DIUTUS KARENA ALLAH MENGASIHI SEMUA ORANG
Posted by Admin 2026-01-23
Sharing Supplemen Januari 3 2026
Diutus karena Allah Mengasihi Semua Orang
Yohanes 20:21; Yeremia 1:7; 1 Timotius 2:3–4
Banyak orang percaya menganggap bahwa penginjilan dan pengutusan adalah tugas pendeta, misionaris, atau pelayan penuh waktu. Akibatnya, tidak sedikit orang Kristen yang hidup nyaman dalam gereja, tetapi pasif terhadap dunia yang sedang binasa. Padahal, sejak awal kekristenan, setiap orang yang diselamatkan oleh Yesus langsung menerima mandat pengutusan. Kasih Allah tidak pernah eksklusif. Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita melihat bahwa hati Allah selalu tertuju kepada semua bangsa, semua suku, dan semua orang. Karena itu, setiap orang yang telah mengalami kasih Kristus dipanggil untuk menjadi saluran kasih itu kepada dunia.
Di zaman kita sekarang, gereja-gereja di berbagai belahan dunia juga menangkap urgensi ini dengan satu kesepakatan besar, yaitu target penyelesaian Amanat Agung 2033. Artinya, generasi kita sedang hidup di masa yang sangat menentukan dalam sejarah misi Allah. Pada kesempatan ini, kita akan melihat dasar alkitabiah terkait bahwa setiap orang percaya diutus oleh Tuhan untuk semua orang melalui tiga kebenaran firman Tuhan berikut ini:
1. Kita diutus sebagaimana Kristus diutus oleh Bapa.
Yohanes 20:21 (TB2), “Kata Yesus sekali lagi, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu."
Kata “mengutus” dalam bahasa Yunani adalah apostellÅ, yang menjadi akar kata “rasul”. Artinya bukan sekadar “disuruh pergi”, tetapi diutus dengan otoritas, tujuan, dan tanggung jawab ilahi. Sangat menarik sekali bagaimana kita melihat bahwa Yesus tidak berkata, “Aku menganjurkan kamu”, tetapi: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu.” Ini adalah paralel pengutusan: Yesus diutus dengan misi penyelamatan, kita juga diutus dengan misi yang sama. Yesus diutus dengan kuasa Roh, kita juga diutus dengan kuasa Roh Kudus. Dengan kata lain, misi gereja adalah perpanjangan langsung dari misi Kristus. Karena itu, pengutusan bukan sekadar kegiatan gereja, melainkan identitas orang percaya.
Dengan pemahaman ini, target penyelesaian Amanat Agung 2033 bukan hanya agenda organisasi gereja, tetapi harus menjadi kesadaran rohani pribadi setiap orang percaya. Ambil contoh, seorang karyawan Kristen bekerja di lingkungan yang keras, penuh manipulasi, dan tekanan hidup. Ia mungkin bukan penginjil mimbar, tetapi ia sedang menjalani penginjilan inkarnasional, yakni menghadirkan Kristus lewat integritas, kasih, dan kesaksian hidup. Karenanya:
• Sadari: “Saya bukan sekadar pekerja/mahasiswa/ ibu rumah tangga. Saya adalah utusan Kristus.”
• Mulailah setiap hari dengan doa pengutusan pribadi.
• Berani berkata “tidak” pada kompromi karena sadar bahwa semua perkataan, tindakan dan cara hidup kita membawa nama Kristus.
2. Pengutusan Tuhan Tidak Bergantung pada Kelayakan, tetapi Ketaatan.
Yeremia 1:7 (TB2), “Akan tetapi, TUHAN berfirman kepadaku: "Jangan katakan: Aku masih muda, tetapi kepada siapa pun Aku mengutusmu, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.”
Yeremia dipanggil saat masih sangat muda, kemungkinan besar masih remaja. Ia merasa tidak cukup matang; tidak cukup mampu; tidak cukup siap. Namun Tuhan menolak semua alasan itu. Dalam bahasa aslinya, kalimat “kepada siapa pun Aku mengutus engkau, haruslah engkau pergi” menekankan ketaatan total tanpa syarat.
