HIDUP DALAM KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG BENAR
Posted by Admin 2026-10-02
HIDUP DALAM KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG BENAR
“Namun, jika kamu menganggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah: ilah-lah yang kepada kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat, atau ilah-ilah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini? Tetapi, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Yosua 24:15 TB2
Satu hal doktrin yang terungkap dari Alkitab adalah setiap manusia diciptakan dan dianugrahka Allah dengan kehendak bebas (free-will). Namun, bukan artinya manusia bebas berkehendak. Setiap anugrah yang Allah berikan harus dipergunakan dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan tuntunan Allah. Misal, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih dan menentukan siapa yang menjadi pasangan hidupnya (suami/istri); tetapi itu bukan artinya bebas memilih siapa saja dan memperlakukan dia dengan seenaknya.
Alkitab jelas mengajarkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih pasangan hidup dan bagaimana suami-istri-anak menjalankan peran mereka dalam terang kasih dan kebenaran Tuhan. Termasuk dalam kehendak bebas ini, manusia bebas memilih kepada siapa mereka akan menyembah; kepada TUHAN atau kepada ilah lain. Kebebasan ini bukan artinya tidak ada konsekuensi dari keputusan yang ambil.
Selalu ada konsekuensi --baik atau buruk-- dari keputusan yang kita ambil. Kehidupan yang kita jalani adalah konsekuensi dari kumpulan dan rangkaian berbagai keputusan yang kita ambil. Yosua mengerti prinsip ini dengan baik. Itulah sebabnya, di pidato perpisahannya kepada seluruh bangsa Israel yang telah ia pimpin masuk ke tanah perjanjian oleh karena TUHAN yang memampukan dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk merebut tanah perjanjian, Yosua menantang Israel apakah tetap mau beribadah kepada TUHAN atau kepada ilah-ilah yang disembah nenek moyang mereka (artinya nenek moyang Abraham).
Bahkan setelah mereka melihat dan merasakan sendiri tangan TUHAN yang dahsyat yang menyertai dan memberi mereka kekuatan, Israel tetap memiliki kehendak bebas untuk memilih kepada siapa mereka akan beribadah, dengan segala konsekuensinya. Yosua dan keluarganya memilih untuk tetap setia beribadah kepada TUHAN, namun sayangnya, walaupun bangsa Israel berjanji akan melakukan hal yang sama, tetapi narasi kitab Hakim-hakim, 1-2 Samuel, 1-2 Tawarikh, menunjukkan bangsa itu tidak konsisten dan setia dengan janji yang mereka buat dan sangat kerap berpaling dari TUHAN yang telah menjaga, merawat dan mengasihi mereka dengan luar biasa.
Sepanjang bulan ini kita akan belajar bagaimana melawan godaan-godaan duniawi. Faktanya bahwa godaan-godaan duniawi akan selalu ada, tetapi apakah itu akan mempengaruhi hidup kita, tergantung dengan keputusan kita menyikapinya. Itulah sebabnya, langkah pertama untuk dapat melawan godaan duniawi adalah memahami terlebih dahulu bahwa keputusan-keputusan yang kita ambil di dunia ini akan berdampak bagi kehidupan kita. Godaan tetaplah godaan, tetapi godaan menjadi hal yang menjatuhkan kalau kita memutuskan “ya” mengikuti godaan tersebut.
1. Keputusanmu untuk mendahulukan/menempatkan Tuhan di tempat terutama dan pertama atau tidak, akan mempengaruhi hidupmu (baca Kolose 3:1-10).
Rasul Paulus dalam hikmat Roh Kudus menulis surat kepada jemaat di Kolose. Tantangan yang dihadapi jemaat Kolose adalah godaaan pengajaran palsu dan gaya hidup duniawi yang kuat di daerah tersebut. Paulus mengingatkan jemaat agar tidak terjerumus dalam ajaran palsu dan gaya hidup duniawi yang justru dari hal tersebut mereka telah diselamatkan oleh Kristus.
• Perhatikanlah pada ayat 1 dan 2 Paulus menekankan agar mereka memilih untuk mencari dan memikirkan hal-hal yang surgawi (“diatas”) dan bukan duniawi (“dibawah”). Mengapa mereka diminta untuk mencari dan memikirkan hal-hal yang surgawi, yaitu hal-hal yang dikehendaki dan dikenan oleh Kristus, adalah karena mereka telah ditebus dari hal itu oleh Kristus sehingga mereka hendaknya “mati” terhadap godaan-godaan duniawi (ayat 3 dan 5).
• Apa saja godaan duniawi yang kuat mencoba jemaat Kolose kembali jatuh ke dalamnya? Godaan dan cara hidup duniawi tersebut dijabarkan Paulus di ayat 5-9.
• Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan Kristus, maka Kristus lah yang menjadi hidup kita saat ini (ayat 4) dan kita sedang terus-menerus diperbarui supaya semakin serupa dengan-Nya (ayat 10).
