang sekalipun Allah dan setara dengan Bapa, namun menunjukkan kerendahan hati di depan Bapa.

Refleksi Akhir Jika kita perhatikan dan renungkan, banyak hal yang sebenarnya bisa kita “titipkan” untuk kita persembahkan kepada Allah. Kita bisa menitipkan uang persembahan, persepuluhan, bahkan persembahan sulung atau donasi untuk membantu sesama yang dalam berkekurangan, melalui orang lain atau pihak ketiga untuk disampaikan.

Tetapi, penyembahan harus kita persembahkan sendiri. Tidak ada yang bisa mewakili pujian dan penyembahan-Mu kepada Tuhan, dan tidak ada yang bisa mewakili bagaimana engkau menjalani hidupmu sehari-hari di hadapan Tuhan maupun manusia. Itu harus kita lakukan sendiri masing-masing. Karena itu, jalanilah hidupmu sebagai penyembah. Amin. (CS)

 

Pertanyaan Diskusi

Sekalipun engkau ingin hidup mencerminkan Allah dalam pekerjaan/aktifitasmu, menurutmu faktor yang membuatmu sukar untuk melakukannya di sana? Adakah contoh atau pergumulan yang kau hadapi tentang hal ini saat ini? Bagaimana engkau mengatasinya? Bagikan pergumulan dan kisahmu.