Prinsip besar di sini adalah: Pengutusan selalu mendahului kesempurnaan. Allah tidak memilih yang siap, tetapi memampukan yang dipilih. Tidak menunggu kelayakan, tetapi mencari ketaatan. Dalam konteks target penyelesaian Amanat Agung 2033, gereja tidak sedang menunggu generasi paling sempurna, melainkan Tuhan sedang memakai generasi yang paling bersedia taat sekarang. Ada orang yang berkata:
• “Nanti saja kalau saya lebih rohani.”
• “Nanti saja kalau saya sudah ikut sekolah Alkitab.”
• “Nanti saja kalau hidup saya sudah rapi.”
Padahal banyak jiwa binasa sekarang, bukan nanti. Dan Tuhan ingin memakai kita sekarang. Karenanya:
• Hentikan kalimat “nanti”.
• Taat dalam satu langkah kecil hari ini.
• Percaya bahwa kuasa Roh Kudus bekerja justru di tengah kelemahan.
3. Kita diutus karena Allah rindu semua orang diselamatkan.
1 Timotius 2:3-4 (TB2), “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. “
Kata “semua orang” dalam teks Yunani adalah “pantas”, yang berarti tanpa pengecualian sama sekali. Ini menegaskan bahwa: Tidak ada kelompok yang terlalu berdosa untuk diselamatkan; Tidak ada bangsa yang dikecualikan dari kasih Allah; Tidak ada latar belakang yang membatalkan kesempatan keselamatan. Ayat ini juga menunjukkan keseimbangan. “Diselamatkan” berbicara tentang kelahiran baru dan “mengenal kebenaran” berbicara tentang pemuridan. Artinya, misi Allah bukan hanya menambah jumlah orang percaya, tetapi membentuk murid Kristus sejati di semua bangsa.
Inilah esensi dari Amanat Agung dan inilah yang sedang digumuli secara global menuju target penyelesaian Amanat Agung 2033. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita memilih-milih: Mau bersaksi kepada siapa yang “sopan”, Menghindari siapa yang “kotor” dan Takut kepada mereka yang “keras”. Padahal justru orang-orang yang paling rusak sering kali adalah orang-orang yang paling lapar akan kasih sejati. Karenanya:
• Latih mata untuk melihat orang berdosa dengan belas kasihan, bukan penghakiman.
• Bangun persahabatan yang tulus dengan mereka yang belum percaya.
• Doakan, bukan debatkan.
Penutup/Kesimpulan
Kita diutus bukan karena kita sempurna, tetapi karena Allah mengasihi semua orang. Pengutusan bukanlah pilihan tambahan bagi orang percaya, melainkan panggilan utama kita di dunia. Gereja global sedang bergerak menuju target penyelesaian Amanat Agung 2033, tetapi pertanyaannya bukan hanya “apa yang dilakukan gereja?”, melainkan, “Apa yang sedang saya lakukan sebagai pribadi?” Ingat bahwa kita adalah:
• Utusan Kristus (Yohanes 20:21)
• Dipakai bukan karena layak, tetapi karena taat (Yeremia 1:7)
• Digerakkan oleh kasih Allah bagi semua orang (1 Timotius 2:3–4)
Amin. (DL)
Pertanyaan Refleksi/Diskusi:
1. Apakah saya masih memandang penginjilan sebagai tugas hamba Tuhan, atau sebagai identitas saya sebagai utusan Kristus?
2. Alasan apa yang paling sering saya pakai untuk menunda ketaatan dalam bersaksi?
3. Dalam target penyelesaian Amanat Agung 2033, bagian apa yang Tuhan ingin saya ambil secara pribadi?
Aksi Selama Seminggu
1. Tuliskan nama 3 orang yang belum percaya dan doakan mereka setiap hari selama 7 hari ke depan.
2. Ambil 1 langkah nyata minggu ini: menghubungi, mengajak bicara, atau mengundang ke COOL atau Ibadah Raya hari Minggu.
3. Katakan dalam doa: “Tuhan, pakai aku sebagai bagian dari penyelesaian Amanat Agung dengan target 2033.”