Kita pun saat ini diperhadapkan pada pilihan: apakah mau menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita, atau sebagai yang “kesekian”? Kalau Kristus adalah di tempat terutama dan pertama dalam hidup kita, maka pengelolaan waktu, energi, keuangan dan ibadah kita pasti jadi benar. Kita akan memberi waktu terbaik untuk saat teduh, tidak keberatan memberi potongan pertama pendapatan kita dalam bentuk persepuluhan kepada Tuhan, tidak menghindar atau mencari alasan tidak beribadah hari Minggu, dan lain sebagainya kalau Kristus menjadi yang terutama dan pertama dalam hidup ini.
Sebaliknya, kalau Kristus bukan yang terutama dan pertama dalam hidup kita, maka dengan mudah kita bisa jatuh dalam gaya hidup, pengelolaan keuangan dan waktu yang duniawi, alias tidak sesuai dengan tuntunan firman Tuhan. Jika kita perhatikan dengan baik, sebenarnya hanya ada dua pilihan dari apa yang diajarkan Paulus: entah Kristus ada di tempat paling atas dalam hidup kita dan pusat hidup kita, atau kita justru menempatkan kehidupan duniawi sebagai yang utama.
Tidak mungkin kedua-duanya ada pada yang tempat sama dalam hidup kita. Keputusan untuk menempatkan Kristus ditempat utama dalam hidup kita akan membawa kita semakin “ke atas”, tetapi menempatkan Kristus tidak ditempat utama dalam hidup kita akan membawa kita semakin “ke bawah”. Mana yang kita pilih? Mana yang saudara akan putuskan?
2. Keputusanmu untuk bergaul dengan siapa atau apa, akan mempengaruhi kualitas hidupmu (bacalah Mazmur 1).
Teks yang sering kita baca dan nyanyikan ini, memuat pengertian dan juga peringatan yang dalam bagi kita. Pemazmur langsung mengingatkan di ayat 1 kita agar tidak mengikuti kelakuan orang-orang fasik dan orang-orang yang hidup dalam dosa, bahkan masuk dalam bilangan mereka, tetapi sebaliknya hidup kita ada di dalam dan dituntun oleh kebenaran (ayat 2). Prinsip yang sama di ayat 2, yaitu penempatan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup, juga jelas terlihat.
Tuhan memang mengajarkan untuk kita mengasihi sesama kita manusia, tetapi siapa yang akan menjadi kumpulan atau lingkar dekat kita, kita perlu bijak untuk memilihnya. Disinilah arti penting COOL menjadi terasa, karena inilah lingkaran yang baik untuk kita dapat bertumbuh bersama. COOL tidak mungkin mengajarkan anggotanya menjadi fasik, melakukan dosa, apalagi mencemooh Allah.
Ini adalah tempat yang baik untuk bertumbuh bersama-sama di dalam kebenaran firman dan tuntunan Roh Kudus. Seringkali kualitas hidup menjadi tidak baik adalah karena salah pergaulan. Sekali lagi, kita mengasihi semua orang, tetapi kita harus memutuskan siapa yang menjadi kumpulan kita atau kita mau meletakkan diri di kumpulan seperti apa. Karena siapa atau apa yang melekat kepada kita, akan mempengaruhi langsung kualitas hidup kita.
Pemazmur dengan sangat jelas menuliskan konsekuensi memiliki kumpulan yang benar (ayat 3) dan konsekuensi buruk berada dalam kumpulan fasik (ayat 5). Rangkumannya ada pada ayat 6. Kumpulan orang yang benar akan berjalan sesuai dengan kebenaran firman, kumpulan orang fasik sudah tentu akan berlawanan dengan kehendak firman Allah.
Ini bukan artinya kita tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang berbeda iman dengan kita, tetapi setiap lingkar pergaulan kita dengan siapapun harus kita uji apakah menjadikan kita pencemooh atau bukan. Lingkar pergaulan kita akan mempengaruhi kita kuat menghadapi godaan dunia, atau justru lingkar pergaulan kita yang menyeret kita melakukan godaan-godaan dunia yang ditentang firman Allah.
Dua keputusan penting ini akan mempengaruhi kualitas hidup kita dibandingkan hal-hal lain dalam hidup: Siapa yang menjadi terutama dalam hidup kita, dan, Siapa yang menjadi lingkar dalam pergaulan kita.
Konsekuensi baik atau buruk, tergantung kepada keputusan-keputusan kita ini. Mampu melawan godaan-godaan dunia, juga tergantung dari keputusan-keputusan kita ini. Mari kita berani mengecek diri kita, sudahkah saya membuat keputusan yang benar? (CS)
Pertanyaan Diskusi:
• Di dalam hal waktu, pengeluaran keuangan dan penentuan dimana anak akan sekolah/kuliah/studi, apakah Tuhan menjadi faktor utama DAN pertama dalam menentukan keputusan?
• Melihat kembali daftar pergaulan/pertemananmu, apakah lingkar dalammu adalah kelompok non-pencemooh atau pencemooh? Mengapa demikian?