BERDIRI SEBAGAI PENDOA SYAFAAT
Posted by Admin 2026-09-11
Berdiri sebagai Pendoa Syafaat
Yehezkiel 22:30-31; 1 Timotis 2:1-4
Bulan ini kita membahas perihal doa dan kaitannya dengan penyelesaian Amanat Agung. Oleh karena itu, minggu ini kita akan membahas pentingnya berdiri di hadapan Tuhan sebagai seorang pendoa syafaat. Namun, sebelum kita membahas ini lebih lanjut, kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan pendoa syafaat ini disini adalah peranan kita sebagai orang yang berdoa (berbicara) di hadapan Tuhan demi kepentingan orang lain.
Pendoa syafaat dalam pembahasan kita minggu ini bukanlah mengenai jabatan atau tugas pelayanan spesifik sebagai Pendoa di Gereja; tugas itu memang ada, tetapi ingat, kita semua sebagai jemaat juga adalah Pendoa dan semua kita juga boleh sharing firman Tuhan (bukan hanya tugas/bagian Gembala COOL atau Pengkhotbah saja). Kita telah memahami minggu lalu bahwa berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan.
Saat kita berdoa, Allah dapat intervensi membawa perubahan terhadap hal-hal yang kita doakan. Berdoa syafaat artinya kita berdoa di hadapan Allah bagi orang-orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan, intervensi dan pertolongan Allah, tetapi mereka tidak sadar akan kebutuhan ini sehingga tidak mengajukannya kepada Allah, atau mungkin mereka sadar membutuhkan campur tangan Allah tetapi tidak menaikkannya dalam doa dengan berbagai macam alasan.
Disinilah kita berdiri bagi mereka di hadapan Allah, untuk kebaikan mereka, sebab langsung maupun tidak langsung, permasalahan yang mereka hadapi atau tindakan yang mereka lakukan akan berpengaruh kepada kehidupan kita juga. Kita akan belajar dari dua teks sederhana untuk mengetahui apa saja yang perlu kita doa syafaat-kan.
1. Allah merindukan kita berdiri untuk menaikkan doa syafaat (Yeh. 22:30-31).
Suatu pernyataan yang gamblang yang Allah ungkapkan bahwa Dia sendiri mencari apakah masih ada orang peduli kepada bangsanya (termasuk dalam ini pengertian kepedulian kepada lingkungan, masyarkat dan keluarga) sehingga mau berdiri di hadapan Tuhan memohonkan kasih dan kesempatan bagi bangsanya untuk bertobat; memohon kepada Tuhan untuk memberi kesempatan kembali.
Dari ayat ini kita melihat ada dua tension/tekanan. Allah adalah pribadi yang adil, dan karena keadilan-Nya Ia harus menjalankan hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh umat-Nya. Ini adalah konteks alasan tindakan Allah di Yehezkiel 22. Namun, Allah yang kita sembah juga adalah Allah yang penuh kasih, Dia rindu untuk memberikan kasih-Nya kepada orang-orang yang menginginkan-Nya dari Dia.
Itulah sebabnya Dia mencari adakah orang yang bersedia mendoakan bangsanya oleh karena mengasihi orang-orang sebangsanya, sekalipun banyak diantara bangsanya yang menyakiti hati Allah dengan dosa dan ketidakadilan. Disinilah Allah memanggil umat-Nya yang masih berharap dan percaya kepada-Nya untuk berdiri di hadapan Allah dan memohon belas kasihan-Nya.
Jika tidak ada lagi yang peduli dan tidak ada lagi yang mengasihi, maka Allah sebagai pribadi yang adil harus menjalankan keadilan-Nya, setara dengan kelakukan yang dilakukan orang-orang. Tidak mudah untuk berdiri di hadapan Allah demi sebuah kelompok orang yang mungkin telah menyusahkan hidup kita. Semua kita pernah disakiti oleh orang atau sekelompok orang. Dan Allah yang adalah Bapa kita, pasti membela kita dan dapat membalaskan perbuatan jahat tersebut demi kita, anak- anak-Nya.
Tetapi Allah juga meminta kita untuk bertindak dalam kasih memohonkan belas kasihan-Nya atas orang-orang tersebut. Ini sejalan dengan Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 5:43-45 (bacalah bersama-sama). Saat kita lakukan itu, kita sedang sejalan dengan hati Bapa yang penuh kasih dan membuka jalan bagi pertobatan dan kasih karunia Tuhan Yesus mengalir ke dalam kehidupan orang-orang yang menjahati kita.
Semakin kita banyak mendoakan mereka dengan penuh kasih, maka semakin hidup dan hati kita ditenangkan Tuhan dari rintihan penderitaan kita oleh karena ulah mereka, dan semakin kita justru mengasihi seperti Kristus juga mengasihi mereka dan merindukan pertobatan mereka. Maukah saudara menjawab kerinduan Allah ini? (diskusikan dalam COOL).
2. Allah memanggil kita untuk berdoa syafaat atas pihak atau orang tertentu secara spesifik, karena akan berpengaruh langsung kepada kehidupan kita sendiri (1 Tim. 2:1-4).
Nasihat yang Paulus ajarkan kepada Timotius dalam suratnya ini, merupakan suatu ajaran pula bagi kita. Karena kita telah diselamatkan dan dipanggil untuk melayani Tuhan, maka kita perlu juga berdiri sebagai pendoa syafaat sebagaimana Paulus ajarkan di ayat 1. Perhatikanlah untuk siapa saja kita perlu menaikkah doa syaafat kita:
- semua orang,
- raja-raja (pemimpin level atas),
- pembesar-pembesar (pemimpin masyarakat atau penyelenggara pemerintahan).
Mengapa bersyafaat atas semua orang? Karena kita meneladani kasih Bapa yang juga mengasihi semua orang dunia. Mengapa bersyafaat atas raja-raja dan pembesar-pembesar? Jawaban tegas dan jelasnya ada di ayat 2 yaitu agar kita dapat hidup tenang dan tentram, dalam segala kesalehan dan kehormatan. Kalau kita rindu melihat lingkungan kita, bangsa dan negara kita tenang dan tentram, dan roda pemerintahan di segala level dijalankan dengan kesalehan (benar, bijak dan kudus) dan kehormatan (berwibawa dan tidak memalukan), maka kita harus bersyafaat bagi para pemimpin, baik yang ada level atas atau level dibawahnya.
Selain tindakan ini akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, berdoa syaafat adalah juga kehendak Bapa dan Tuhan Yesus (ayat 3). Pertanyaannya: pokok doa apa yang perlu kita naikkan sebagai syafaat atas orang-orang ini? Paulus jabarkan dalam ayat 4 yaitu: agar semua diselamatkan - yang artinya berserah dan mengikuti Tuhan - dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran - yang artinya menjalankan tugas sesuai dengan prinsip kebenaran firman.
Kita berdoa agar para pemimpin di level apapun, menjalankan tugas mereka dengan benar dan benar sesuai yang Tuhan kehendaki. Kita bersyafaat agar bukan hanya menjalankan hidup dan tugas dengan benar, tetapi benar sesuai dengan prinsip kebenaran firman, dan bahkan mengenal sang kebenaran itu sendiri yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Kunci doa syafaat ini bisa terwujud adalah apakah kita mau mengikuti apa yang Allah kehendaki karena kita mengasihi Dia dan mengasihi sesama, atau kita sudah tidak peduli dan tidak mengasihi lagi sehingga tidak mau lagi bersyafaat. Tuhan Yesus ajarkan bahwa kasih kepada-Nya selalu terkait dengan ketaatan melakukan apa yang Tuhan minta dari kita (baca Yohanes 14:15 dan 1 Yohanes 5:2-3).
Apakah saudara masih mendoakan bangsa ini, termasuk para penyelenggara negara dari tingkat pusat (misal: presiden) hingga pelosok (misal: ketua RT)? Jika ya, doa syafaat apa yang biasanya saudara angkat demi mereka? Jika tidak, mengapa saudara tidak bersyafaat demi mereka? (diskusikanlah dalam COOL).
Apapun perasaan dan pengalaman masa lalu kita terhadap siapapun, janganlah itu membuat kita tidak mau bersyafaat untuk semua orang; siapapun. Ingatlah fokus hidup kita adalah menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan apa yang Ia kenan. Paulus menulis dengan sangat baik perihal kita mau berdiri sebagai pendoa syaafaat: “Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah, Juruselamat kita.” (1Tim. 2:3).
Mari kita semua berdiri sebagai pendoa syafaat di hadapan Allah. Amin. (CS).